Indonesia Aman dari Trumpnomics dan Gangguan Tarif Dagang AS

AKURAT.CO Ada kekhawatiran Jika Donald Trump kembali memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat pada November 2024 mendatang, kebijakan proteksionimse atau lebih dikenal sebagai Trumpnomics pada periode 2017-2020 lalu bakal terulang.
Trump, dengan slogan "America First"-nya, diprediksi akan kembali mendorong proteksionisme yang dapat mengguncang pasar keuangan negara berkembang. Menanggapi hal ini, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto menilai Trump akan tetap konsisten dengan strategi lamanya.
"Trump akan konsisten dengan strategi lamanya, yaitu perang dagang. Ini akan kembali digelorakan jika menang," ujar Eko kepada Akurat.co, Rabu (17/7/2024).
Baca Juga: Trump Berpeluang Besar Jadi Presiden AS, Mata Uang Negara Berkembang Tertekan
Terkait surplus perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat, Eko menjelaskan bahwa perdagangan antara Indonesia dan AS tidak begitu signifikan di mata Amerika Serikat. "Sebenarnya berdagang dengan Indonesia tidak terlalu besar di 'mata' AS, Indonesia tidak masuk 15 besar mitra dagang utama AS, jadi surplus Indonesia dagang dengan AS sepertinya tidak akan mendapat 'gangguan tarif' dari AS," jelas Eko.
Menurutnya, AS lebih fokus menangani ekspor China ke negaranya. Dalam konteks neraca perdagangan Indonesia, Eko menilai bahwa dampak kebijakan Trump dan Biden memiliki perbedaan yang signifikan.
"Kebijakan Trump lebih terkanalisasi di aspek perdagangan, sementara kebijakan Biden dampaknya lebih luas ke geopolitik bahkan hingga perang yang membuat ketidakpastian ekonomi global di segala bidang," kata Eko.
Oleh karena itu, pilihan presiden AS berikutnya akan memiliki implikasi yang berbeda bagi Indonesia dan ekonomi global secara keseluruhan. Sehingga, penting bagi Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perubahan kebijakan perdagangan yang dapat mempengaruhi perekonomian nasional, terlepas dari siapa yang akan terpilih sebagai presiden Amerika Serikat berikutnya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










