Akurat

Indef: 79 Persen Warganet Lihat Utang Pemerintah Sebagai Beban

Silvia Nur Fajri | 4 Juli 2024, 14:58 WIB
Indef: 79 Persen Warganet Lihat Utang Pemerintah Sebagai Beban

AKURAT.CO Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan bahwa mayoritas pengguna media sosial menganggap peningkatan utang sebagai beban. Dari analisis media sosial dan tren pencarian Google, 79% warganet menyatakan bahwa utang menjadi beban, sementara hanya 20,9% yang melihatnya sebagai hal yang bermanfaat.

Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto, menyebutkan bahwa hasil ini diperoleh melalui analisis terhadap 18.997 akun media sosial yang terlibat dalam 22.189 percakapan pada periode 15 Juni hingga 1 Juli 2024.

“Data ini kami peroleh dari Twitter, bukan dari buzzer, tetapi dari perbincangan yang lebih alami. Dari 22.189 perbincangan, 79% netizen menganggap utang pemerintah sebagai beban," kata Eko dalam diskusi publik Indef, Kamis (4/7/2024).

Baca Juga: Utang RI Bertambah Lebih dari Rp5.000 T Sejak 2014

Selain itu, Eko juga menyebutkan bahwa pencarian kata kunci "utang negara" di Google mencapai lebih dari 218.000 kali dari 19 Juni hingga 1 Juli 2024, menunjukkan tingginya perhatian publik terhadap isu utang negara.

Posisi utang pemerintah kembali meningkat pada akhir Mei 2024, mencapai Rp8.353,02 triliun, bertambah Rp14,59 triliun atau meningkat 0,17% dibandingkan dengan akhir April 2024 yang sebesar Rp8.338,43 triliun. 

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, total utang yang jatuh tempo pada tahun 2025 mencapai Rp800,33 triliun, yang terdiri dari utang surat berharga negara (SBN) sebesar Rp705,5 triliun dan utang pinjaman sebesar Rp100,19 triliun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan utang jatuh tempo tahun ini yang sebesar Rp434,29 triliun.

Eko menjelaskan bahwa 79% warganet menganggap utang sebagai beban karena sebagian besar digunakan untuk proyek yang dianggap non-prioritas dan tidak menguntungkan, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). 

“Dengan situasi sekarang dan tahun depan, utang yang jatuh tempo cukup besar dan perlu menjadi perhatian pemerintah," ungkapnya.

Namun, 20,9% warganet menganggap utang tersebut bermanfaat karena dinilai dapat memberikan manfaat pada pembangunan nyata, seperti pembangunan jalan tol. Selain itu, mereka menilai rasio utang Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jepang. 

“Meskipun rasio utang Indonesia lebih rendah dari Jepang dan Amerika Serikat, kita harus mempertimbangkan bahwa Jepang adalah negara maju dengan produktivitas tinggi," tambah Eko.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.