APBN 2026 Patok Pertumbuhan Ekonomi 5,4 Persen, Indef: 5 Persen Realistis

AKURAT.CO Studi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkap proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026 sebesar 5%, di bawah target pemerintah 5,4%.
Direktur Program Indef, Eisha Maghfiruha Rachbini, mengatakan proyeksi ini didasari berbagai kondisi real saat ini. "Ini kenyataannya realistis, tidak berlebihan," ujar Eisha di sela diskusi bertajuk "Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan" di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Setidaknya, lanjut Eisha, ada 4 faktor pendorong proyeksi tersebut. Pertama, ketidakpastian global yang kian meningkat (geopolitik, perlambatan China, fragmentasi perdagangan) sehingga menekan ekspor, arus modal, dan nilai tukar.
Baca Juga: BI Upgrade Outlook Pertumbuhan Ekonomi RI 2025 Jadi 4,7-5,5 Persen, Kuartal IV Menguat
Kedua, pemulihan konsumsi domestik masih rapuh akibat tekanan harga pangan, energi dan daya beli yang belum pulih kuat. Saat ini, konsumsi rumah tangga mandek di bawah 5% dalam 8 kuartal terakhir.
Sub-sektor yang menunjukkan leisure (wisata) juga belum menunjukkan perbaikan, seperti restoran dan hotel dan transportasi dan komunikasi.
Padahal sub-sektor tersebut diperkirakan meningkat seiring pemberian stimulus fiskal untuk sektor transportasi dan subsidi upah di bulan Juni-Juli 2025. Hal ini juga terkonfirmasi dari Indeks Keyakinan Konsumen yang dalam tren menurun.
"Selain itu capaian realisasi penerimaan perpajakan neto atas PPN & PPnBM hingga September 2025 menunjukkan perlambatan atau kontraksi 13,2 persen dibandingkan periode yang sama di 2024," ujar Eisha.
Faktor selanjutnya, investasi belum ekspansif dan kurang produktif, masih bertumpu pada proyek padat modal dengan efek pengganda kecil. Terakhir, pasar tenaga kerja rapuh (didominasi informal, skill mismatch), sehingga kenaikan pendapatan rumah tangga terbatas.
"Ada peningkatan jumlah pekerja tidak penuh, baik setengah pengangguran dan pekerja paruh waktu. Ini menunjukkan meningkatnya pengangguran terselubung atau penduduk bekerja tapi produktivitas rendah," timpal Eisha.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










