Rupiah Tutup Pekan dengan Penguatan 67 Poin ke Rp16.195 Karena Sentimen Ini

AKURAT.CO Rupiah ditutup naik 67 poin ke level Rp16.195 pada perdagangan Jumat, 7 Juni 2024 karena terdorong berbagai sentimen eksternal.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa sentimen terhadap aset-aset berbasis risiko membaik di minggu ini menyusul penurunan suku bunga Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Kanada.
Di mana dirinya menjelaskan Greenback terpukul oleh lemahnya data perekonomian, terutama pada sektor tenaga kerja, yang meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan semakin percaya diri untuk memangkas suku bunga tahun ini.
"Pedagang terlihat secara tajam meningkatkan taruhan mereka pada pemotongan 25 basis poin pada bulan September. Data tenaga kerja yang lemah juga muncul menjelang data nonfarm payrolls yang akan dirilis pada hari Jumat, yang akan menawarkan isyarat yang lebih pasti mengenai pasar tenaga kerja dan suku bunga," ucapnya melalui keterangan tertulis, Jumat (7/6/2024).
Baca Juga: Rupiah Kembali Nanjak 23 Poin ke Rp16.263
Tak hanya itu saja, lanjutnya, The Fed juga akan mengadakan pertemuan minggu depan. Diperkirakan, Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. "Oleh karena itu saat ini pasar sedang menunggu komentar dari gubernur bank sentral yang akan dijadikan sebagai patokan ke depan tentang apakah akan mempertahankan suku bunga atau menurunkan suku bunga di bulan september," paparnya.
Lalu mengacu di wilayah Asia, tambahnya, menurut rilis data perdagangan China diluar dugaan mengalami perbaikan. "Ekspor China tumbuh lebih besar dari perkiraan pada bulan Mei, didukung oleh kuatnya produksi industri dan permintaan luar negeri. Hal ini menyebabkan neraca perdagangan negara tersebut juga mencatat surplus yang lebih besar dari perkiraan," paparnya kembali.
Meskipun begitu pertumbuhan impor China jauh lebih lambat dari perkiraan, hal ini menunjukkan bahwa permintaan lokal masih lemah karena perekonomian secara luas bergulat dengan pemulihan ekonomi yang tidak merata.
"Sentimen terhadap China kian memburuk dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya keraguan atas pemulihan ekonomi di negara tersebut dan langkah-langkah stimulus yang lebih banyak dari Beijing," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








