Akurat Logo

Ekonom Sebut RI Jauh dari Potensi Krisis Ekonomi

M. Rahman | 25 Februari 2024, 18:07 WIB
Ekonom Sebut RI Jauh dari Potensi Krisis Ekonomi

AKURAT.CO Chief Economist PermataBank, Josua Pardede menegaskan Indonesia jauh dari potensi krisis ekonomi. Bahkan kemungkinan potensi krisis tersebut juga sangat kecil, masih di bawah 5%.

Hal tersebut diungkapkan menanggapi sejumlah berita kenaikan harga beberapa barang yang disebut memicu krisis perekonomian Indonesia.

Josua menegaskan beberapa berita kenaikan barang baik BBM dan listrik tidak semuanya benar. Ia melihat untuk peluang kenaikan harga BBM, BBM jenis ron 90 atau Pertalite masih akan dipertahankan di level saat ini.

Baca Juga: Lawan Krisis Ekonomi, Relawan Sandi Uno Hadirkan Bazar Sembako Murah Bagi Petani Di Pangalengan

Sekalipun memang ada kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional, ini akan lebih memengaruhi BBM non subsidi yang volume atau konsumsinya terhadap total keseluruhan cenderung terbatas. Sehingga sekalipun ada kenaikan inflasi yang disebabkan oleh harga BBM non subsidi, dampaknya tidak akan signifikan.

Menurut Josua, terkait tarif listrik sendiri akan tetap di level sekarang hingga Maret 2024. Lalu dari sisi tarif tol meski ada potensi kenaikan tarif namun dampaknya tidak akan masif serupa dengan kondisi di BBM non subsidi. 

Lalu terkait harga beras memang ada kecenderungan harga yang masih akan dipengaruhi oleh faktor el nino. Untuk itu pihaknya melihat inflasi bulan Februari 2024 yang akan dirilis BPS di awal Maret, ada kecenderungan bahwa inflasi pangan masih relatif tinggi. Namun secara keseluruhan dan sesuai konsensus, inflasi pangan ataupun inflasi secara keseluruhan masih tetap terjaga di bawah 3%.

Josua melihat kenaikan harga bahan pokok sendiri berkaitan dengan seasonality atau faktor musiman. Sebelum panen raya besar di Maret atau April 2024 nanti, lazimnya memang harga pangan cenderung mengalami kenaikan. Namun ini akan normal lagi nanti setelah dampak el nino sudah selesai di bulan Maret-April 2024. Setelah itu mestinya harga pangan akan normalisasi juga.

"Sehingga kalau kita melihat sekalipun ada potensi kenaikan-kenaikan harga tersebut namun dampaknya relatif terbatas. Dan apakah ekonomi Indonesia terindikasi krisis? Saya pikir sangat jauh potensinya ataupun probabilitynya kurang dari 5 persen," kata Josua kepada Akurat.co, Minggu (25/2/2024).

Ditambahkan, dari sisi konsumsi masyarakat sendiri jika mengacu pada survei konsumen dan survei penjualan eceran BI, keduanya tidak menunjukkan hal-hal yang mengkhawatirkan atau dalam hal ini terjadi penurunan daya beli masyarakat yang sangat signifikan.

Pun dengan tingkat pengangguran yang diisukan sudah mengkhawatirkan Josua menilai tidak benar.

Adapun terkait isu kemampuan belanja pemerintah yang rendah, menurutnya justru sejauh ini ruang belanja pemerintah masih cukup tinggi. Sebagaimana pernyataan Menkeu Sri Mulyani baru-baru ini, realisasi APBN sementara di bulan Januari 2024 masih surplus sehingga tidak ada hambatan bagi pemerintah untuk mendorong spending khususnya yang produktif sehingga tidak terindikasi bahwa ada hal yang mengkhawatirkan.

 

Sementara terkait isu depresiasi rupiah juga menurut Josua tidak benar sama sekali. Mengacu data Bloomberg, rupiah saat ini menjadi salah satu mata uang Asia yang tingkat pelemahannya relatif terbatas. Secara Year to Date atau YtD, pelemahan rupiah sekitar 1,3% saat ini bahkan kemarin di penutupan Jumat lalu di bawah Rp15.600 tepatnya Rp15.595. 

Dibanding yen Jepang melemah 6%, won Korea Selatan 3%, ringgit Malaysia 3,8%, bath Thailand hampir 5%, dolar Taiwan lebih dari 3%, depresiasi rupiah Indonesia jauh lebih rendah. 

Di sisi pasar saham pun saat ini masih menguat tipis dibanding akhir 2023 ke 7.295 menguat 0,3%. Kemudian aliran modal asing atau foreign flow di pasar saham tercatat USD1,35 miliar hingga 23 Februari 2024 lalu. Lalu di pasar obligasi kepemilikan asing sedikit turun ke USD414 juta tapi secara keseluruhan masih di kisaran USD900 juta secara YtD.

"Makanya rupiah tidak melemah dalam seperti yang diberitakan. Jadi kalau dikatakan rupiah melemah itu tidak benar," imbuh Josua.

Terakhir dari sisi perlembatan pertumbuhan ekonomi, menurut Josua pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2024 dan 2024 secara keseluruhan masih akan tetap dalam kisaran 5% karena kuartal I-2024 masih ditopang aktivitas kampanye dan secara keseluruhan nanti pasca pemilu semester II-2024 dan juga ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral AS dan BI. Investasi pun diperkirakan akan meningkat dan kami harapkan juga dari sisi konsumsi masyarakat akan tetap terkendali.

"Jadi secara keseluruhan dalam beberapa pemberitaan isinya hoax dan tidak ada evidence yang meyakinkan sehingga kami sekali lagi mengatakan bahwa ekonomi Indonesia jauh dari potensi krisis," tegas Josua.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa