Akurat

Resesi, Posisi Jepang sebagai Ekonomi Terbesar Ketiga Dunia Disalip Jerman

Silvia Nur Fajri | 15 Februari 2024, 15:47 WIB
Resesi, Posisi Jepang sebagai Ekonomi Terbesar Ketiga Dunia Disalip Jerman

AKURAT.CO Jepang secara tak terduga terjerembap ke dalam resesi setelah ekonominya menyusut selama dua kuartal berturut-turut.

Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut turun sebesar 0,4% pada kuartal terakhir tahun 2023 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah sebelumnya mengalami penurunan sebesar 3,3% pada kuartal sebelumnya.

Akibatnya, Jepang kini telah kehilangan posisinya sebagai ekonomi terbesar ketiga di dunia, disusul oleh Jerman yang memperpendek jarak dengan China dan AS, berdasarkan data dari Kabinet Jepang.

Baca Juga: Riset: Karyawan Menghindari Bekerja Di Startup Saat Resesi

Dikutip dari BBC, para ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan PDB Jepang untuk kuartal keempat tahun 2023 akan melebihi 1%, sehingga angka tersebut menjadi sebuah kejutan. Namun, pembacaan awal ini masih dapat mengalami revisi.

"Kemudian, kuartal-kuartal kontraksi ekonomi berturut-turut memenuhi definisi teknis resesi, walaupun sebelumnya IMF memperkirakan bahwa Jerman akan melampaui Jepang dalam hal PDB yang diukur dalam dolar AS," tulis BBC dikutip Kamis (15/2/2024).

Selanjutnya, Ekonom Neil Newman menyoroti bahwa nilai ekonomi Jepang sekitar USD4,2 triliun pada tahun 2023, sedangkan Jerman mencapai USD4,4 triliun, dengan perbedaan ini sebagian besar disebabkan oleh kelemahan mata uang Jepang terhadap dolar.

Dia mengemukakan bahwa jika yen menguat, Jepang bisa kembali menduduki posisi sebagai ekonomi terbesar ketiga.

Selain itu, Wakil kepala IMF, Gita Gopinath, menunjukkan bahwa pelemahan yen terhadap dolar AS tahun lalu merupakan faktor penting dalam potensi penurunan Jepang dalam peringkat.

Meskipun menghadapi tantangan, pelemahan yen telah mendorong harga saham perusahaan-perusahaan besar Jepang, menjadikan ekspor lebih kompetitif secara global.

Indeks saham utama Tokyo, Nikkei 225, baru-baru ini mencapai lebih dari 38.000 poin untuk pertama kalinya sejak tahun 1990, ketika krisis ekonomi dipicu oleh runtuhnya harga properti.

Data PDB terbaru juga bisa berarti bahwa Bank Sentral Jepang akan lebih memperpanjang penundaan keputusan untuk menaikkan biaya pinjaman yang sangat dinantikan. 

Disisi lain, Bank of Japan (BoJ), bank sentral negeri sakura memperkenalkan suku bunga negatif pada tahun 2016 dalam upaya untuk mendorong pengeluaran dan investasi, namun suku bunga negatif ini membuat yen menjadi kurang menarik bagi investor global, yang telah menekan nilai mata uang tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.