Riset: Karyawan Menghindari Bekerja Di Startup Saat Resesi

AKURAT.CO - Startup adalah katalis penting bagi inovasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun perusahaan-perusahaan penting ini juga lebih sensitif terhadap fluktuasi ekonomi dibandingkan perusahaan-perusahaan yang lebih mapan. Meskipun kerentanan startup terhadap kemerosotan ekonomi telah banyak diteliti, namun penyebab kerentanan ini belum sepenuhnya dipahami.
Penelitian yang dilakukan oleh Associate Professor Marvin Bower di Entrepreneurial Management Unit, Harvard Business School, Shai Bernstein dan Associate Professor of Finance di UC San Diego’s Rady School of Management, Richard Townsend serta Assistant Professor of Finance at the Rotman School of Management, University of Toronto, Ting Xu menunjukkan karyawan punya pertimbangan sendiri dalam memilih antara perusahaan rintisan dan perusahaan mapan, yang semakin bersaing untuk mendapatkan talenta yang sama.
Dengan memahami preferensi karyawan dan perubahannya seiring dengan kondisi ekonomi sangat penting untuk memahami dinamika pemain lama dan pendatang baru. Penelitian ketiganya menawarkan hipotesis alternatif yang berakar pada pasar tenaga kerja, yakni Startup merasa sulit untuk menarik talenta selama masa krisis karena kecenderungan pencari kerja terhadap perusahaan yang lebih besar dan lebih mapan.
Baca Juga: Kawinkan Industri Dan Startup, Kemenperin Luncurkan Program Startup4industry
"Pengujian hipotesis ini rumit. Jika perusahaan rintisan mempekerjakan lebih sedikit pekerja saat krisis ekonomi, apakah hal ini disebabkan karena para pekerja enggan untuk bergabung dengan mereka, atau karena perusahaan rintisan enggan menambahkan pekerja ke dalam daftar gaji mereka?," tulis riset Shai Bernstein, Richard Townsend dan Ting Xu dikutip dari Harvard Business Review, Sabtu (30/9/2023).
Untuk secara khusus mendeteksi perubahan minat pekerja terhadap startup, ketiganya bermitra dengan AngelList Talent, platform rekrutmen pekerjaan terkemuka untuk perusahaan wirausaha. Melalui kemitraan ini, mereka dapat melihat perubahan dalam perilaku pencarian kerja dan lamaran kerja selama resesi terbaru yakni penurunan akibat pandemi Covid-19.
"Temuan kami mengungkapkan adanya 'perjalanan menuju keselamatan' di kalangan pencari kerja. Selama masa krisis, mereka semakin mengarahkan pencarian dan lamaran mereka ke organisasi yang lebih besar dan lebih mapan. Khususnya, kandidat yang memiliki kualitas lebih tinggi, diukur berdasarkan pengalaman atau pendidikan, cenderung meninggalkan startup," tegas mereka.
Ditambahkan, pergeseran ini mempunyai dampak nyata terhadap perusahaan. Startup yang kurang mapan menerima lebih sedikit lamaran pekerjaan, terutama dari kandidat berkualitas tinggi, sehingga menyebabkan penurunan jumlah talent pool yang tersedia bagi mereka. Penurunan ini bahkan terjadi pada lowongan pekerjaan yang sama dari waktu ke waktu.
Artinya, startup tidak hanya membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja selama resesi – bahkan untuk lowongan pekerjaan yang sudah ada, perekrutan menjadi semakin sulit. Meskipun perusahaan rintisan (startup) menghadapi tantangan dalam mengisi lowongan kerja, perusahaan-perusahaan yang lebih mapan mendapat manfaat dari perubahan minat pencari kerja ini, dan mengalami keberhasilan yang lebih besar dalam menarik talenta.
Ada 2 hal bisa bisa mendorong para pekerja untuk terbang ke tempat yang aman. Pertama, para pekerja mungkin menjadi lebih menghindari risiko selama resesi, sehingga memperkuat keinginan mereka akan keamanan kerja. Kedua, pekerja dapat mengubah pandangan mereka mengenai betapa berisikonya perusahaan lain.
"Temuan kami lebih mengarah pada hal yang pertama, karena baik startup yang sedang berkembang, sukses maupun yang kurang sukses mengalami penurunan jumlah pelamar. Hasil penelitian kami lebih konsisten dengan gagasan bahwa meningkatnya penghindaran risiko akan mendorong pencari kerja menjauh dari semua perusahaan rintisan, terlepas dari kualitas startup mereka," imbuh mereka.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa startup bergulat dengan kendala keuangan selama periode gejolak ekonomi. Resesi akibat Covid tidak biasa karena sebagian besar resesi menyebabkan berkurangnya pendanaan modal ventura, bukan lebih banyak. Penelitian ini menambah dimensi baru pada pemahaman bahwa sumber daya manusia – sumber daya penting lainnya bagi startup – juga mengalami tekanan yang signifikan selama masa krisis, sehingga menyebabkan “kehancuran ganda.”
Secara historis, intervensi kebijakan diarahkan terutama untuk mengurangi tekanan finansial pada startup, namun mengabaikan krisis talenta yang mereka hadapi. Krisis talenta ini menimbulkan risiko besar, yang berpotensi melemahkan kemampuan startup untuk bertahan dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar dan mapan. Saat pebisnis menghadapi ketidakpastian ekonomi, pemahaman yang lebih mendalam mengenai kekuatan-kekuatan ini sangat penting bagi pembuat kebijakan dan pengusaha.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









