Ketidastian Global Ancam Singapura Masuk Resesi, Akankah Asia Tenggara Kena Domino Effect?

AKURAT.CO Singapura kini berada di ambang resesi teknis meskipun ekonominya sempat menunjukkan performa positif pada awal tahun 2025.
Mengutip dari laman reuters,hasil data Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 3,9% secara tahunan (year-on-year/yoy) untuk kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut melampaui ekspektasi median dari survei Bloomberg yang sebesar 3,6%.
Namun, jika ditilik dari sisi kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Singapura justru menyusut 0,6%. Meski lebih baik dari proyeksi kontraksi 1%, data tersebut mempertegas risiko bahwa negara tersebut sedang mengarah pada resesi teknis, yakni pertumbuhan negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
Baca Juga: Ekonom Kritik Langkah Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Singapura ke AS
"Resesi teknikal yang terjadi selama dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan negatif secara qtq adalah suatu kemungkinan," ucap Sekretaris Tetap Kementerian Perdagangan, Beh Swan Gin.
Resesi teknis di Singapura, lanjut Beh, tidak hanya menjadi persoalan domestik, sebagai negara dengan keterbukaan ekonomi sangat tinggi di mana perdagangan mencakup hampir tiga kali lipat dari PDB-nya perlambatan di Singapura dapat menimbulkan efek domino di kawasan Asia Tenggara, khususnya pada negara-negara dengan keterkaitan perdagangan erat seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
"Ekspor dan aktivitas manufaktur Singapura yang tumbuh solid pada kuartal pertama sebagian besar didorong oleh keinginan perusahaan untuk menghindari tarif tinggi dari Amerika Serikat. Namun, seiring berjalannya waktu, momentum ini mulai melemah," paparnya.
Ketegangan dagang antara AS dan China, meski tengah memasuki masa gencatan senjata 90 hari, tetap menyimpan potensi gangguan terhadap rantai pasok global.
Senada dengan Beh, Kepala Strategi Investasi Saxo Markets, Charu Chanana menegaskan perlambatan global dapat mengguncang struktur perekonomian terbuka seperti Singapura.
“Risiko perlambatan ekspor dan aktivitas manufaktur bisa membebani mitra dagangnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, hasil dari laporan MTI menyebutkan bahwa sektor-sektor berorientasi luar seperti manufaktur, perdagangan grosir, serta transportasi dan penyimpanan diproyeksikan melambat. Sektor keuangan dan asuransi juga diperkirakan terdampak oleh lemahnya aktivitas perdagangan.
Sementara itu, sektor yang berhubungan dengan konsumsi domestik juga dinilai lesu. Prospek ini menimbulkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Wakil Direktur Pelaksana Otoritas Moneter Singapura (MAS), Edward Robinson, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh menjelang pertemuan kebijakan berikutnya pada Juli.
“Sikap kebijakan tetap tepat untuk saat ini,” katanya.
Meski demikian, Singapura dinilai memiliki ruang untuk mengatasi potensi guncangan eksternal. Kemenangan besar People’s Action Party dalam pemilu pada Mei lalu dinilai memperkuat stabilitas politik dan kepastian kebijakan ekonomi.
Kebijakan fiskal yang proaktif dan pelonggaran moneter menjadi instrumen utama pemerintah untuk menahan potensi penurunan lebih lanjut. Namun demikian, beberapa ekonom menilai, apabila ketegangan dagang kembali meningkat setelah masa gencatan senjata, Singapura tidak akan mampu sepenuhnya menghindari tekanan berat terhadap PDB.
Seperti yang diketahui bersama, Singapura merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Maka dari itu, perlambatan ekonomi di negara tersebut berpotensi menurunkan permintaan ekspor dari Indonesia, terutama di sektor elektronik, energi, dan bahan baku industri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









