Akurat Logo

Jelang Rilis Risalah Pertemuan The Fed, Rupiah Turun 11 Poin ke Rp15.481

M. Rahman | 3 Januari 2024, 16:05 WIB
Jelang Rilis Risalah Pertemuan The Fed, Rupiah Turun 11 Poin ke Rp15.481

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 11 poin ke level Rp15.481 pada perdagangan Rabu, 3 Januari 2024 jelang rilis risalah pertemuan The Fed bulan Desember nanti malam dan data nonfarm payrolls AS untuk bulan Desember pada Jumat mendatang.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditekan sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, penguatan dolar terjadi sebelum risalah pertemuan The Fed bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Rabu.

Analis memperingatkan bahwa risalah tersebut mungkin tidak terlalu dovish seperti yang diharapkan pasar, sebuah skenario yang kemungkinan akan mengurangi sentimen risiko. Disisi lain, penguatan dolar sebagian didorong oleh kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik, setelah Israel membunuh wakil pemimpin Hamas Saleh al-Arouri dalam serangan pesawat tak berawak di ibu kota Lebanon, Beirut, pada hari Selasa.

Baca Juga: Prospek Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat, Rupiah Ditutup Naik 18 Poin di Pekan Terakhir 2023

"Meskipun The Fed memberi isyarat pada bulan Desember bahwa mereka akan mulai memangkas suku bunga pada tahun 2024, namun mereka hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai waktu tindakan tersebut. Pejabat Fed juga memperingatkan setelah pertemuan tersebut bahwa pertaruhan penurunan suku bunga lebih awal tidak berdasar, mengingat inflasi dan pasar tenaga kerja masih berjalan relatif panas," ujar Ibrahim dikutip Rabu (3/1/2024).

Selain itu, data nonfarm payrolls untuk bulan Desember akan dirilis pada hari Jumat ini, dan juga diperkirakan akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai lapangan kerja. Meskipun angka tersebut diperkirakan akan menunjukkan penurunan yang lebih besar di pasar tenaga kerja, angka tersebut juga secara konsisten melampaui ekspektasi sepanjang tahun 2023.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis oleh S&P Global, pada bulan Desember berada di posisi 52,2 atau naik 0,5 poin dibanding bulan November yang menempati level 51,7. PMI Manufaktur Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi selama 28 bulan berturut-turut.

Capaian ini hanya Indonesia dan India yang mampu mempertahankan level di atas 50 poin selama lebih dari 25 bulan. Kinerja baik ini tentu harus di jaga dan tingkatkan. Kondisi sektor manufaktur di Indonesia terus membaik lantaran juga didukung dari beragam kebijakan strategis pemerintah yang telah berjalan secara on the right track.

Namun, ada kebijakan yang belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan sektor industri, antara lain penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Masih banyak perusahaan industri yang belum menerima manfaat harga gas USD6 per MMBTU. Tak hanya itu, dalam pelaksanaannya masih banyak sektor industri yang memperoleh volume gas lebih rendah atau tidak sesuai dengan jumlah yang sudah menjadi kontrak antara industri dan pihak penyedia.

Sedangkan dalam laporannya, S&P Global menyatakan, ekspansi PMI Manufaktur Indonesia pada bulan terakhir 2023 karena adanya permintaan yang cukup tinggi, termasuk dari luar negeri. Ini mendorong pertumbuhan produksi lebih cepat dan penambahan jumlah tenaga kerja.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa