Akurat

Outlook Makroekonomi 2024: Schroders Indonesia Ramal PDB RI Tumbuh 5 Persen

M. Rahman | 20 Desember 2023, 19:20 WIB
Outlook Makroekonomi 2024: Schroders Indonesia Ramal PDB RI Tumbuh 5 Persen

AKURAT.CO Schroders Indonesia melihat pertumbuhan ekonomi atau PDB RI tahun 2024 mendatang akan mendekati 5%. Hal ini didorong oleh berbagai faktor eskternal dan internal.

Dari eksternal, Schroders meyakini bahwa perlambatan ekonomi yang tertunda akhirnya akan terjadi. Tingkat suku bunga yang tinggi di AS pada akhirnya akan berdampak pada konsumsi yang lebih lambat dan inflasi yang lebih rendah, kecuali jika ada kejutan pada harga energi.

Lalu suku bunga yang dikenakan pada kartu kredit telah meningkat menjadi 21,2%, KPR berjangka waktu 30 tahun menjadi sebesar 7,22%, dan pembiayaan kendaraan bermotor baru menjadi sebesar 8,3%. Tunggakan kartu kredit juga mulai meningkat, bersamaan dengan menurunnya tingkat tabungan pribadi.

Baca Juga: TPN Sebut Ganjar-Mahfud Bakal Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Lewat Kesejahteraan Rakyat

"Kami juga telah melihat tanda-tanda awal penurunan penambahan lapangan kerja dan tingkat pengangguran yang meningkat menjadi 3,9 persen, di atas proyeksi ekonomi Federal Reserve dari laporan SEP (Summary of Economic Projections). Ketika perlambatan lebih lanjut dikonfirmasi dan inflasi kembali mendekati target 2 persen, pada akhirnya Fed akan dapat menurunkan suku bunga," tulis Schroders dikutip Rabu (20/12/2023).

Sementara itu, Schriders tidak menutup kemungkinan adanya pemulihan berbentuk "V" di China pada tahun 2024. Namun, harapan pasar terhadap ekonomi telah mencapai titik terendah dan kita mungkin melihat beberapa sentimen positif di China setelah dua tahun pertumbuhan yang lemah.

Meskipun ekonomi penting di satu sisi, ada beberapa faktor kunci lainnya yang dapat menyebabkan risiko idiosinkratik di tahun depan, yaitu pemilu di Indonesia dan di AS, risiko penutupan pemerintah AS (shutdown) dan masalah utang yang menjadi lebih terpolitisasi serta eskalasi perang Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas.

"Menuju tahun 2024, kami mengekpektasikan narasi yang seharusnya mendukung pasar saham dengan pertumbuhan PDB yang solid mendekati 5% dan pertumbuhan laba perusahaan yang sehat sekitar 11-12% menurut konsensus Bloomberg," lanjut Schroders.

Neraca Dagang

Di tengah outlook pertumbuhan global yang melambat, mungkin akan terjadi penurunan permintaan eksternal yang berdampak pada ekspor di wilayah Asia secara umum. Indonesia, khususnya, telah mengalami penurunan ekspor sebesar dua digit sepanjang tahun 2023.

Melemahnya harga-harga komoditas ekspor utama mengakhiri periode booming komoditas untuk Indonesia dan kembali ke defisit transaksi berjalan. Namun ada alasan untuk tidak terlalu pesimis, ada produk ekspor baru seperti logam, besi, dan baja yang kemungkinan akan terus mendukung ekspor secara keseluruhan.

Di sisi impor, pertumbuhan global yang melambat akan berarti penurunan permintaan minyak dan oleh karena itu mungkin ada penurunan pada pos impor "minyak dan gas" sebagai negara yang merupakan pengimpor minyak secara netto (net importer). Hal tersebut juga akan bermanfaat untuk mengurangi pos-pos subsidi dalam belanja fiskal. Oleh karena itu, Schroders yakin bahwa neraca transaksi berjalan tidak akan kembali ke tingkat sebelum Covid-19 sebesar 2,5-3,% dari PDB tetapi tetap pada defisit yang jauh lebih rendah.

Inflasi

Pertarungan melawan inflasi yang melanda AS dan Eropa, tidak sebegitu ‘ganas’ di Indonesia. Bank Indonesia menghentikan kenaikan suku bunga acuannya setelah bulan Januari ketika inflasi secara konsisten menurun. Harga-harga kembali ke dalam kisaran target, inflasi umum (headline inflation) mencapai 2,86% dan inflasi inti (core inflation) melambat menjadi rata-rata 1,87% di bulan Oktober. Risiko El Nino mulai terlihat dengan meningkatnya kenaikan volatilitas harga pangan, meskipun musim hujan telah tiba, musim panen yang tertunda masih dapat mempengaruhi harga pangan.

"Terlepas dari risiko ini, kami melihat bahwa inflasi umum tetap stabil dan inflasi inti melemah, oleh karenanya kami tidak melihat inflasi sebagai sebuah risiko yang mendominasi di tahun depan. Bank Indonesia juga yakin bahwa inflasi akan mencapai rata-rata lebih rendah di tahun 2024 dengan kisaran target yang disesuaikan lebih rendah menjadi 1,5 hingga 3,5 persen," tulis Schroders.

Sumber: Bloomberg per Nov 2023

Rupiah

Meskipun inflasi bukan risiko utama, namun stabilitas nilai tukar Rupiah merupakan salah satu fokus utama Bank Indonesia (BI) tahun ini dan kemungkinan akan tetap menjadi fokus pada tahun 2024. Kenaikan suku bunga kedua BI pada bulan Oktober sebesar 25bps menjadi 6% bukan karena alasan inflasi, tetapi karena stabilitas nilai tukar Rupiah.

Nilai tukar mata uang tersebut mendekati Rp16.000 karena pasar terpengaruh oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mendekati 5% dan penguatan dolar. Indonesia tidak dapat melawan arus tanpa menaikkan suku bunga lokal untuk menghentikan aliran modal keluar.

Pada periode tersebut, cadangan devisa juga mengalami penurunan dari USD137,2 miliar menjadi USD133,1 miliar pada bulan Oktober. Dalam upaya untuk membendung aliran dana keluar ini, Bank Indonesia mengeluarkan efek baru berdasarkan obligasi pemerintah yang disebut Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan untuk dolar disebut Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) serta versi sukuknya yaitu SUVBI. Kami berpikir bahwa efek ini memiliki valuasi yang menarik, namun partisipasi masih sebagian besar dilakukan oleh pemain lokal.

"Kami berpandangan bahwa BI tidak akan menaikan suku bunga lagi apalagi mengingat skenario dasar kami tentang penurunan suku bunga AS, yang kemungkinan akan memberikan stabilitas bagi mata uang negara-negara berkembang (EM), termasuk Rupiah. Defisit transaksi berjalan yang lebih rendah dan inflasi yang terkendali tampaknya akan mendukung fundamental Indonesia. Ketika Federal Reserve memangkas suku bunga tahun depan, ini akan membuka jalan bagi BI untuk mengikuti langkah tersebut," beber Schroders.

Defisit Fiskal

Schroders melihat pengelolaan fiskal 2024 akan terus berada pada sisi konservatif. Defisit fiskal ditargetkan pada -2,29% pada tahun 2024, sedikit lebih lebar dari Proyeksi Anggaran (Budget Outlook) 2023 sebesar -2,28%. Keseimbangan primer (primary balance) terus positif atau sedikit negatif, menunjukkan bahwa di luar bunga sebenarnya pemerintah tidak membelanjakan lebih banyak dari pendapatannya.

Penerimaan pajak tumbuh dengan laju yang baik dan penurunan penerimaan non-pajak tidak seburuk yang awalnya diperkirakan sebelumnya, yang berasal dari melemahnya harga komoditas. Di sisi lain, belanja pemerintah relatif lambat meskipun sebagian besar belanja akan dilakukan pada bulan Desember. Schroders menilai konsolidasi fiskal tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target rasio utang terhadap PDB yang lebih rendah pada tahun 2025, sebagai bukti komitmen pemerintah untuk kembali ke tingkat pra-pandemi.

"Secara keseluruhan, kami yakin bahwa pertumbuhan untuk tahun 2024 akan mencapai 5% dengan konsumsi dan belanja pemerintah yang tetap stabil, sementara investasi dan ekspor bersih mungkin mengalami perlambatan," tegas Schroders.

Sementara inflasi yang lebih rendah di Indonesia menjadi dasar untuk mendukung minat dalam berkonsumsi. Belanja pemerintah yang biasanya tinggi selama tahun pemilu dan pengeluaran kampanye juga akan memberikan dorongan pertumbuhan. Namun, investasi mungkin mengalami pelemahan karena tahun pemilu juga menciptakan ketidakpastian bagi para investor. Dan akhirnya, ekspor bersih dapat menjadi faktor yang tidak terduga (wild card) tergantung pada tingkat perlambatan pertumbuhan global dan harga komoditas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa