Akurat

Pacu Pertumbuhan, Pemerintah Gelontorkan Stimulus ke Sektor Transportasi dan Manufaktur

Hefriday | 2 Desember 2025, 16:35 WIB
Pacu Pertumbuhan, Pemerintah Gelontorkan Stimulus ke Sektor Transportasi dan Manufaktur

AKURAT.CO Menjelang periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, pemerintah menyiapkan serangkaian stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa kebijakan tersebut terutama menyasar sektor transportasi dan manufaktur yang sedang menunjukkan tren positif.
 
Airlangga mengatakan tarif angkutan udara menjadi salah satu fokus pemerintah jelang mobilitas besar akhir tahun. Pasalnya, tarif pesawat tercatat naik 6,02% (mtm) pada November, sejalan dengan pola historis peningkatan permintaan.
 
Untuk menahan lonjakan biaya perjalanan masyarakat, pemerintah menargetkan program diskon tarif transportasi mulai Desember. Menurut Airlangga, langkah tersebut diperkirakan efektif menurunkan kembali tarif pesawat serta menjaga aktivitas ekonomi.
 
Dari sisi lain, pemerintah juga memantau perkembangan inflasi yang pada November berada di level 2,72% (yoy). Inflasi inti stabil di 2,36%, menunjukkan ekspektasi harga publik tetap terjaga. 
 
 
Meski demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapat perhatian karena beberapa komoditas mengalami kenaikan akibat cuaca ekstrem.
 
Beras menjadi komoditas yang justru mencatat penurunan harga dengan deflasi 0,59% (mtm). Pemerintah menyebut hal ini sebagai hasil intervensi melalui Bantuan Pangan kepada 18,3 juta KPM serta kegiatan pasar murah dan program stabilisasi harga.
 
Dukungan terhadap daya beli masyarakat juga diperkuat dari sisi industri manufaktur. PMI Manufaktur Indonesia naik signifikan ke 53,3 pada November 2025, dari 51,2 pada Oktober.  Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor industri siap menghadapi peningkatan permintaan akhir tahun.
 
Airlangga menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas produksi mendorong perusahaan memperbesar pembelian bahan baku. Penumpukan pekerjaan yang terjadi selama delapan bulan terakhir juga membuat pelaku industri meningkatkan kapasitas tenaga kerja.
 
“Kondisi ini menunjukkan sektor manufaktur semakin solid. Momentum ekspansi ini harus dijaga karena berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (2/12/2025). 
 
Dari sisi perdagangan luar negeri, Indonesia masih mencatat surplus USD2,39 miliar pada Oktober 2025. Ekspor non-migas ke AS tumbuh 4,43%, memperkuat neraca perdagangan di tengah negosiasi tarif resiprokal dengan Washington.
 
Surplus yang telah berlangsung 66 bulan menjadi bantalan tambahan bagi stabilitas ekonomi. Pemerintah menilai kombinasi permintaan domestik yang solid, ekspor yang kuat, dan inflasi yang terkendali menjadi dasar optimisme memasuki akhir tahun.
 
Sejumlah insentif di sisi permintaan dan pasokan disiapkan untuk memperkuat mobilitas masyarakat pada puncak musim liburan. Pemerintah juga meminta pelaku usaha memanfaatkan momentum ini untuk menjaga produksi dan pasokan ke pasar.
 
Airlangga menegaskan, tahun 2025 diakhiri dengan kondisi yang relatif stabil dan positif. “Stimulus dan berbagai insentif akan menjadi dorongan tambahan bagi ekonomi. Dengan permintaan domestik yang meningkat secara musiman, momentum pertumbuhan diperkirakan tetap terjaga hingga awal tahun depan,” ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa