Akurat

Rupiah Ditutup Berbalik Menguat Tipis 5 Poin ke Rp15.520

M. Rahman | 9 Januari 2024, 15:21 WIB
Rupiah Ditutup Berbalik Menguat Tipis 5 Poin ke Rp15.520

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat tipis 5 poin ke level Rp15.520 pada perdagangan Selasa, 9 Januari 2024 jelang rilis data indeks harga konsumen utama AS yang dirilis pada hari Kamis ini.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, para pedagang tetap sangat bias terhadap dolar menjelang data indeks harga konsumen utama yang dirilis pada hari Kamis ini.

Angka tersebut diperkirakan menunjukkan sedikit peningkatan inflasi pada bulan Desember, ditambah dengan kuatnya data nonfarm payrolls, memberikan The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Baca Juga: Rupiah Turun 9 Poin ke Rp15.525 Usai Menguatnya Data Nonfarm Payrolls AS

"Hal ini mendorong penurunan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal, yang pada gilirannya membuat emas kehilangan beberapa keuntungan yang diperoleh pada bulan Desember. Logam kuning masih mengakhiri tahun 2023 dengan kenaikan 10 persen," ujar Ibrahim dikutip Selasa (9/1/2024).

Sementara Pejabat Fed juga menolak ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal. Presiden Fed Atlanta Ralph Bostic mengatakan bahwa dengan inflasi yang masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%, ia tetap bias terhadap kebijakan yang tetap ketat dalam jangka pendek.

 Meskipun Bostic masih memperkirakan suku bunga akan turun pada tahun 2024, ia hanya memperkirakan penurunan sebesar 50 basis poin – jauh lebih kecil dari ekspektasi pasar. Para pedagang juga terlihat terus mengurangi spekulasi bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunganya paling cepat pada bulan Maret.

Alat CME Fedwatch sekarang menunjukkan para pedagang memperkirakan peluang 59,4% untuk pemotongan suku bunga di bulan Maret, turun dari 64% yang terlihat pada hari Senin dan 70,7% yang terlihat pada minggu lalu.

Selain data AS, fokus minggu ini juga tertuju pada angka inflasi dan perdagangan Tiongkok untuk bulan Desember, yang akan dirilis pada hari Jumat. Negara importir komoditas terbesar di dunia ini diperkirakan masih mengalami disinflasi pada bulan Desember, sementara aktivitas perdagangan, terutama ekspor diperkirakan juga menurun.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia di 2023 mencapai USD146,4 miliar, melonjak USD8,3 miliar dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2023 sebesar USD138,1 miliar.

Peningkatan cadangan devisa tersebut sejalan dengan sentimen pasar terkait prospek penurunan suku bunga dari bank sentral global terutama The Fed yang berdampak terhadap penguatan Rupiah sebesar 0,73% secara bulanan (mtm) atau 1,10% secara year to date (ytd) menjadi Rp15.396 per dolar AS.

Setelah siklus kenaikan suku bunga yang agresif sejak awal tahun 2022, pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada kuartal pertama 2024, sejalan dengan penurunan inflasi secara bertahap dan indikasi soft landing di AS.

Di sisi lain, ekonomi AS tumbuh secara tahunan sebesar 4,9% pada kuartal ketiga 2023, lebih rendah dari 5,2% pada perkiraan kedua. Oleh karena itu, sentimen tersebut telah memberikan dampak positif bagi pasar keuangan domestik.

Sebagai informasi, selama Desember 2023, net inflow asing di pasar saham dan obligasi masing-masing tercatat sebesar Rp7,7 triliun dan Rp8,2 triliun. Imbal hasil 10 tahun pemerintah Indonesia juga turun sebesar 19 bps month to date (mtd) menjadi 6,52%.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa