Bukan Soal Cinta, Ini Alasan Kenapa Anak Muda Zaman Sekarang Malas Menikah

AKURAT.CO Fenomena anak muda yang menunda bahkan enggan menikah semakin sering diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir.
Jika dulu menikah di usia muda dianggap sebagai hal yang wajar dan menjadi target hidup, kini banyak generasi muda justru memilih fokus pada hal lain sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Perubahan ini menimbulkan berbagai pertanyaan, terutama dari generasi sebelumnya yang memiliki pandangan berbeda tentang makna pernikahan.
Baca Juga: Andhara Early Pisah dari Bugi Ramadhana Setelah 14 Tahun Menikah
Bagi generasi milenial dan Gen Z, pernikahan bukan lagi sekadar kewajiban sosial, melainkan keputusan besar yang membutuhkan kesiapan menyeluruh.
Mulai dari faktor ekonomi, mental, hingga perubahan nilai hidup, semua menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan untuk menikah.
Tidak sedikit anak muda yang akhirnya memilih menunda pernikahan demi menjaga kualitas hidup dan kestabilan diri.
1. Tekanan Ekonomi yang Semakin Berat
Salah satu alasan utama anak muda malas menikah adalah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Biaya hidup yang terus meningkat, harga rumah yang sulit dijangkau, serta pendapatan yang belum stabil membuat pernikahan terasa sebagai beban tambahan.
Banyak anak muda merasa belum cukup mapan untuk menanggung tanggung jawab finansial dalam rumah tangga.
Selain itu, standar hidup yang semakin tinggi juga membuat pernikahan dianggap membutuhkan persiapan dana yang besar, mulai dari biaya pesta hingga kebutuhan setelah menikah. Hal ini membuat sebagian anak muda memilih menunda sampai kondisi keuangan benar-benar aman.
2. Fokus pada Karier dan Pengembangan Diri
Anak muda saat ini cenderung memprioritaskan pendidikan, karier, dan pengembangan diri.
Mereka ingin mencapai tujuan pribadi terlebih dahulu sebelum berkomitmen dalam pernikahan.
Menikah sering kali dianggap dapat membatasi ruang gerak, terutama bagi mereka yang ingin mengejar peluang karier atau pengalaman hidup yang lebih luas.
Bagi sebagian orang, menikah bukanlah tujuan utama hidup, melainkan salah satu pilihan yang bisa diambil ketika semua aspek diri sudah siap.
3. Pergeseran Nilai dan Cara Pandang terhadap Pernikahan
Nilai sosial mengalami perubahan signifikan. Jika dahulu menikah adalah kewajiban, kini pernikahan dipandang sebagai pilihan personal.
Anak muda lebih menekankan kebahagiaan, kenyamanan, dan kualitas hubungan daripada sekadar memenuhi tuntutan sosial atau usia.
Pola pikir ini membuat mereka lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan menikah.
4. Kekhawatiran terhadap Perceraian dan Konflik Rumah Tangga
Tingginya angka perceraian serta banyaknya cerita konflik rumah tangga membuat anak muda semakin waspada terhadap pernikahan.
Pengalaman pribadi atau melihat kegagalan pernikahan di lingkungan sekitar menimbulkan rasa takut untuk berkomitmen jangka panjang.
Akibatnya, banyak yang memilih menunda menikah hingga benar-benar yakin dengan pasangan dan kesiapan emosional masing-masing.
5. Pengaruh Media Sosial dan Ekspektasi yang Tinggi
Media sosial turut membentuk ekspektasi terhadap hubungan dan pernikahan.
Gambaran kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna justru membuat anak muda merasa tertekan dan takut jika realita tidak sesuai harapan.
Perbandingan dengan kehidupan orang lain sering memicu kecemasan dan keraguan untuk menikah.
Alih-alih termotivasi, sebagian anak muda justru merasa pernikahan adalah sesuatu yang rumit dan penuh tuntutan.
6. Kesadaran akan Kesehatan Mental
Generasi muda semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental. Banyak yang merasa belum siap secara emosional untuk menghadapi dinamika pernikahan, sehingga memilih fokus memperbaiki diri terlebih dahulu.
Menikah tanpa kesiapan mental dikhawatirkan justru menimbulkan masalah baru.
Kesadaran ini membuat keputusan menikah diambil dengan lebih hati-hati dibanding generasi sebelumnya.
7. Munculnya Pilihan Hidup Alternatif
Sebagian anak muda memilih menjalani hidup tanpa menikah atau tanpa memiliki anak sebagai bentuk pilihan hidup.
Bagi mereka, kebahagiaan tidak selalu harus dicapai melalui pernikahan.
Pilihan ini lahir dari pertimbangan gaya hidup, nilai pribadi, hingga kondisi lingkungan.
Alasan anak muda sekarang malas menikah bukan semata karena menolak pernikahan, melainkan karena ingin memastikan kesiapan diri secara menyeluruh.
Faktor ekonomi, mental, nilai hidup, dan pengalaman sosial membentuk cara pandang baru terhadap pernikahan.
Bagi generasi muda, menikah bukan soal cepat atau lambat, melainkan soal waktu yang tepat dan kondisi yang benar-benar siap.
Vania Tri Yuniar (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









