Gray Divorce Makin Marak, Inilah Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

AKURAT.CO Apa itu gray divorce? Pernikahan sering dibayangkan sebagai perjalanan panjang yang semakin tenang seiring bertambahnya usia. Namun kenyataannya, tidak sedikit pasangan yang justru menghadapi krisis serius setelah puluhan tahun bersama. Di titik inilah istilah gray divorce mulai sering muncul dan menjadi perhatian banyak orang.
Gray divorce menggambarkan fenomena perceraian yang terjadi pada pasangan berusia 50 tahun ke atas, biasanya setelah menjalani pernikahan panjang selama 20 hingga 40 tahun. Fenomena ini kian terlihat secara global, termasuk mulai menunjukkan tren di Indonesia. Lalu, apa sebenarnya gray divorce, mengapa kasusnya meningkat, dan apa dampaknya bagi keluarga?
Apa Itu Gray Divorce?
Secara sederhana, gray divorce adalah perceraian yang terjadi pada usia lanjut, umumnya setelah seseorang menginjak usia 50 tahun. Istilah “gray” merujuk pada rambut beruban yang identik dengan fase kehidupan yang lebih matang.
Fenomena ini juga dikenal dengan sebutan lain seperti empty nest divorce, silver separation, atau dalam konteks Asia disebut jukunen rikon (Jepang) dan hwanghon ihon (Korea Selatan). Semua istilah tersebut menggambarkan satu kondisi serupa: perpisahan setelah pernikahan yang telah berlangsung puluhan tahun.
Studi dari National Center for Family & Marriage Research mencatat bahwa di Amerika Serikat, angka perceraian pada kelompok usia 50 tahun ke atas meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 hingga 2010. Tren ini terus berlanjut hingga sekarang, seiring perubahan gaya hidup, harapan hidup yang lebih panjang, serta pergeseran makna pernikahan.
Mengapa Fenomena Gray Divorce Semakin Banyak Terjadi?
Gray divorce jarang dipicu oleh satu masalah tunggal. Dalam banyak kasus, perceraian di usia lanjut merupakan akumulasi konflik yang terpendam selama bertahun-tahun.
Salah satu pemicu paling umum adalah fase empty nest, ketika anak-anak telah dewasa dan meninggalkan rumah. Peran sebagai orang tua yang selama ini menjadi “perekat” hubungan perlahan menghilang. Pasangan pun kembali berhadapan satu sama lain tanpa distraksi, dan tidak sedikit yang menyadari bahwa hubungan mereka sudah lama kehilangan kedekatan emosional.
Selain itu, banyak pasangan memilih menunda perceraian demi anak. Mereka bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia hingga anak-anak dianggap cukup mandiri. Setelah tanggung jawab tersebut selesai, perceraian dipandang sebagai jalan keluar yang paling realistis.
Faktor lain yang kerap muncul adalah perubahan fase hidup, seperti pensiun. Rutinitas kerja yang berhenti mendadak bisa memicu rasa hampa, kehilangan makna diri, hingga ketidakcocokan baru dalam hubungan. Harapan menikmati masa tua bersama justru berubah menjadi sumber konflik.
Masalah finansial juga berperan, terutama dalam pernikahan dengan ketergantungan ekonomi tinggi. Namun menariknya, meningkatnya kemandirian finansial—terutama pada perempuan—justru membuat sebagian pasangan merasa lebih berani mengambil keputusan berpisah demi kualitas hidup yang lebih baik.
Tak kalah penting, perubahan budaya dan nilai pernikahan turut memengaruhi. Jika dulu pernikahan dianggap cukup “bertahan”, kini banyak orang memandang hubungan harus memberi kepuasan emosional, pertumbuhan pribadi, dan kesehatan mental. Ketika semua itu tak lagi terpenuhi, gray divorce menjadi opsi yang dipertimbangkan secara matang.
Gray Divorce sebagai “Bom Waktu” dalam Pernikahan Panjang
Dalam banyak kasus, gray divorce digambarkan seperti bom waktu. Konflik lama yang tak pernah benar-benar selesai—mulai dari perasaan tumbuh ke arah berbeda (growing apart), kebutuhan emosional yang diabaikan, hingga ketidakpuasan yang dipendam—akhirnya meledak di fase hidup yang seharusnya lebih stabil.
Berbeda dengan perceraian usia muda yang sering dipicu oleh perselingkuhan atau masalah ekonomi akut, pasangan usia lanjut umumnya menghadapi tumpukan persoalan yang saling terkait. Perubahan kondisi kesehatan, spiritualitas, hingga pengalaman hidup ekstrem seperti sakit berat atau nyaris meninggal dunia, sering kali menjadi titik refleksi besar tentang makna hidup dan hubungan.
Menurut psikolog Chivonna Childs, PhD dari Cleveland Clinic, peningkatan gray divorce dipengaruhi oleh meningkatnya harapan hidup dan bergesernya cara pandang terhadap pernikahan.
"Ini bukan lagi abad ke-18, 19, atau bahkan ke-20. Bertahan dalam pernikahan yang tidak lagi memberikan kepuasan bukanlah sebuah keharusan," ujar Dr Childs.
Ia menambahkan bahwa stabilitas finansial dan kesadaran akan kesehatan mental membuat banyak orang merasa tidak perlu lagi bertahan semata demi rasa aman ekonomi.
Dampak Gray Divorce bagi Keluarga
Gray divorce tidak hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada anak-anak yang sudah dewasa. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola dampak antara laki-laki dan perempuan setelah perceraian di usia lanjut.
Laki-laki cenderung mengalami penurunan kedekatan emosional dengan anak-anak, meski dalam beberapa kasus tetap memberikan dukungan finansial. Sementara itu, perempuan umumnya lebih dekat secara emosional dengan anak, tetapi sering menghadapi tantangan ekonomi yang lebih besar pasca-perceraian.
Bagi anak-anak, gray divorce bisa menjadi pengalaman emosional yang tidak mudah. Banyak yang merasa kaget, sulit menerima perubahan dinamika keluarga, bahkan mengalami konflik batin karena harus “memilih posisi” di antara kedua orang tua.
Tren Gray Divorce Mulai Terlihat di Indonesia
Meski perceraian di Indonesia masih didominasi usia muda, data menunjukkan adanya peningkatan pada usia lanjut. Berdasarkan data Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, sepanjang 2020 hingga 2024, angka cerai tertinggi justru tercatat pada laki-laki usia 52 tahun ke atas, dengan total sekitar 202.333 kasus.
Kesimpulan: Gray Divorce Bukan Keputusan Instan
Gray divorce bukan tren sesaat, melainkan refleksi dari perubahan besar dalam cara manusia memaknai pernikahan, kebahagiaan, dan kualitas hidup. Perceraian di usia lanjut umumnya diambil melalui pertimbangan panjang, bukan keputusan impulsif.
Fenomena ini mengingatkan bahwa pernikahan panjang tidak selalu menjamin kebahagiaan berkelanjutan jika konflik dibiarkan menumpuk tanpa penyelesaian. Kejujuran emosional, komunikasi, dan keberanian menghadapi masalah sejak dini menjadi kunci agar hubungan tidak berubah menjadi “bom waktu”.
Kalau kamu tertarik mengikuti isu-isu sosial dan fenomena keluarga yang terus berkembang, pantau terus update dan artikel mendalam lainnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Hukum Istri Gugat Cerai Suami dalam Perspektif Islam
Baca Juga: Ridwan Kamil Digugat Cerai Atalia, Kuasa Hukum Angkat Bicara
FAQ
Apa yang dimaksud dengan gray divorce?
Gray divorce adalah perceraian yang terjadi pada pasangan berusia 50 tahun ke atas. Umumnya, pasangan yang mengalami gray divorce telah menikah dalam jangka panjang, sekitar 20 hingga 40 tahun, sebelum akhirnya memutuskan berpisah.
Mengapa gray divorce disebut semakin marak?
Fenomena gray divorce meningkat seiring perubahan pandangan masyarakat terhadap pernikahan, meningkatnya harapan hidup, serta kesadaran akan kesehatan mental dan kualitas hidup. Banyak pasangan tidak lagi merasa wajib bertahan dalam pernikahan yang tidak membahagiakan.
Apa penyebab utama gray divorce?
Penyebab gray divorce biasanya merupakan akumulasi konflik jangka panjang. Faktor yang sering muncul antara lain fase empty nest, ketidakpuasan emosional, konflik yang tidak pernah terselesaikan, perubahan nilai hidup, pensiun, hingga keinginan untuk pertumbuhan pribadi di usia lanjut.
Apakah gray divorce hanya terjadi di negara maju?
Tidak. Meski lebih dulu marak di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara Eropa, tren gray divorce mulai terlihat di Indonesia. Data menunjukkan peningkatan perceraian pada usia 50 tahun ke atas dalam beberapa tahun terakhir.
Apa perbedaan gray divorce dengan perceraian usia muda?
Perceraian usia muda sering dipicu oleh faktor seperti perselingkuhan, masalah ekonomi, atau kurangnya kesiapan menikah. Sementara gray divorce biasanya terjadi karena konflik menahun, perasaan tumbuh ke arah berbeda, dan evaluasi ulang makna hidup setelah puluhan tahun menikah.
Apakah gray divorce lebih sering diprakarsai oleh laki-laki atau perempuan?
Berbagai studi menunjukkan bahwa gray divorce cukup sering diprakarsai oleh perempuan. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya kemandirian finansial dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental serta kepuasan emosional dalam hubungan.
Bagaimana dampak gray divorce terhadap anak yang sudah dewasa?
Meski anak-anak sudah dewasa, gray divorce tetap bisa berdampak emosional. Beberapa anak mengalami kesulitan menerima perubahan struktur keluarga, merasa terjebak dalam konflik orang tua, atau mengalami ketegangan dalam hubungan keluarga.
Apa dampak gray divorce bagi pasangan itu sendiri?
Dampaknya bisa berbeda pada setiap individu. Sebagian merasa lebih lega dan menemukan kembali makna hidup, sementara yang lain menghadapi tantangan emosional, sosial, dan finansial, terutama setelah menjalani pernikahan dalam waktu yang sangat lama.
Apakah gray divorce selalu merupakan pilihan yang salah?
Tidak selalu. Dalam banyak kasus, gray divorce merupakan keputusan yang diambil dengan pertimbangan matang demi meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan mental. Namun, keputusan ini tetap membawa konsekuensi besar yang perlu dipikirkan secara menyeluruh.
Bagaimana cara mencegah konflik yang berujung pada gray divorce?
Komunikasi jujur, penyelesaian konflik sejak dini, keterbukaan terhadap perubahan, serta perhatian pada kesehatan emosional pasangan menjadi kunci utama. Menghindari kebiasaan berpura-pura bahagia juga penting agar masalah tidak menumpuk bertahun-tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









