Cara Mengukur Perempuan Sudah Siap Menikah: Menurut Kematangan Diri, Bukan Usia

AKURAT.CO Siap menikah bukan diukur dari umur, desakan keluarga, atau melihat teman sudah menikah.
Kesiapan menikah adalah gabungan dari kesiapan mental, emosional, finansial, dan cara melihat masa depan.
Seorang perempuan dianggap siap bukan ketika “sudah ingin punya pasangan,” tetapi ketika siap membangun hidup bersama, menghadapi masalah, dan tetap bertumbuh di dalamnya.
Baca Juga: Cie...Gempi Makin Dekat dengan Cinta Brian, Gisella Anastasia Siap Menikah Lagi?
1. Sudah Kenal dan Berdamai dengan Diri Sendiri
Dia tahu apa yang dia mau, paham kelebihan-kekurangan dirinya, dan tidak berharap pasangan akan “melengkapi” semua kekosongannya.
2. Sudah Matang Secara Emosional
Tanda matangnya antara lain:
-
Tidak mudah meledak saat ada konflik
-
Mampu berkomunikasi tanpa menyerang
-
Bisa menunda ego demi solusi
-
Tidak mengandalkan silent treatment sebagai hukuman
3. Punya Batasan (Boundaries) yang Sehat
Siap menikah berarti:
-
Bisa bilang tidak saat perlu
-
Tidak kehilangan jati diri demi orang lain
-
Tetap punya prinsip meski sedang jatuh cinta
4. Mandiri Secara Finansial atau Punya Rencana yang Realistis
Bukan harus ultra mapan, tapi sudah:
-
Bisa mengatur keuangan sendiri
-
Punya rencana masa depan (tabungan, karier, pendidikan, tempat tinggal)
-
Tidak menjadikan pernikahan sebagai jalan untuk “diselamatkan secara ekonomi”
5. Siap dengan Komitmen, Bukan Sekadar Romantisme
Dia menyadari bahwa pernikahan:
-
Bukan hanya soal tanggal cantik dan foto resepsi
-
Ada tanggung jawab, kolaborasi, dan negosiasi setiap hari
-
Cinta saja tidak cukup tanpa kerja sama dan rasa hormat
6. Mampu Membangun Relasi yang Sehat
Ciri-cirinya:
-
Tidak bergantung secara emosional
-
Bisa menyelesaikan konflik dengan dialog
-
Tidak menguji cinta dengan drama, manipulasi, atau cemburu berlebihan
Baca Juga: Siap Menikah dengan Tiko Aryawardhana, BCL Mulai Hapus Nama 'Sinclair' dari Akun Instagramnya
7. Punya Kesiapan Menjadi Tim, Bukan Hanya “Dipimpin”
Bukan tentang siapa yang dominan, tetapi:
-
Siap diskusi bareng soal keputusan besar
-
Siap saling menguatkan saat ada masalah
-
Siap menerima bahwa pernikahan adalah kerja tim
Intinya:
Seorang perempuan siap menikah ketika dia tidak lagi mencari penyelamat, tetapi siap menjadi partner.
Bukan takut sendirian, tapi siap membangun kebersamaan. Bukan karena “sudah waktunya,” tapi karena sudah siap dengan tanggung jawabnya.
Dinda NS (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









