Bukan Kaleng-kaleng, 5 CEO Ini Berhasil Lewati Badai Krisis

AKURAT.CO Banyak pepatah dari orang sukses bilang, CEO sejati adalah mereka yang mampu menavigasi bisnis dan perusahaan saat krisis melanda.
Ya, krisis moneter 1998 menjadi salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah runtuh, ribuan perusahaan bangkrut, dan sektor perbankan kolaps.
Namun, di tengah kehancuran tersebut, sejumlah pengusaha Indonesia justru mampu bertahan, melakukan restrukturisasi, dan bangkit lebih kuat. Hingga kini, nama-nama tersebut masih mendominasi perekonomian nasional dan regional.
Artikel ini mengulas 5 pengusaha Indonesia yang selamat dari krisis moneter 1998 dan sukses mempertahankan bisnisnya hingga sekarang, lengkap dengan strategi bertahan dan pelajaran bisnis penting yang relevan untuk generasi muda, investor, dan pelaku usaha.
Krisis Moneter 1998: Ujian Terberat Dunia Usaha Indonesia
Krisis moneter Asia 1997–1998 menyebabkan:
- Nilai rupiah jatuh lebih dari 70%
- Sektor perbankan kolaps
- Utang korporasi membengkak akibat depresiasi kurs
- PHK massal dan kontraksi ekonomi nasional
Baca Juga: Serial Konglomerat X: Gurita Bisnis Mochtar Riady, Pengusaha Tionghoa Asal Malang
Di tengah kondisi tersebut, hanya sedikit konglomerat Indonesia yang mampu bertahan. Mereka yang selamat umumnya melakukan restrukturisasi utang, penjualan aset, efisiensi ekstrem, dan fokus pada bisnis inti.
1. Dr. Hc. Ir. Ciputra – Bertahan di Tengah Runtuhnya Sektor Properti
Pendiri Ciputra Group ini menghadapi tantangan besar karena sektor properti merupakan salah satu industri paling terdampak krisis moneter. Namun, kelompok usaha yang didirikan almarhum Ciputra ini memilih strategi bertahan jangka panjang.
Strategi Bertahan Ciputra Group:
- Penundaan proyek non-prioritas
- Efisiensi biaya operasional
- Diversifikasi sektor usaha
Pasca-krisis, Ciputra Group berkembang ke pusat perbelanjaan, perhotelan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga agribisnis. Hingga kini, Ciputra Group tetap menjadi pemain utama properti nasional.
2. Mochtar Riady – Lippo Group Selamat Lewat Restrukturisasi dan Suntikan Modal
Pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, menghadapi tekanan likuiditas besar saat krisis moneter 1998. Alih-alih membiarkan bisnis runtuh, Lippo melakukan penyesuaian model bisnis secara radikal.
Langkah Kunci Lippo Group:
- Menjual sebagian aset strategis
- Melepas saham Lippo Life ke AIG
- Mengalihkan fokus dari perbankan ke properti, rumah sakit, dan ritel
Strategi ini membuat Lippo Group tetap eksis dan bahkan berkembang hingga saat ini, khususnya di sektor kesehatan dan properti terintegrasi.
3. Anthony Salim – Bangkit dari Krisis Utang Terbesar di Indonesia
Salim Group menjadi simbol betapa parahnya dampak krisis moneter 1998. Kelompok ini harus melepas berbagai aset strategis, termasuk Bank Central Asia (BCA).
Namun, di bawah kepemimpinan Anthony Salim, Salim Group berhasil bangkit.
Strategi Kebangkitan Salim Group:
- Fokus pada bisnis inti: Indofood
- Restrukturisasi utang besar-besaran
- Ekspansi ke pasar internasional
Kini, Indofood menjadi raksasa industri pangan Asia, sementara Salim Group tetap menjadi konglomerasi global.
4. Keluarga Hartono – Membeli BCA di Saat Krisis
Keluarga Hartono (Djarum Group) melihat krisis moneter sebagai peluang. Saat banyak investor mundur, mereka justru melakukan langkah strategis dengan mengakuisisi Bank Central Asia (BCA).
Kunci Kesuksesan Keluarga Hartono:
- Akuisisi aset undervalued
- Manajemen risiko konservatif
- Diversifikasi lintas sektor
Kini, BCA menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Keluarga Hartono juga mengembangkan bisnis ke elektronik, perkebunan, properti, hingga investasi digital.
5. Eka Tjipta Widjaja – Sinar Mas Bertahan Lewat Restrukturisasi Utang
Sinar Mas Group juga menghadapi tekanan besar akibat krisis moneter. Namun, pendirinya Eka Tjipta Widjaja memilih jalur restrukturisasi ketimbang pembubaran usaha.
Langkah Penyelamatan Sinar Mas:
- Restrukturisasi utang internasional
- Melepas Bank Internasional Indonesia (BII)
- Memperkuat sektor agribisnis dan pulp & paper
Saat ini, Sinar Mas Group tetap menjadi salah satu konglomerasi terbesar di Asia Tenggara.
Pelajaran Penting dari Pengusaha yang Selamat dari Krisis Moneter
Dari lima kisah di atas, terdapat benang merah yang kuat:
- Krisis bukan akhir, tapi titik balik
- Restrukturisasi lebih penting daripada ekspansi
- Fokus pada bisnis inti adalah kunci keberlanjutan
- Keberanian mengambil keputusan sulit menentukan masa depan perusahaan
Pelajaran ini sangat relevan di tengah ketidakpastian ekonomi global 2025–2026, termasuk risiko resesi dan volatilitas pasar.
Siapa yang Bertahan, Dia yang Menang
Tidak semua pengusaha besar mampu melewati krisis moneter 1998. Mereka yang selamat adalah yang paling adaptif, disiplin, dan strategis. Hingga hari ini, lima pengusaha dan kelompok usaha tersebut masih menjadi pilar ekonomi Indonesia.
Bagi investor, pengusaha muda, dan profesional, kisah ini menjadi pengingat bahwa daya tahan bisnis jauh lebih penting daripada pertumbuhan cepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










