Akurat

BTC Tertahan di Bawah USD90.000, Sinyal Bearish Masih Kuat

Andi Syafriadi | 25 Januari 2026, 18:50 WIB
BTC Tertahan di Bawah USD90.000, Sinyal Bearish Masih Kuat

AKURAT.CO Pasar kripto bergerak melemah tipis pada Sabtu (24/1/2026) pagi, dengan harga Bitcoin (BTC) masih tertahan di bawah level psikologis USD90.000. Pergerakan yang relatif datar ini mencerminkan kondisi pasar yang bimbang, di mana pelaku pasar belum memiliki keyakinan kuat untuk kembali masuk secara agresif.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Minggu (25/1/2026), kapitalisasi pasar kripto global turun 0,05% menjadi USD3,03 triliun. Bitcoin tercatat melemah tipis 0,03% ke level USD89.745 per koin, atau setara sekitar Rp1,5 miliar dengan asumsi kurs Rp16.777 per USD.

Tekanan tidak hanya dialami Bitcoin. Indeks CoinDesk 20 yang merepresentasikan pergerakan 20 aset kripto terbesar dunia juga terkoreksi 0,17%. Ethereum (ETH) turun 0,12% ke USD2.963, Solana (SOL) melemah 0,51% ke USD127, dan Dogecoin (DOGE) tergerus 0,75% ke USD0,12. Di sisi lain, Binance Coin (BNB) justru menguat 0,23% ke USD892, sementara XRP naik 0,46% ke USD1,92.

Baca Juga: Harga Bitcoin Tertekan di Awal Tahun, Ini Proyeksi BTC 2026 di Tengah Volatilitas Global

Dikutip dari TradingView, pergerakan Bitcoin saat ini berada di zona abu-abu setelah sebelumnya menembus ke bawah US$90.000. Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah pelemahan tersebut hanya koreksi sementara atau sinyal awal dari fase penurunan yang lebih dalam.

Analis kripto Axel Adler menilai pelemahan momentum Bitcoin saat ini masih selaras dengan indikator makro yang menunjukkan tekanan bearish moderat. Ia merujuk pada indikator Trend Pulse yang sejak 19 Januari 2026 masih berada dalam fase Bear Mode.

“Sejak 19 Januari, pasar belum kembali ke Bull Mode. Fase bullish terakhir muncul pada 2 November 2025, dan hingga kini sudah 83 hari berturut-turut tanpa sinyal penguatan struktural,” ujar Adler.

Menurut Adler, pergeseran Trend Pulse dari Netral ke Bear dipicu oleh dua sinyal negatif sekaligus, yakni imbal hasil 14 hari yang berubah menjadi negatif serta posisi SMA30 yang berada di bawah SMA200. Selain itu, imbal hasil kuartalan Bitcoin saat ini tercatat minus 19%.

“Imbal hasil kuartalan di level -19% menunjukkan kondisi makro yang lemah, meski belum masuk fase kapitulasi ekstrem yang biasanya menandai dasar pasar,” jelasnya.

Baca Juga: Peretasan Terbesar Kripto Terungkap, 127 Ribu BTC Dicuri dari LuBian

Ia menambahkan, pemulihan awal setidaknya membutuhkan imbal hasil 14 hari kembali ke zona positif agar pasar keluar dari Bear Mode ke fase Netral. Namun, untuk kembali masuk Bull Mode, diperlukan persilangan SMA30 di atas SMA200.

“Dengan jarak rata-rata pergerakan saat ini, dibutuhkan reli yang konsisten selama sekitar tiga hingga empat pekan, bukan sekadar pantulan jangka pendek,” kata Adler.

Dari sisi teknikal, grafik harga Bitcoin menunjukkan pola lower high sejak puncak awal November 2025. Meski sempat mengalami rebound setelah menyentuh dasar pada akhir November, BTC kembali kesulitan menembus area USD95.000 dan kini bergerak dalam fase konsolidasi lebar.

Volume perdagangan juga tercatat lebih besar saat harga turun dibandingkan ketika terjadi rebound. Kondisi ini mengindikasikan tekanan jual masih lebih dominan di pasar.

Untuk jangka pendek, pelaku pasar menilai area USD90.000 menjadi level kunci yang harus direbut kembali oleh Bitcoin. Jika mampu bertahan di atas rentang USD92.000–USD94.000, peluang pembalikan tren mulai terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut berpotensi membuka ruang koreksi lanjutan menuju area USD85.000.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi