Akurat

Peretasan Terbesar Kripto Terungkap, 127 Ribu BTC Dicuri dari LuBian

Hefriday | 3 Agustus 2025, 19:25 WIB
Peretasan Terbesar Kripto Terungkap, 127 Ribu BTC Dicuri dari LuBian

AKURAT.CO Sebuah kasus pencurian aset kripto terbesar dalam sejarah akhirnya terungkap setelah lebih dari tiga tahun berlalu. Arkham Intelligence, sebuah perusahaan analisis blockchain, mengungkap bahwa sebanyak 127.426 Bitcoin telah dicuri dari LuBian, sebuah mining pool asal Tiongkok, pada akhir Desember 2020.

Saat itu, nilai Bitcoin yang digondol mencapai USD3,5 miliar. Namun, karena kenaikan nilai Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir, jumlah tersebut kini setara dengan sekitar USD14,5 miliar atau lebih dari Rp230 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS).

Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (3/8/2025), LuBian dikenal sebagai salah satu kolam penambangan Bitcoin terkemuka pada masa itu, mengoperasikan fasilitas penambangan di China dan Iran.

Bahkan, pada 2020, mereka menguasai hampir 6% dari total hash rate jaringan Bitcoin secara global. Namun, di balik kejayaan tersebut, LuBian rupanya menjadi korban dari peretasan besar-besaran yang dilakukan secara diam-diam dan sistematis.

Baca Juga: Tips Sebelum Berinvestasi Bitcoin

Menurut Arkham, lebih dari 90% dana BTC milik LuBian dikuras hanya dalam satu hari, tepatnya pada 28 Desember 2020. Dua hari kemudian, sejumlah dana tambahan juga disedot dari alamat Bitcoin berbasis Omni Layer.

Anehnya, baik LuBian maupun pelaku peretasan tidak pernah secara terbuka mengakui adanya pelanggaran tersebut, yang membuat publik dan komunitas kripto tidak menyadari skala insiden ini hingga baru-baru ini.

Penelusuran lebih lanjut oleh Arkham Intelligence mengungkapkan bahwa Bitcoin hasil curian tersebut tidak pernah dipindahkan selama lebih dari tiga tahun. Baru pada Juli 2024 terjadi aktivitas konsolidasi, yang akhirnya memicu analisis mendalam oleh para peneliti blockchain.

Salah satu temuan menarik adalah bahwa alamat-alamat yang digunakan peretas menerima pesan-pesan OP_RETURN dari pihak LuBian. Melalui fitur ini, LuBian menghabiskan sekitar 1,4 BTC dalam 1.516 transaksi sebagai upaya meminta kembalinya dana mereka yang hilang.

Upaya LuBian untuk meminta belas kasihan kepada peretas menegaskan bahwa serangan ini nyata dan bukan sekadar manipulasi internal atau rekayasa keuangan. Arkham menyebut bahwa pola komunikasi tersebut menjadi salah satu indikator paling kuat yang membuktikan bahwa peretasan benar-benar terjadi dan melibatkan aktor eksternal yang sangat lihai dalam menyembunyikan jejaknya.

Salah satu hipotesis yang diajukan Arkham adalah bahwa peretasan ini dimungkinkan karena kelemahan dalam sistem pembuatan kunci privat LuBian. Mereka diduga menggunakan algoritma yang cacat atau memiliki kerentanan, sehingga dapat dieksploitasi oleh pihak ketiga melalui metode brute-force. Dengan kata lain, sistem keamanan yang tidak diperbarui dan tidak terstandarisasi bisa membuka celah fatal bagi pelaku kejahatan siber.

Baca Juga: Bagaimana Cara Kerja Bitcoin ? Ini yang Mempengaruhi Harganya

Sampai saat ini, peretas yang tidak teridentifikasi itu belum menunjukkan tanda-tanda akan mencairkan atau memindahkan dana hasil rampasannya. Akibatnya, dompet milik pelaku kini tercatat sebagai pemilik Bitcoin terbesar ke-13 di dunia, melampaui banyak institusi besar dan investor mapan dalam hal kepemilikan BTC.

Sebaliknya, LuBian sendiri masih menyimpan sekitar 11.886 BTC yang saat ini bernilai sekitar USD1,35 miliar. Jumlah tersebut jauh di bawah aset mereka sebelum serangan, namun tetap menjadikan LuBian sebagai salah satu pemain besar dalam ekosistem penambangan Bitcoin. Meski begitu, reputasi mereka tentu telah tercoreng akibat kelalaian dalam menjaga sistem keamanan digital.

Terungkapnya insiden ini menyalip rekor sebelumnya, yakni peretasan terhadap bursa kripto Bybit pada Februari 2025 yang merugikan hingga USD1,5 miliar. Artinya, pencurian terhadap LuBian secara nilai jauh lebih besar, bahkan empat kali lipat dari kejadian yang dianggap sangat masif tersebut.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pelaku industri kripto, baik mining pool, bursa kripto, maupun individu pemegang aset digital, untuk terus memperkuat sistem keamanan mereka. Infrastrukturnya harus diperiksa secara berkala dan sistem penyimpanan kunci privat perlu ditingkatkan dengan enkripsi yang lebih canggih serta prosedur multi-sig (multi-signature).

Terakhir, penemuan Arkham Intelligence ini bukan hanya membuka fakta kelam di balik salah satu entitas kripto besar dunia, tetapi juga menyampaikan pesan yang jelas, yakni kepercayaan terhadap aset digital tidak cukup hanya dibangun di atas nilai tukar, melainkan juga pada transparansi dan keamanan sistem yang menopang ekosistem tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi