Meski 53 Persen Konsumen Minta ETH, Steak ‘n Shake Tetap Pilih Bitcoin

AKURAT.CO Steak ‘n Shake semakin memantapkan posisinya sebagai perusahaan restoran yang mengadopsi filosofi Bitcoin-only.
Meski survei internal menunjukkan 53% responden menginginkan penambahan Ethereum (ETH) sebagai metode pembayaran, manajemen secara tegas menolak opsi tersebut dan tetap berfokus pada Bitcoin.
Keputusan ini mencerminkan strategi diferensiasi yang disengaja. Dengan hanya mengadopsi Bitcoin, Steak ‘n Shake menargetkan segmen konsumen yang memiliki orientasi ideologis kuat terhadap aset kripto tersebut.
Baca Juga: Outlook Bullish Bitcoin Menuju USD190.000 di 2026, Simak Sinyalnya
Manajemen menilai konsistensi ini justru memperkuat loyalitas pelanggan di komunitas kripto global.
Pendekatan tersebut tidak hanya diterapkan pada sisi konsumen, tetapi juga internal perusahaan. Pada Oktober lalu, Steak ‘n Shake memperbarui sistem penggajian sehingga sekitar 10.000 karyawannya dapat menerima sebagian gaji dalam bentuk Bitcoin.
Kebijakan ini memperlihatkan pandangan perusahaan terhadap Bitcoin sebagai penyimpan nilai jangka panjang yang dianggap sebanding dengan mata uang fiat.
Dikutip dari beberapa sumber, Minggu (18/1/2026) selain sebagai alat transaksi, Bitcoin juga dimanfaatkan sebagai instrumen pemasaran. Steak ‘n Shake secara aktif memposisikan mereknya di ruang digital dan komunitas kripto, menjadikannya relevan bagi generasi muda yang akrab dengan aset digital dan teknologi finansial baru.
Baca Juga: Inflasi AS Terjaga, Bitcoin Menguat ke USD97.000
Manajemen perusahaan mengklaim strategi tersebut berkontribusi terhadap kinerja bisnis sepanjang 2025. Pertumbuhan penjualan dua digit pada toko sejenis disebut sebagai yang terbaik di industri restoran cepat saji, sekaligus menjadi pembenaran atas pendekatan maksimalis Bitcoin yang diambil perusahaan.
Di tengah dominasi restoran konvensional dengan model pembayaran tradisional, langkah Steak ‘n Shake menempatkan perusahaan sebagai outlier. Dengan mengikat identitas merek pada Bitcoin, perusahaan berusia 90 tahun ini berupaya mempertahankan relevansi di era ekonomi digital sekaligus menguji batas baru integrasi kripto dalam sektor ritel makanan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan









