Akurat

BI Proyeksikan Transaksi Pembayaran Digital Tumbuh 29,7% di 2026

Andi Syafriadi | 18 Desember 2025, 11:42 WIB
BI Proyeksikan Transaksi Pembayaran Digital Tumbuh 29,7% di 2026

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) memproyeksikan transaksi pembayaran digital di Tanah Air akan terus tumbuh positif pada 2026.

Otoritas moneter memperkirakan nilai transaksi pembayaran digital meningkat sebesar 29,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), seiring semakin masifnya adopsi teknologi digital di masyarakat.

Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta mengatakan, proyeksi pertumbuhan tersebut didorong oleh sejumlah faktor utama, mulai dari perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), inovasi teknologi, hingga penguatan aspek keamanan sistem pembayaran.

Baca Juga: Rupiah Terjaga di Tengah Gejolak Global, BI Ungkap Penopangnya

Faktor kepercayaan publik juga menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan.

“Didukung dengan perluasan penggunaan QRIS, inovasi teknologi, penguatan aspek keamanan, dan tentunya juga kepercayaan publik,” ujar Filianingsih dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Desember 2025 di Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Filianingsih menjelaskan, kinerja ekonomi digital Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren yang sangat kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan transaksi pembayaran digital yang terus meningkat di tengah aktivitas ekonomi masyarakat yang kian bergeser ke kanal digital.

Hingga November 2025, volume transaksi pembayaran digital tercatat tumbuh 41,12% secara tahunan dengan total mencapai 4,66 miliar transaksi.

Capaian tersebut mencerminkan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran yang semakin merata di berbagai lapisan masyarakat.

Transaksi pembayaran digital tersebut mencakup layanan mobile banking, QRIS, dan internet banking. Dari sisi volume, mobile banking masih mendominasi dengan jumlah transaksi mencapai 2,79 miliar, diikuti QRIS sebanyak 1,68 miliar transaksi, serta internet banking.

Baca Juga: BI Gelontorkan KLM Rp388,1 Triliun Dorong Perbankan Gerakkan Sektor Prioritas Pemerintah

Namun, dari sisi laju pertumbuhan, QRIS mencatatkan kinerja paling impresif. Volume transaksi QRIS tumbuh sebesar 143,64% (yoy), jauh melampaui pertumbuhan transaksi mobile banking dan internet banking yang masing-masing meningkat 15,91% dan 16,11% secara tahunan.

Menurut Filianingsih, lonjakan transaksi tersebut menunjukkan semakin luasnya adopsi pembayaran digital, tidak hanya di kalangan konsumen, tetapi juga di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Digitalisasi dinilai telah mempermudah proses transaksi dan meningkatkan efisiensi kegiatan usaha.

“Kinerja ini menunjukkan bahwa digitalisasi sistem pembayaran ini sudah menjadi fondasi utama aktivitas ekonomi, terutama untuk konsumsi, transportasi, dan juga layanan publik,” kata Filianingsih.

Dari sisi infrastruktur sistem pembayaran, BI mencatat volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 439 juta transaksi pada November 2025. Angka ini tumbuh 29,77% (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.092 triliun.

Sementara itu, transaksi bernilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,87 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp20.463 triliun pada periode yang sama.

Kinerja tersebut menunjukkan peran penting infrastruktur BI dalam mendukung kelancaran transaksi keuangan nasional.

Adapun dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tercatat tumbuh 13,09% secara tahunan menjadi Rp1.250,60 triliun pada November 2025.

Data ini menunjukkan bahwa penggunaan uang tunai masih tumbuh, meski digitalisasi pembayaran terus mengalami percepatan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
A