Akurat

Orange Bonds: Instrumen Baru yang Dorong Keuangan Berkelanjutan dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia

Idham Nur Indrajaya | 17 November 2025, 16:59 WIB
Orange Bonds: Instrumen Baru yang Dorong Keuangan Berkelanjutan dan Pemberdayaan Perempuan di Indonesia

 

AKURAT.CO Indonesia kembali mencuri perhatian dunia lewat penerbitan Orange Bonds dan Orange Sukuks berskala besar yang diluncurkan dalam rangkaian Orange Forum 2025. Forum internasional yang mempertemukan lebih dari 300 investor, pembuat kebijakan, dan pemimpin masyarakat sipil ini digelar untuk membahas solusi pendanaan inovatif yang mampu menjembatani kebutuhan investasi berkelanjutan—khususnya yang terkait pemberdayaan perempuan dan ketangguhan iklim.

Konteksnya sangat relevan. Dunia membutuhkan triliunan dolar untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), sementara perempuan dan kelompok terpinggirkan di Global Selatan masih mengalami hambatan besar untuk mengakses modal. Lewat forum ini, lahirlah momentum penting yang menempatkan Indonesia di garis depan inovasi keuangan berkelanjutan.


Mengapa Orange Bonds Penting?

Orange Bonds merupakan instrumen keuangan tematik yang memadukan dua fokus utama: kesetaraan gender dan aksi iklim. Tidak seperti obligasi hijau yang hanya menekankan aspek lingkungan, Orange Bonds memperluas cakupan dampak dengan memasukkan agenda sosial yang terukur.

Instrumen ini bagian dari Orange Capital, sebuah kelas aset lintas sektor yang mencakup obligasi, sukuk, pinjaman, dan jaminan. Semuanya beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip Orange Bonds, yang mengharuskan pengukuran dan verifikasi dampak secara ketat—termasuk bagaimana pembiayaan tersebut benar-benar memberdayakan perempuan.

Prof. Durreen Shahnaz, Pendiri dan CEO Impact Investment Exchange (IIX), mengatakan bahwa Orange Movement membuktikan bahwa solusi yang berorientasi pasar dapat membantu menutup kesenjangan pembiayaan SDG. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sebagai pengganda, sehingga ketika mereka diberdayakan, dampaknya merembet ke sektor lain: pertumbuhan ekonomi, stabilitas iklim, hingga kesejahteraan komunitas.

"Dengan mengakui perempuan sebagai pengganda, kami menunjukkan bagaimana membangun pasar modal yang inklusif mencapai keadilan iklim sejati, transisi yang adil, dan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan," ujarnya dalam acara Orange Forum 2025 di Bursa Efek Indonesia, Senin, 17 November 2025.


Indonesia Jadi Pemimpin Global Penerbitan Orange Bonds

Puncak acara Orange Forum 2025 adalah perayaan penerbitan Orange Bonds dan Orange Sukuks milik PT Permodalan Nasional Madani (PNM) senilai sekitar US$980 juta. Ini bukan hanya penerbitan terbesar di dunia, tetapi juga yang pertama dalam bentuk sukuk. Pembiayaan tersebut dirancang untuk memberdayakan 15,7 juta wirausaha perempuan di Indonesia—sebuah capaian yang langsung menempatkan Indonesia sebagai pusat inovasi keuangan inklusif global.

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Pencatatan Bursa Efek Indonesia (BEI), menyebut bahwa forum ini menjadi bukti komitmen Indonesia dalam membangun ekosistem investasi yang cerdas iklim dan berperspektif gender. Ia menekankan pentingnya generasi investor baru yang memandang kesetaraan sebagai bagian penting dari pertumbuhan ekonomi masa depan.


Cara Kerja Orange Bonds: Menggabungkan Dampak Sosial dan Iklim

Keunggulan utama Orange Bonds terletak pada model pengukurannya. Semua proyek yang dibiayai harus melalui proses:

  • Pengukuran dampak terhadap perempuan dan komunitas terpinggirkan

  • Pelaporan transparan

  • Verifikasi independen untuk memastikan tidak ada “impact washing”

Skema ini membangun kepercayaan investor, sekaligus memastikan modal benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan.

Wakil Menteri PPN/Bappenas, Leonardo Teguh Sambodo, menjelaskan bahwa Orange Bonds melampaui sekadar obligasi berkelanjutan. Ia menilai mekanisme ini sebagai alat kuat yang membantu negara-negara berkembang mempercepat pencapaian SDGs sekaligus memperkuat posisi mereka dalam percaturan keuangan global.

"Orange Bonds melampaui obligasi berkelanjutan tradisional. Tidak seperti obligasi hijau konvensional yang berfokus terutama pada dampak lingkungan, Orange Bonds secara unik membahas persimpangan dampak sosial dan lingkungan sekaligus meningkatkan transparansi. Kami melihat ini sebagai mekanisme yang ampuh untuk mempercepat kemajuan SDG global dan memperkuat kepemimpinan negara-negara berkembang dalam keuangan berkelanjutan," kata Leonardo.


Orange Forum 2025: Titik Temu Pemerintah, Investor, dan Masyarakat

Berbeda dari konferensi konvensional, Orange Forum 2025 dirancang sebagai platform aksi. Tidak hanya berdiskusi, peserta langsung merumuskan strategi konkretnya. Mereka membahas regulasi, infrastruktur pasar modal, sistem data, hingga langkah-langkah yang dapat menggerakkan modal dalam skala besar.

Dengan pendekatan ekosistem, forum ini berhasil menciptakan sinergi antara:

  • Pemerintah

  • Investor institusional

  • Regulator dan otoritas pasar modal

  • Lembaga multilateral

  • Pelaku usaha

  • Masyarakat sipil

  • Spesialis data

Sinergi inilah yang membuat gagasan Orange Movement dapat naik kelas menjadi gerakan global.


Jejak Global Orange Movement

Sejak 2022, Orange Movement telah berkembang pesat. Hingga saat ini:

  • Mengumpulkan lebih dari 293.000 pendukung global

  • Menghasilkan komitmen modal lebih dari US$1,4 miliar

  • Memberikan dampak langsung kepada lebih dari 3,16 juta jiwa

Lebih dari 10 penerbitan Orange Bonds telah dilakukan di berbagai negara seperti Bangladesh, India, Filipina, Sri Lanka, Jepang, Vietnam, hingga Amerika Serikat. Target besarnya: mobilisasi US$10 miliar dan pemberdayaan 100 juta perempuan serta minoritas gender pada tahun 2030.


Indonesia di Garda Terdepan Transformasi Keuangan Berkelanjutan

Dengan penerbitan Orange Bonds berskala besar dan kemitraan strategis antara IIX, BEI, Bappenas, serta Australia melalui DFAT, Indonesia diposisikan sebagai katalis utama gerakan ini. Capaian Indonesia dalam penyaluran lebih dari US$10 miliar melalui obligasi tematik dan sukuk menjadi bukti nyata bahwa keuangan inovatif bisa menghadirkan perubahan struktural.

Ke depan, ekosistem Orange Capital tidak hanya membantu mempersempit kesenjangan pendanaan SDGs, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia terhadap berbagai tantangan global.


Kesimpulan

Orange Bonds bukan sekadar instrumen keuangan baru. Ia adalah fondasi dari model pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan—sebuah inovasi yang menyatukan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam satu platform yang terukur. Dengan Indonesia berada di barisan depan, peluang untuk mempercepat kesetaraan gender dan pembangunan berkelanjutan semakin terbuka lebar.

Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan inovasi keuangan berkelanjutan seperti ini, pantau update selanjutnya di media kami.

Baca Juga: Kebut Inklusi Keuangan Perempuan, Venteny Raih Pendanaan USD5,5 Juta dari Women's Livelihood Bond 7

Baca Juga: Patriot Bond Danantara

FAQ

1. Apa itu Orange Bonds?

Orange Bonds adalah instrumen keuangan berkelanjutan yang menggabungkan dampak sosial dan lingkungan. Instrumen ini fokus pada kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, serta aksi iklim, dengan pengukuran dan verifikasi dampak yang ketat.

2. Apa yang membedakan Orange Bonds dari Green Bonds?

Green Bonds menitikberatkan pada proyek lingkungan, sedangkan Orange Bonds memperluas dampak dengan memasukkan aspek sosial—terutama pemberdayaan perempuan dan komunitas terpinggirkan. Prinsipnya mengharuskan transparansi, pelaporan, dan verifikasi dampak secara menyeluruh.

3. Mengapa Orange Bonds penting bagi pembangunan berkelanjutan?

Instrumen ini membantu menjembatani kesenjangan pendanaan SDGs yang mencapai triliunan dolar. Dengan fokus pada perempuan sebagai agen perubahan, Orange Bonds dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan tahan terhadap perubahan iklim.

4. Mengapa Indonesia dianggap sebagai pemimpin global dalam Orange Bonds?

Indonesia menerbitkan Orange Bonds dan Orange Sukuks terbesar di dunia, yakni sekitar US$980 juta melalui PT PNM. Penerbitan ini dirancang untuk memberdayakan 15,7 juta perempuan pelaku usaha dan memperkuat posisi Indonesia dalam inovasi keuangan berkelanjutan.

5. Siapa penyelenggara Orange Forum 2025?

Orange Forum 2025 diinisiasi oleh Impact Investment Exchange (IIX) bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI), Bappenas, serta Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT).

6. Apa tujuan utama Orange Movement?

Orange Movement menargetkan mobilisasi US$10 miliar untuk memberdayakan 100 juta perempuan, anak perempuan, dan minoritas gender pada tahun 2030, sekaligus mempercepat aksi iklim, stabilitas ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.

7. Bagaimana cara kerja Orange Capital?

Orange Capital mencakup Orange Bonds, Orange Sukuks, pinjaman, dan jaminan. Semua instrumen ini mengikuti prinsip pengukuran dampak yang ketat, transparansi data, serta verifikasi independen untuk memastikan pendanaan benar-benar sampai ke kelompok sasaran.

8. Apa manfaat Orange Bonds bagi investor?

Investor mendapatkan peluang berinvestasi pada instrumen berkelanjutan yang punya dampak sosial nyata sekaligus mendukung proyek ramah lingkungan. Model pelaporan yang transparan membuat investor lebih percaya dan yakin pada penggunaan dana.

9. Siapa yang paling diuntungkan dari penerbitan Orange Bonds?

Perempuan, anak perempuan, dan minoritas gender—khususnya di negara berkembang—yang selama ini menghadapi hambatan sistemik dalam mengakses modal usaha, peluang ekonomi, dan dukungan ekosistem bisnis.

10. Apakah Orange Bonds hanya ada di Indonesia?

Tidak. Orange Bonds telah diterbitkan di berbagai negara seperti Bangladesh, India, Filipina, Sri Lanka, Jepang, Vietnam, hingga Amerika Serikat. Namun, Indonesia saat ini menjadi penerbit terbesar sekaligus pelopor dalam penerbitan Orange Sukuks.

11. Bagaimana masa depan Orange Bonds di Indonesia?

Dengan dukungan regulator, investor, pemerintah, dan lembaga multilateral, Orange Bonds diproyeksikan akan terus berkembang dan berpotensi menjadi pilar baru keuangan berkelanjutan nasional, terutama untuk pemberdayaan ekonomi perempuan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.