Akurat

OJK: FinExpo Jadi Sarana Edukasi Risko hingga Legalitas Produk Keuangan ke Masyarakat

Hefriday | 24 Oktober 2025, 16:01 WIB
OJK: FinExpo Jadi Sarana Edukasi Risko hingga Legalitas Produk Keuangan ke Masyarakat

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya pemerataan literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui penyelenggaraan Financial Expo (FinExpo) 2025, sebuah rangkaian kegiatan nasional yang bertepatan dengan momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK). 

Tahun ini, Surabaya menjadi kota puncak penyelenggaraan, menegaskan posisinya sebagai salah satu motor penggerak ekonomi terbesar di Indonesia.
 
“Kita adakan secara nasional, tapi puncak acaranya dipusatkan di Surabaya karena kota ini punya peran strategis sebagai pusat ekonomi terbesar kedua di Indonesia,” ujar Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, Muhammad Ismail Riyadi, saat pembukaan FinExpo di Tunjungan Plaza, Jumat (24/10/2025).
 
Menurut Ismail, FinExpo merupakan langkah konkret OJK dalam memperluas akses keuangan yang aman, legal, dan logis bagi seluruh lapisan masyarakat. 
 
Melalui kegiatan ini, OJK ingin memastikan bahwa literasi dan inklusi keuangan tidak hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar memberi dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.
 
 
“Penyelenggaraan FinExpo bukan sekadar ajang pamer produk keuangan, tapi juga sarana edukasi agar masyarakat memahami risiko, manfaat, dan legalitas produk keuangan yang mereka gunakan,” kata Ismail.
 
Dirinya menegaskan, komitmen ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, yang menargetkan tingkat inklusi keuangan nasional 91% pada 2025 dan 98% pada 2045. 
 
Target ambisius ini menjadi tonggak penting untuk memastikan akses terhadap layanan keuangan menjadi hak yang merata bagi seluruh warga negara.
 
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan perkembangan positif yaitu indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia kini mencapai 66,46%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%.
 
Meski begitu, angka tersebut masih menyisakan kesenjangan antara pemahaman dan pemanfaatan layanan keuangan, terutama di wilayah-wilayah yang tergolong 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
 
“Hambatan terbesar kita adalah akses dan infrastruktur yang belum merata. Di beberapa daerah, fasilitas digital dan jaringan perbankan masih terbatas. Padahal, untuk memperluas literasi keuangan, akses fisik dan digital itu sama pentingnya,” jelas Ismail.
 
OJK, lanjutnya, berkomitmen untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan hingga ke kelompok masyarakat yang selama ini belum tersentuh, seperti pelajar, ibu rumah tangga, dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 
 
Mereka dianggap sebagai kelompok strategis yang dapat menjadi penggerak inklusi di tingkat akar rumput.
 
Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menambahkan bahwa perbedaan tingkat kemajuan teknologi antarwilayah masih menjadi tantangan utama dalam pemerataan literasi keuangan.
 
“Pulau Jawa memang lebih maju dalam hal infrastruktur dan akses teknologi. Namun di luar Jawa, masyarakat belum memiliki media dan sarana penyaring informasi yang memadai. Jadi, pendekatan yang kita lakukan harus berbeda untuk setiap daerah,” ungkap Yunita.
 
Dirinya menilai, literasi keuangan bukan hanya soal pengetahuan tentang produk, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam memilah informasi keuangan di tengah derasnya arus digitalisasi. 
 
“Masyarakat di kota besar lebih mudah mendapatkan informasi yang benar, tapi di daerah terpencil, mereka masih rawan terpapar tawaran keuangan ilegal,” katanya.
 
Untuk menjawab tantangan tersebut, OJK Jawa Timur mengintensifkan kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) hingga Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). 
 
Sinergi ini diharapkan mampu memperluas cakupan layanan dan mempercepat pemerataan akses keuangan di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.
 
“Setiap kota punya tantangan yang berbeda, jadi pendekatan kami juga harus adaptif. Kami terus berkolaborasi agar program literasi tidak berhenti di level seremonial, tapi benar-benar menembus lapisan masyarakat bawah,” ujar Yunita.
 
FinExpo 2025 yang digelar selama empat hari, 23–26 Oktober, memanfaatkan area Tunjungan Plaza 1, 2, 3, dan 6 sebagai pusat kegiatan. 
 
Agenda yang dihadirkan meliputi sesi edukasi, konsultasi keuangan gratis, pameran produk dan layanan PUJK, hingga aktivasi pembukaan rekening dan akses digital bagi masyarakat.
 
Partisipan FinExpo terdiri dari lembaga keuangan konvensional dan syariah, regulator, pelaku UMKM, komunitas literasi, serta pemerintah daerah. 
 
Selama kegiatan berlangsung, pengunjung dapat mengenal berbagai produk keuangan resmi mulai dari tabungan, asuransi, investasi pasar modal, hingga layanan fintech yang terdaftar di OJK.
 
FinExpo juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berdialog langsung dengan lembaga keuangan. Edukasi yang diberikan tidak hanya berfokus pada keuntungan, tapi juga risiko serta cara menghindari penipuan berkedok investasi atau pinjaman online ilegal.
 
Melalui FinExpo dan berbagai inisiatif literasi lainnya, OJK berharap masyarakat Indonesia semakin bijak dalam mengelola keuangan pribadi. Literasi keuangan yang baik diyakini mampu meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga, sekaligus memperluas basis ekonomi formal yang sehat.
 
“Kalau masyarakat paham bagaimana cara memanfaatkan produk keuangan secara benar, itu bukan hanya melindungi diri mereka sendiri, tapi juga memperkuat sistem ekonomi secara keseluruhan,” tutur Ismail.
 
Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan ini juga menjadi ajang konsolidasi sektor keuangan untuk memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. 
 
“FinExpo ini bukan semata pameran, tapi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa inklusi keuangan adalah fondasi utama pemerataan ekonomi nasional,” tukasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa