Akurat

Serial Konglomerat II: Gurita Bisnis Nurhayati Subakat dan ParagonCorp

Yosi Winosa | 21 Oktober 2025, 18:59 WIB
Serial Konglomerat II: Gurita Bisnis Nurhayati Subakat dan ParagonCorp

AKURAT.CO Nama ParagonCorp saat ini telah melekat kuat dalam industri kosmetik halal Indonesia bahkan dunia. Di balik merek-merek seperti Wardah, Make Over dan Emina berdiri visi seorang perempuan pengusaha yaitu Nurhayati Subakat. 

Berawal dari home-industry pada tahun 1985 dengan nama PT Pusaka Tradisi Ibu, Paragon diubah nama menjadi PT Paragon Technology and Innovation pada 2011. 
 
Nurhayati, yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 27 Juli 1950, menanamkan nilai-nilai keteladanan, kejujuran, inovasi dan kebermanfaatan dalam membangun bisnisnya. Sejak kecil, Nurhayati sudah akrab dengan dunia perniagaan berkat didikan orang tuanya. Ayahnya merupakan saudagar di Padang Panjang, Sumatera Barat sekaligus pimpinan salah satu organisasi muslim di sana.
 
Kerajaan bisnis kosmetik halal ParagonCorp sendiri sudah mendunia bertahun-tahun lamanya. Merek wardah sudah menjadi tulang punggung dan wajah inudtsri kosmetik halal Tanah Air, dan selalu disebut dalam laporan State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) oleh DinarStandard. Merek Wardah bahkan tak sungkan jika dibandingkan dengan merek yang lebih mengglobal misalnya dari Unilever sekalipun.
 
 
Kini ParagonCorp pun dinavigasi oleh anak-anaknya, Harman Subakat, Salman Subakat, dan Sari Chairunnisa yang diharapkan mampu melanjutkan estafet bisnis keluarga hingga jauh ke depan.
 
Filosofi besarnya adalah bahwa bisnis tidak sekadar mencari keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya perempuan di Indonesia. Misalnya, ia mengingat bahwa industri kosmetik sangat menjanjikan, namun juga memerlukan komitmen terhadap standar kualitas, inklusi (misalnya kosmetik halal) dan pemberdayaan.
 
Seperti kutipan yang sering ia ulang yakni “product, pricing, positioning, promotion  dan pertolongan Ilahi” menjadi empat plus satu pilar dalam strategi Paragon. Nilai demikian memengaruhi budaya korporasi Paragon, yang dikenal peduli terhadap pendidikan, aktivitas sosial, dan pembangunan kapasitas karyawan. 
 
ParagonCorp telah berkembang menjadi raksasa kosmetik dan kekuatan bisnis di sektor kecantikan di Indonesia. Untuk memahami lini bisnis ParagonCorp, mari kita telaah sektor-sektor utama yang menjadi pilar dan penyokong utamanya.

1. Industri Kosmetik dan Perawatan

 
Inilah inti bisnis ParagonCorp. Merek-merek seperti Wardah (diluncurkan tahun 1995), Make Over (2010), Emina dan lainnya, menjadi penopang utama.  Berdasarkan data, Paragon pernah menguasai hampir 29,7% pangsa pasar kosmetik lokal dan multinasional di Indonesia. 
 
Dengan memfokuskan pada kosmetik halal melalui Wardah, Paragon berhasil menjangkau segmen wanita muslimah yang semakin besar dan sadar akan produk halal. 
 
Selain itu, Paragon memperluas lini produk ke segmen profesional (Make Over), remaja (Emina), hingga kosmetik berbasis inovasi lainnya. Dengan sumber daya manusia yang besar, misalnya lebih dari 10.000 karyawan pada satu titik dan pabrik, distribusi yang tersebar, Paragon menunjukkan kemampuan manufaktur dan distribusi yang matang. 

2. Riset & Inovasi Teknologi Kosmetik

Paragon menamai dirinya “Technology and Innovation” bukan sekadar kosmetik biasa. Di sektor ini, perusahaan melakukan riset formulasi, mengembangkan produk halal, memperluas distribusi dan memanfaatkan teknologi dalam produksi dan pemasaran. 
 
Sebagai contoh, Paragon menyerahkan peralatan laboratorium kepada Sekolah Farmasi ITB sebagai bagian dari program CSR dan sinergi riset-industri.
 
Inovasi ini menjadi kunci agar merek Paragon tetap relevan, terutama di tengah persaingan multinasional dan perubahan tren kecantikan serta digital. Produk-produk baru dan merek turunan juga diciptakan agar tetap dinamis.

3. Ekosistem Pendidikan & Pemberdayaan

Walaupun ini bukan “bisnis” utama dalam arti profit langsung, Paragon melalui institusinya membangun ekosistem yang mendukung keberlanjutan grup. Misalnya, program beasiswa, pemberdayaan talenta muda, kegiatan sosial dan komunitas perempuan. 
 
Di bawah bendera Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) yang dikomandoi Salman Subakat, pencarian talenta, pengembangan bakat dan ekspansi struktur korporasipun terus berlangsung.
 
Budaya perusahaan yang mengangkat pemberdayaan perempuan dan komunitas ini memperkuat citra merek serta membangun loyalitas karyawan dan mitra bisnis. Di jangka panjang, ekosistem seperti ini mendukung kelangsungan bisnis.

4. Ekspansi Internasional & Brand Portfolio

Paragon tak hanya bermain di dalam negeri. Merek-merek unggulannya juga mulai menjangkau pasar ASEAN. Misalnya, Paragon berhasil melebarkan sayap ke Malaysia melalui ParagonCorp Malaysia. 
 
Diversifikasi ini memberi potensi pertumbuhan baru di luar Indonesia dan memperkuat merek global.
 
Dengan portfolio brand yang cukup lengkap yakni Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, Crystallure dan lainnya, Paragon menciptakan skala ekonomi, segmentasi pasar yang jelas, dan peluang cross-selling antar brand. 

5. Budaya Perusahaan & Manajemen Sumber Daya

Meskipun bukan sektor usaha tradisional, aspek manajemen dan budaya perusahaan bagian integral dari “gurita bisnis” Paragon. 
 
Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Nurhayati seperti keteladanan, inovasi, kebermanfaatan, dan pembangunan sumber daya manusia menjadi bagian dari kekuatan kompetitif. 
 
Sebagai contoh, program umrah gratis bagi karyawan yang telah bekerja cukup lama menunjukkan bagaimana Paragon memandang karyawan sebagai bagian dari keluarga besar perusahaan. 
 
Dengan demikian, model bisnis Paragon bukan sekadar menjual produk kecantikan, tetapi membangun ekosistem: produk + teknologi + brand + manajemen budaya + pemberdayaan.

Generasi Penerus

 
Sukses bisnis Paragon tak terlepas dari kesiapan generasi penerusnya. Nurhayati bersama keluarga telah mempersiapkan pewarisan dan kontinuitas perusahaan.
 
Salah satu figur kunci adalah Harman Subakat berfokus pada inovasi bisnis, kepemimpinan yang berkelanjutan, serta pemberdayaan UMKM dan masyarakat, seiring dengan posisinya sebagai Group CEO Paragon Corp.
 
Ia mendorong timnya untuk terus menciptakan produk yang relevan, meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan perusahaan melalui teknologi, serta memiliki visi untuk menciptakan dampak sosial yang positi
 
Selain Harman, ada juga Salman Subakat, CEO Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) yang menjadi wadah pengembangan talenta masa depan ParagonCorp. 
 
Awalnya, Salman sempat menolak bergabung langsung di perusahaan keluarga, memilih melanjutkan pendidikan dulu sebelum kemudian mengambil alih posisi strategis. 
 
 
Lalu tak ketinggalan, Sari Chairunnisa yang fokus pada pengembangan dan invoasi produk. Sehari-hari, Sari lebih nyaman berkutat di laboratorium, mengembangkan ratusan cikal bakal line bisnis baru untuk PragonCorp .
 

Tips Bisnis Ala ParagonCorp

1. Inovasi Berkelanjutan

Nurhayati menegaskan bahwa inovasi produk, formulasi, market dan brand selalu diperlukan. Industri kosmetik yang kompetitif menuntut diferensiasi dan penciptaan merek baru secara berkala. 

2. Memahami Pasar dan Segmentasi 

Meluncurkan Wardah yang halal saat segmen kosmetik muslimah belum besar adalah contoh memahami celah pasar. Ketika tren hijab dan konsumsi muslimah naik, Wardah tumbuh pesat. 

3. Budaya Perusahaan Berbasis Nilai 

Nurhayati menekankan keteladanan, disiplin, kejujuran dan tanggung jawab. Contohnya “pertolongan Ilahi” sebagai salah satu pilar bisnis. 

4. Pemberdayaan SDM

Melihat karyawan sebagai “Paragonian”, bukan hanya pekerja, memberikan loyalitas, budaya kekeluargaan dan komitmen jangka panjang. Program umrah gratis, beasiswa dan pelatihan menjadi bukti. 

5. Nilai Kebermanfaatan & Sosial 

Paragon tidak hanya mengejar profit, melainkan ingin “memberi kebaikan” bagi pelanggan, mitra dan masyarakat di sekitar operasional perusahaan di Swadaya Raya, Pesanggrahan maupun di Cikupa. Ini memperkuat citra dan daya tahan bisnis. 

6. Persiapan Regenerasi dan Struktur Korporasi

Menyiapkan generasi penerus, institusi internal dan struktur manajemen yang profesional agar bisnis tidak tergantung pada satu individu.

7. Konsistensi dan Teteguhan Hadapi Tantangan 

Dari kebakaran pabrik hingga persaingan global, Nurhayati menunjukkan bahwa tantangan adalah bagian dari proses dan harus dihadapi dengan jiwa tangguh. 
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa