Akurat

Prediksi Krisis Finansial 2030, Benarkah Akan Lebih Parah dari Masa Covid-19?

Eko Krisyanto | 26 September 2025, 09:30 WIB
Prediksi Krisis Finansial 2030, Benarkah Akan Lebih Parah dari Masa Covid-19?

AKURAT.CO Dalam beberapa tahun terakhir, istilah badai finansial 2030 makin sering terdengar di berbagai forum ekonomi internasional.

Prediksi ini bukan sekadar omong kosong. Laporan World Economic Forum (WEF), analisis lembaga keuangan dunia hingga pandangan ekonom ternama menyebutkan bahwa dunia sedang menuju gelombang ketidakpastian finansial baru yang bisa memuncak di tahun 2030.

Apakah krisis global 2030 benar-benar akan terjadi? Jawabannya, tidak ada yang pasti. Namun melihat tren utang global, geopolitik, disrupsi teknologi, hingga perubahan iklim, potensi badai finansial memang nyata adanya.

Fenomena ini disebut sebagai potensi krisis ekonomi global terbesar sejak Depresi Besar 1929 dan pandemi Covid-19 2020.

Baca Juga: Laporan MIT Ungkap 95 Persen Pilot AI Generatif Korporat Gagal Membawa Keuntungan Finansial

Lalu, apa yang sebenarnya memicu potensi badai ini? Dan yang lebih penting, bagaimana kita bisa menyiapkan diri untuk bertahan?

Apa Itu Badai Finansial 2030?

Istilah badai finansial menggambarkan situasi ekonomi yang tidak stabil, dipenuhi gejolak dan mengancam kehidupan masyarakat secara luas.

Seperti badai alam, dampaknya bisa merobohkan bangunan ekonomi mulai dari pertumbuhan yang melambat, gelombang PHK hingga melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok.

Jika prediksi ini benar, maka tahun 2030 bisa menjadi periode sulit yang mengguncang sistem keuangan global. Banyak pihak bahkan menyebut dampaknya berpotensi lebih parah dari krisis 2008 atau guncangan Covid-19.

Baca Juga: Sun Life dan CIMB Niaga Luncurkan X-Tra Plan Protection: Perlindungan Jiwa Plus Manfaat Finansial Jangka Panjang

Faktor Pemicu Krisis Ekonomi 2030

1. Utang Global yang Membengkak

Data International Institute of Finance (IIF) mencatat, dalam satu dekade terakhir utang global naik hingga 49 persen atau sekitar USD105 triliun.

Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi dua negara dengan tumpukan utang terbesar. Kondisi ini rentan memicu gagal bayar (default) yang bisa merambat ke sistem keuangan dunia.

2. Ketegangan Geopolitik dan Krisis Energi

Perang dagang AS-Tiongkok, konflik Rusia-Ukraina hingga potensi ketegangan di Timur Tengah diprediksi akan memperburuk stabilitas energi global.

Keterlambatan pasokan, infrastruktur yang rusak, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil berpotensi menimbulkan krisis energi.

Baca Juga: Hadirkan Beragam Promo Spesial, Pegadaian Ajak Masyarakat Raih Merdeka Finansial dengan Transaksi di Aplikasi Digital

3. Disrupsi Teknologi AI dan Otomatisasi

Perkembangan AI dan robotika memang membuka peluang tapi juga membawa ancaman serius bagi dunia kerja.

Menurut WEF, sekitar 41 persen perusahaan dunia berencana mengurangi tenaga kerja akibat otomatisasi.

Pekerjaan seperti customer service, analis keuangan, hingga jurnalis menjadi yang paling rawan. Gelombang PHK besar-besaran jelas akan menekan daya beli masyarakat.

4. Krisis Pangan dan Perubahan Iklim

Perubahan iklim memicu gagal panen di banyak negara, mengganggu rantai pasok pangan, dan menaikkan harga komoditas global. Ini memperparah tekanan inflasi yang sudah tinggi.

Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

Menariknya, di tengah ancaman badai global, Indonesia diproyeksikan masuk 10 besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030.

Namun, posisi ini bisa terancam bila pemerintah dan masyarakat tidak menyiapkan strategi adaptif.

Baca Juga: Tingkat Inklusi Tinggi, Literasi Rendah: GS Community Dorong 1.000 Edukator Finansial Akar Rumput

Dampak paling nyata yang mungkin terjadi adalah:

• Naiknya angka pengangguran akibat PHK massal.
• Turunnya daya beli kelas menengah, yang selama ini jadi motor penggerak ekonomi.
• Lonjakan harga barang pokok karena inflasi global.

7 Cara Bertahan dari Krisis Ekonomi 2030

Para pakar keuangan menyarankan untuk mulai bersiap sejak sekarang. Berikut langkah yang bisa dilakukan:

1. Investasi Leher ke Atas

Upgrade pengetahuan, skill digital, dan mindset. Ikuti pelatihan, baca buku, atau ikut komunitas. Ilmu adalah aset yang tak bisa diambil oleh krisis.

2. Upgrade Skill Digital dan Adaptif

Skill seperti digital marketing, data analysis, UI/UX, copywriting dan public speaking akan jadi bekal penting.

Baca Juga: Dorong Inklusi Finansial Pengemudi, inDrive.Money Hadirkan Layanan Keuangan yang Relevan di Indonesia

3. Siapkan Dana Darurat

Minimal setara enam bulan pengeluaran bulanan. Pilih instrumen likuid seperti tabungan emas, deposito atau reksa dana pasar uang.

4. Diversifikasi Income Stream

Bangun sumber penghasilan lain: side hustle, bisnis online atau menjadi content creator.

5. Pilih Aset Antiinflasi

Emas, logam mulia dan properti bisa menjadi benteng keuangan saat krisis.

6. Bangun Networking

Koneksi bisa jadi penyelamat saat peluang kerja dan usaha semakin sempit.

7. Jaga Kesehatan Fisik dan Mental

Krisis bukan hanya soal uang, tapi juga ketahanan mental. Olahraga, meditasi dan menjaga kualitas hidup tetap penting.

Baca Juga: Telisik Beragam Jenis Bank dan Fungsinya dalam Dunia Finansial

Kuncinya bukan hanya bertanya apakah krisis finansial akan datang tetapi seberapa siap kita menghadapinya? Dengan investasi pada diri sendiri, memperluas jaringan dan mengelola keuangan dengan bijak, krisis bukan akhir dari segalanya, justru bisa jadi momentum untuk tumbuh lebih tangguh

Laporan: Mutiara MY/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK