Akurat Logo

Tingkat Inklusi Tinggi, Literasi Rendah: GS Community Dorong 1.000 Edukator Finansial Akar Rumput

Oktaviani | 8 Agustus 2025, 23:21 WIB
Tingkat Inklusi Tinggi, Literasi Rendah: GS Community Dorong 1.000 Edukator Finansial Akar Rumput


AKURAT.CO Di tengah pesatnya penetrasi layanan keuangan digital di Indonesia, kesenjangan antara inklusi dan literasi finansial masih menjadi tantangan serius.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022 menunjukkan bahwa indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 85,10 persen, namun indeks literasi finansial baru menyentuh angka 49,68 persen.

Ini berarti, banyak masyarakat yang sudah menggunakan produk keuangan—tetapi belum sepenuhnya memahami cara kerja dan risikonya.

Fenomena ini diperparah oleh maraknya janji manis keuntungan instan di ruang digital.

Skema investasi bodong, permainan berkedok edukasi, hingga konten menyesatkan terus menjamur, membuat publik kesulitan membedakan mana edukasi sejati dan mana jebakan.

Akibatnya, tidak sedikit yang menjadi korban, baik secara finansial maupun psikologis.

Persoalan mendasar dari kondisi ini adalah minimnya akses masyarakat terhadap informasi finansial yang akurat dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Zikir Kebangsaan dan Ikrar Bela Negara di Istiqlal: Dishub Jakarta Siapkan Rekayasa Lalin, Ini Rutenya!

Edukasi keuangan yang memadai cenderung hanya menjangkau kelompok terdidik atau masyarakat urban.

Sementara kelompok akar rumput, yang paling rentan terhadap hoaks dan misinformasi, justru kerap luput dari jangkauan.

Menjawab tantangan ini, GS Community Indonesia hadir dengan pendekatan akar rumput.

Komunitas ini digerakkan oleh pengguna aplikasi digital yang memiliki misi memperluas literasi keuangan di tingkat masyarakat dasar, dengan target membentuk 1.000 edukator finansial dari kalangan non-elit.

“Kami ingin semua pengguna punya daya kritis, bukan hanya ikut-ikutan karena tren,” ujar Sharly, salah satu penggerak komunitas.

GS Community aktif menggelar berbagai kegiatan lapangan, mulai dari workshop edukasi, donasi alat tulis, sponsorship kegiatan sosial, hingga kelas daring bertema manajemen risiko digital, cara membedakan edukasi dan money game, serta mengenal platform legal dan ilegal.

Tak hanya itu, mereka juga secara rutin menggelar forum terbukauntuk menjawab tudingan atau isu publik dengan pendekatan edukatif, bukan defensif.

“Banyak orang bingung karena tidak tahu harus bertanya ke siapa. Di komunitas ini, kami belajar bareng dan saling bantu pahami risikonya,” jelas Sharly.

Baca Juga: Baru Dirilis OpenAI, Ini Sederet Peningkatan yang Dimiliki GPT-5

Dalam setiap kegiatannya, GS Community menekankan pentingnya berpikir kritis dan tidak mudah terjebak narasi instan.

Edukasi mereka tidak dikemas dalam janji-janji, melainkan lewat diskusi berbasis data dan pengalaman nyata.

“Satu-satunya cara menjawab tuduhan dan keraguan adalah lewat data, akal sehat, dan edukasi berkelanjutan. Bukan promosi, bukan juga serangan balik,” tegas Sharly.

Dengan misi mencetak ribuan agen literasi, GS Community Indonesia mendorong transformasi dari bawah.

Harapannya, semakin banyak masyarakat yang mampu mengenali risiko digital secara sehat, dan tak mudah tergoda oleh janji-janji palsu yang kerap berkeliaran di dunia maya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.