Kepulauan Cayman Jadi Pusat Baru Aktivitas Kripto dan Web3 Karena Ini

AKURAT.CO Dalam beberapa tahun terakhir, Kepulauan Cayman secara perlahan menjelma menjadi salah satu pusat aktivitas kripto dan Web3 paling dinamis di dunia.
Meski jarang disorot publik, kawasan kecil di Karibia ini kini menampung lebih dari 125 perusahaan berbasis blockchain dan aset digital, menjadikannya magnet baru bagi startup hingga raksasa keuangan digital global.
Di balik perkembangan pesat itu, terdapat peran penting Cayman Enterprise City (CEC) sebuah zona ekonomi khusus yang menjadi rumah bagi sebagian besar perusahaan Web3 di wilayah tersebut.
Sejak berdiri pada 2011, CEC menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru Kepulauan Cayman dan kini dikenal luas sebagai “hub kripto Karibia”.
Dikutip dari BeInCrypto, Minggu (2/11/2025) menurut Charlie Kirkconnell, CEO Cayman Enterprise City sejak 2013, perjalanan ini tidak instan.
Baca Juga: Dipandu Cumi-cumi, Penyelam Ini Temukan Cincin Kawin di Kepulauan Cayman
Ia mengungkapkan bahwa lonjakan besar terjadi pada tahun 2017 ketika dunia dikejutkan oleh gelombang Initial Coin Offering (ICO). Sejak saat itu, jumlah perusahaan kripto yang membuka kantor di Cayman meningkat tajam.
“Tahun-tahun terakhir adalah masa pertumbuhan bagi kami. Pada 2017, kami menerima gelombang besar perusahaan dengan munculnya ICO. Setelah pandemi COVID-19, permintaan kembali melonjak, bahkan terus tumbuh hingga sekarang,” ujar Kirkconnell.
Momentum tersebut disebut Kirkconnell sebagai “titik balik” (tipping point) bagi CEC. Dari yang awalnya harus membangun reputasi dari nol, kini Cayman dikenal sebagai pusat Web3 kelas dunia yang memadukan regulasi, infrastruktur, dan keahlian profesional secara seimbang.
Meski banyak pihak melihat Cayman sebagai pesaing baru Amerika Serikat dalam industri kripto, Kirkconnell menegaskan bahwa hubungan keduanya justru bersifat saling melengkapi (simbiosis).
“Kepulauan Cayman berfungsi seperti peran kami di industri dana investasi. Ada jalur onshore dan offshore yang saling mendukung. Pendekatan serupa juga berlaku di dunia kripto,” jelasnya.
Bagi Kirkconnell, kesuksesan Cayman bukan karena bersaing dengan negara besar, melainkan karena menjadi mitra strategis bagi perusahaan kripto yang ingin mengintegrasikan operasinya secara global.
Banyak proyek blockchain memilih Cayman karena fleksibilitas hukum dan reputasinya dalam pengelolaan dana internasional.
Salah satu kekuatan utama Kepulauan Cayman terletak pada sumber daya hukum dan finansial yang telah lama terbentuk.
Pulau ini dikenal sebagai pusat perbankan lepas pantai (offshore banking) sejak dekade 1980-an, sehingga memiliki jaringan profesional hukum dan akuntansi kelas dunia.
Namun, seperti dijelaskan Kirkconnell, butuh waktu bertahun-tahun agar talenta tersebut beradaptasi dengan kebutuhan industri kripto. Kini, hampir semua firma hukum besar di Cayman memiliki divisi khusus Web3 dan aset digital, yang melayani klien global.
“Kalau pada 2017 sulit mencari pengacara lokal yang paham Web3, sekarang hampir setiap firma besar memiliki tim kripto sendiri. Keahlian di sini sudah sangat terkonsentrasi dan mudah diakses,” tambahnya.
Selain sistem hukum dan regulasi yang mendukung, gaya hidup dan keterbukaan masyarakat Cayman juga menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pekerja digital dan talenta teknologi global memilih pindah ke sana karena fleksibilitas kerja jarak jauh dan kemudahan administrasi.
Menurut Isabel Forde, Head of Global Mobility CEC, karakter desentralisasi dalam industri kripto justru selaras dengan pola kerja di Kepulauan Cayman.
“Perusahaan kripto cenderung memiliki tim dan operasional yang terdesentralisasi. Gaya kerja seperti itu sangat cocok dengan lingkungan Cayman yang terbuka dan terhubung secara global,” ujarnya.
Hal ini menjadikan Cayman bukan hanya tempat kerja, tetapi juga komunitas internasional yang mendukung pertumbuhan industri digital.
Salah satu kunci keberhasilan Cayman adalah pendekatan regulasi yang hati-hati namun progresif. Pemerintah setempat tidak terburu-buru membuat aturan, tetapi memastikan setiap kebijakan didasarkan pada prinsip kehati-hatian (measured and conservative).
“Kami ingin membangun sesuatu yang menjadi sumber kebanggaan bagi yurisdiksi ini, bukan bencana. Bergerak terlalu cepat dan mengambil risiko berlebihan bisa menjadi jebakan bagi wilayah lain,” tegas Kirkconnell.
Pendekatan ini berbeda dengan beberapa negara yang mencoba menarik perhatian global dengan kebijakan ekstrem, seperti El Salvador yang mengadopsi Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi.
Cayman memilih jalur moderat, menyeimbangkan inovasi dan pengawasan untuk menjaga reputasinya sebagai pusat keuangan yang stabil.
Banyak negara mencoba meniru model Cayman dengan membentuk “zona ekonomi khusus” untuk kripto. Namun, menurut Kirkconnell, keberhasilan Cayman sulit direplikasi karena faktor historis dan struktural.
Hubungan erat dengan sistem keuangan Amerika Serikat, reputasi sebagai pusat dana global, serta jaringan hukum yang matang menjadi fondasi yang sulit dicopy-paste oleh negara lain.
“Anda tidak bisa mengganti keunggulan tak berwujud seperti koneksi internasional dan kepercayaan global hanya dengan regulasi baru. Butuh waktu, reputasi, dan konsistensi,” kata Kirkconnell.
Dengan kata lain, keunggulan Cayman bukan hanya pada kebijakan, melainkan pada kombinasi antara kejelasan hukum, stabilitas ekonomi, dan budaya kerja internasional yang sudah terbangun selama puluhan tahun.
Meski disebut sebagai “pusat kripto baru”, Kirkconnell menegaskan bahwa CEC tidak berambisi menggantikan AS atau Singapura. Sebaliknya, Cayman ingin menjadi platform pendukung bagi perusahaan kripto yang beroperasi lintas yurisdiksi.
“Kami membantu perusahaan yang memiliki hubungan bisnis dengan AS, bukan menggantikannya. Hubungan kolaboratif lebih sehat daripada kompetitif,” ujarnya.
Posisi netral ini menjadikan Cayman sebagai pilihan ideal bagi perusahaan yang ingin beroperasi di lingkungan regulasi jelas namun tetap terhubung dengan pasar global.
Setelah lebih dari satu dekade pembangunan, hasil kerja keras CEC mulai terlihat nyata. Ekosistem bisnis di Kepulauan Cayman kini berisi perusahaan Web3 dari berbagai tahap perkembangan, mulai dari startup rintisan hingga korporasi internasional.
“Kami memiliki bisnis di semua level. Ada yang baru mulai, ada pula yang sudah mapan secara global. Infrastruktur dan regulasi di Cayman cocok untuk semua jenis proyek Web3,” tutur Kirkconnell.
Dengan sistem perizinan yang efisien, CEC bahkan mampu memproses lisensi, visa kerja, dan fasilitas kantor hanya dalam waktu 4–6 minggu. Efisiensi ini menjadi alasan utama banyak perusahaan digital memilih pindah ke sana.
Kisah sukses Cayman memberikan pelajaran penting bagi negara lain yang ingin mengembangkan sektor ekonomi digital: kejelasan regulasi, kesiapan infrastruktur, dan kolaborasi lintas batas lebih penting daripada sekadar promosi kebijakan “ramah kripto”.
Kirkconnell menegaskan, keberlanjutan lebih penting daripada sensasi jangka pendek. “Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun reputasi dan kepercayaan. Industri kripto sering ingin serba cepat, tapi untuk menjadi hub global, kita harus bergerak hati-hati,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










