Akurat

Harga Bitcoin Anjlok, Pasar Kripto Kehilangan Rp6000 Triliun Kapitalisasi

Hefriday | 30 Agustus 2025, 21:20 WIB
Harga Bitcoin Anjlok, Pasar Kripto Kehilangan Rp6000 Triliun Kapitalisasi

AKURAT.CO Pasar aset digital kembali goyah. Dalam 24 jam terakhir, harga sejumlah mata uang kripto utama, termasuk Bitcoin (BTC), mengalami penurunan tajam seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Berdasarkan data Coinmarketcap pada Sabtu (30/8/2025), kapitalisasi pasar kripto global turun 3,33% menjadi USD3,79 triliun. Bitcoin sebagai kripto dengan kapitalisasi terbesar, tercatat merosot 3,06% ke level USD108.407 per koin atau setara Rp1,78 miliar dengan kurs Rp16.435 per USD.

Ethereum (ETH) juga ikut terkoreksi 3,13% ke posisi USD4.358. Sementara itu, XRP jatuh lebih dalam, yakni 4,32% ke level USD2,81. Binance Coin (BNB) melemah 1,44% ke USD860, Solana (SOL) ambles 5,06 persen ke US$ 206, dan Dogecoin (DOGE) turun 2,18% menjadi USD0,21.

Baca Juga: Harga Kripto Solana Hari Ini dan Analisis di 2025

Menurut laporan Cointelegraph, penurunan harga Bitcoin memicu likuidasi posisi beli ber-leverage senilai USD137 juta. Hal ini menunjukkan meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Tekanan pada pasar kripto juga tidak lepas dari pelemahan indeks Nasdaq 100 yang terkoreksi 1,2%. Sentimen negatif dipicu oleh keraguan atas keberlanjutan pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) yang belakangan menjadi motor penggerak pasar.

Di sisi makroekonomi, lonjakan defisit perdagangan Amerika Serikat turut memperparah ketidakpastian. Menurut Reuters, defisit dagang Negeri Paman Sam naik 22% pada Juli, melebar menjadi USD103,6 miliar. Kondisi ini dikhawatirkan akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi AS di kuartal ketiga 2025.

Keresahan pasar semakin diperburuk oleh laporan Financial Times terkait kondisi perbankan di China. Lima bank terbesar di negara itu dikabarkan mencatat margin keuntungan terendah dalam sejarah, disertai peningkatan kredit bermasalah. Bahkan, bank ritel China harus melepas utang macet senilai USD5,2 miliar pada kuartal I, naik delapan kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Selain faktor eksternal, aktivitas penjualan saham besar-besaran oleh eksekutif perusahaan besar di AS turut memberi sinyal kehati-hatian. Tercatat, Jim C. Walton dari Walmart menjual saham senilai USD961 juta, sementara Frank Slootman dari Snowflake melepas USD164 juta, dan Dennis J. Wilson dari Amer Sports menjual USD160 juta.

Baca Juga: Optimisme Kripto Menguat, Whale Tambah Aset ADA, LINK, dan MORPHO

Kecemasan juga merambah ke saham teknologi. Nvidia (NVDA) misalnya, turun 4,7% dalam dua hari meski membukukan kinerja solid. Tekanan terjadi setelah terungkap bahwa 44% pendapatan pusat data Nvidia hanya bertumpu pada dua klien. Sementara itu, Super Micro Computer (SMCI), mitra penting Nvidia, jatuh 5,1% setelah memperingatkan potensi kelemahan laporan keuangan.

Pasar obligasi AS turut mencerminkan kondisi risk-off. Permintaan tinggi terhadap US Treasury mendorong yield tenor dua tahun turun ke level 3,62%, terendah dalam empat bulan terakhir. Penurunan yield ini menjadi indikasi bahwa investor lebih memilih aset aman meski inflasi domestik masih tinggi.

Selain faktor makro, pelemahan Bitcoin juga dipicu oleh penjualan dari “whale” lama atau pemegang besar serta arus keluar konsisten dari para penambang. Kondisi ini semakin mempertegas bahwa pelaku pasar sedang memilih mengurangi risiko menjelang libur nasional di Amerika Serikat pada Senin (1/9/2025).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
A