Era Baru Bitcoin, Adakah Tantangan Besar Saat Subsidi Blok Berakhir?

AKURAT.CO Bitcoin, sebagai mata uang kripto pertama di dunia, dikenal memiliki pasokan terbatas sebanyak 21 juta unit. Berdasarkan proyeksi, Bitcoin terakhir akan selesai ditambang pada tahun 2140.
Saat momen itu tiba, imbalan bagi para penambang atau miner dari subsidi blok akan berhenti sepenuhnya, meninggalkan biaya transaksi sebagai satu-satunya sumber pendapatan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah jaringan Bitcoin akan tetap aman tanpa insentif blok?
Dikutip dari berbagai sumber, Minggu (17/8/2025), selama lebih dari satu abad, keamanan jaringan Bitcoin ditopang oleh mekanisme subsidi blok. Setiap kali transaksi baru divalidasi, para miner menerima imbalan berupa Bitcoin baru.
Baca Juga: Apa Itu Corporate Bitcoin Treasuries? Pengertian, Fungsi, dan Contohnya
Mekanisme inilah yang mendorong partisipasi miner sekaligus menjaga desentralisasi jaringan. Namun, hilangnya subsidi blok pada 2140 akan mengubah peta insentif secara drastis.
Menurut CEO OKX Singapore, Gracie Lin menilai bahwa keberhasilan transisi Bitcoin ke era tanpa subsidi akan bergantung pada permintaan ruang blok.
“Ketika subsidi blok akhirnya habis, keamanan Bitcoin akan sepenuhnya bergantung pada biaya transaksi. Pertanyaannya adalah, apakah permintaan tersebut cukup tinggi untuk menopang jaringan,” ujarnya.
Sejumlah ahli optimistis. Menurut mereka, semakin meluasnya peran Bitcoin dalam sistem keuangan global akan menciptakan pasar biaya transaksi yang sehat. Co-Founder JuCoin, Sammi Li, bahkan menyamakan kondisi masa depan Bitcoin dengan “real estat premium”. Ia berpendapat, ketika suatu aset menjadi langka sekaligus penting, masyarakat akan rela membayar harga lebih tinggi demi mengaksesnya.
Optimisme ini juga didukung oleh masuknya pemain institusional ke ekosistem Bitcoin. Perusahaan-perusahaan besar, lembaga keuangan, hingga pemerintah diperkirakan akan terus menggunakan Bitcoin untuk transaksi lintas batas maupun penyelesaian bernilai besar. Aktivitas semacam ini diyakini dapat menjaga aliran biaya transaksi tetap stabil, meski tanpa adanya subsidi blok.
Baca Juga: Mengenal Halving: Kenapa Harga Bitcoin Naik Setelahnya?
Namun, tantangan lain yang tak kalah penting adalah kesiapan infrastruktur pendukung. Solusi lapis kedua (Layer 2) seperti Lightning Network diproyeksikan memainkan peran vital.
Dengan memproses transaksi kecil di luar jaringan utama, Layer 2 dapat mengurangi beban blockchain inti sekaligus membuka peluang munculnya transaksi bernilai tinggi di on-chain.
“Layer 2 sebenarnya mendorong lebih banyak aktivitas berharga kembali ke chain utama Bitcoin,” kata Li.
Meski demikian, tidak semua pihak yakin transisi ini akan berjalan mulus. Ada kekhawatiran bahwa ketergantungan penuh pada biaya transaksi bisa mengurangi daya tarik bagi miner, terutama jika biaya tersebut tidak cukup besar. Jika insentif finansial melemah, hash rate jaringan berpotensi menurun, membuka celah bagi serangan dan mengurangi ketahanan jaringan.
Risiko lainnya adalah potensi sentralisasi. COO XBO, Lior Aizik,memperingatkan bahwa jika biaya transaksi hanya mampu dipenuhi oleh pemain besar, maka penambang kecil bisa tersisih. Hal ini berlawanan dengan prinsip dasar Bitcoin yang menekankan desentralisasi.
“Jika biaya tidak cukup menopang miner independen, Bitcoin bisa lebih terpusat,” ujarnya.
Kekhawatiran lain muncul terkait reputasi Bitcoin. Jika model berbasis biaya gagal menjaga keamanan, Bitcoin berpotensi kehilangan statusnya sebagai penyimpan nilai global.
“Tanpa adaptasi, Bitcoin bisa lebih dilihat sebagai barang museum daripada ekosistem yang hidup," ujar Aizik.
Meski berbagai risiko menghantui, komunitas kripto masih punya waktu panjang sekitar 115 tahun untuk menemukan solusi. Para ahli menekankan pentingnya berpikir jauh ke depan, menguji berbagai skenario, dan mengembangkan inovasi. Dengan kombinasi institusi yang terlibat, teknologi baru, serta komunitas yang berkomitmen, banyak pihak percaya Bitcoin akan mampu melewati tantangan besar tersebut.
“Pasar sangat efisien dalam menentukan harga keamanan ketika taruhannya cukup tinggi. Garis waktu transisi yang panjang justru memberi ruang adaptasi bertahap, bukan kejutan mendadak,” tutur Li.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










