Bitcoin Tertekan Tensi Geopolitik, Pelaku Pasar: Normal
Hefriday | 14 Juni 2025, 21:54 WIB

AKURAT.CO Pasar aset kripto global kembali bergejolak menyusul penurunan tajam harga Bitcoin yang sempat menyentuh di bawah USD105.000.
Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran serta gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif dan spot.
Meski demikian, pelaku industri dalam negeri menilai kondisi ini sebagai bagian dari dinamika pasar yang masih tergolong sehat.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, mengatakan bahwa penurunan harga kripto saat ini bukanlah hal yang mengejutkan atau mengkhawatirkan.
Ia menyebut fenomena ini sebagai proses normal dalam siklus pasar yang tengah berada dalam fase tren naik (uptrend).
“Ini memang sebuah proses yang normal dan masih sehat di tengah uptrend yang tengah terjadi,” ujar Antony dalam keterangannya, Sabtu (14/6/2025).
Menurut Antony, gejolak yang terjadi membuat investor cenderung melakukan reposisi aset untuk menyesuaikan strategi jangka menengah hingga panjang.
Hal ini merupakan reaksi alami ketika pasar menghadapi tekanan eksternal seperti eskalasi geopolitik yang meningkatkan ketidakpastian global.
“Investor tengah melakukan proses pengambilan reposition, sambil menunggu momentum yang lebih matang untuk melangkah lebih jauh,” tambahnya.
Data dari platform analitik Coinglass mencatat, nilai likuidasi di pasar kripto mencapai USD1,148 juta. Volume perdagangan Bitcoin turut meningkat ke angka USD369 miliar.
Sementara itu, total kapitalisasi pasar kripto tercatat turun sebesar 3,38%. Beberapa aset kripto utama mengalami koreksi signifikan, seperti Ethereum (ETH) yang turun 9,5%, XRP turun 5,71%, dan Solana (SOL) turun 10,16%.
Menanggapi fenomena ini, Antony justru menilai adanya proses likuidasi massal sebagai langkah penting untuk menjaga kesehatan pasar.
Ia mengibaratkan kondisi saat ini seperti proses “detoksifikasi” yang diperlukan untuk membersihkan posisi-posisi yang terlalu tinggi leverage-nya.
“Pasar tengah membersihkan posisi yang dianggap overleveraged, sehingga nantinya pergerakan lebih sehat dan lebih matang saat terjadi rebound,” jelasnya.
Dalam pandangan Antony, gejolak pasar seperti ini justru menjadi peluang besar bagi investor yang memiliki pandangan jangka panjang dan mampu menjaga kestabilan emosi.
Ia menekankan pentingnya disiplin dalam investasi dan tidak mudah terpengaruh oleh kepanikan jangka pendek.
“Ketidakpastian memang selalu menjadi tantangan, tapi juga peluang, jika kita mampu belajar dan menjaga mental yang matang saat terjadi gejolak di pasar,” ujarnya.
Dirinya juga mengingatkan pentingnya literasi dan kemandirian dalam pengambilan keputusan investasi.
Menurutnya, investor sebaiknya tidak hanya mengikuti tren atau rumor semata, melainkan perlu memahami instrumen investasi yang mereka pilih.
“Ini saatnya melakukan due diligence, mencari peluang yang sesuai dengan visi dan toleransi risiko masing-masing, sehingga dapat mencapai tujuan investasi yang lebih matang dan maksimal,” tegas Antony.
Indodax sebagai salah satu platform perdagangan aset kripto terbesar di Indonesia pun terus mendorong edukasi kepada penggunanya.
Perusahaan menyatakan berkomitmen menjaga transparansi dan keamanan sebagai bagian dari upaya perlindungan terhadap dana nasabah.
“Kami juga terus melakukan edukasi dan menyediakan informasi terkini mengenai pergerakan pasar dan teknologi blockchain, sehingga nasabah lebih matang saat mengambil keputusan investasi,” ujar Antony.
Selain faktor eksternal seperti geopolitik, pelaku pasar kripto juga menghadapi sentimen dari dalam negeri maupun kebijakan luar seperti isu pengetatan regulasi di beberapa negara dan sentimen perlambatan ekonomi global.
Meski begitu, Antony yakin dengan penguatan fundamental serta literasi yang lebih baik, pasar kripto akan semakin matang dan resilien di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









