Restrukturisasi HSBC, Lebih dari 20 Analis Kena PHK demi Efisiensi Operasional

AKURAT.CO HSBC Holdings Plc, bank terbesar di Eropa, tengah menjalankan restrukturisasi besar-besaran yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih dari 20 analis di divisi perbankan investasinya.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi yang dicanangkan oleh CEO baru, Georges Elhedery.
Dikutip dari laman bloomberg, salah satu nama besar yang terkena dampak adalah Steven Major selaku Kepala Riset Pendapatan Tetap Global HSBC yang berbasis di Dubai. Sebagian besar PHK dilaporkan terjadi di kawasan Eropa.
"Bisnis riset global, penjualan, dan perdagangan ekuitas kami merupakan inti dari layanan perbankan korporasi dan institusi," ujar juru bicara HSBC dalam pernyataan resmi yang dikirim melalui email, tanpa merinci jumlah karyawan terdampak.
Baca Juga: Gandeng BNP Paribas, HSBC Indonesia Luncurkan Reksa Dana Anyar
Sejak menjabat pada September 2024, Elhedery telah menggulirkan sejumlah perubahan besar, termasuk penggabungan unit perbankan komersial dan investasi, pemisahan operasi Inggris dan Hong Kong, hingga penutupan sebagian besar kegiatan merger dan akuisisi serta penjaminan ekuitas di AS dan Eropa.
Restrukturisasi ini diperkirakan menimbulkan beban biaya hingga USD1,8 miliar dalam dua tahun ke depan.
Meski demikian, HSBC juga tengah mengalihkan pendanaan dari unit-unit berpengembalian rendah ke sektor yang dianggap lebih menguntungkan.
Perombakan struktur juga menyentuh divisi riset makro dan ekuitas. Murat Ulgen ditunjuk sebagai Kepala Sementara Strategi Makro selain menjabat Kepala Riset Pasar Negara Berkembang Global.
Baca Juga: HUT ke-140 HSBC Indonesia Bertabur Promo dan Diskon Untuk Nasabah
Adapun Eliot Camplisson dan Raj Sinha kini berbagi peran sebagai Kepala Bersama Riset Ekuitas Global.
Kendati saham HSBC di London tercatat naik lebih dari 10 persen sepanjang tahun ini, bank yang mengandalkan pasar Asia ini tetap berada dalam tekanan akibat dinamika geopolitik global, termasuk perang tarif dan ketegangan antara AS dan China.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










