Akurat

Transparansi Benchmark Rate Penting Untuk Efisiensi Kredit

Hefriday | 7 November 2025, 19:49 WIB
Transparansi Benchmark Rate Penting Untuk Efisiensi Kredit

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan pentingnya ketersediaan benchmark rate atau suku bunga acuan yang transparan dan kredibel sebagai fondasi bagi efisiensi pembiayaan di sistem keuangan nasional. 

Dorongan ini muncul seiring agenda besar reformasi pasar uang yang terus dijalankan bank sentral, termasuk pengembangan instrumen overnight index swap (OIS) dan penerbitan BI Floating Rate Note (BI-FRN) sebagai pemicu pembentukan referensi suku bunga berbasis transaksi.
 
Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Agustina Dharmayanti, memaparkan bahwa pasar uang dan pasar valas menunjukkan pertumbuhan signifikan sejak implementasi OMRO Market pada Mei 2024. 
 
Pertumbuhan ini juga didorong masuknya arus modal melalui SRBI serta meningkatnya efisiensi instrumen lindung nilai domestik DNDF yang kini menawarkan bid-ask spread lebih sempit dibandingkan instrumen serupa di pasar luar negeri.
 
 
Namun Agustina menekankan bahwa perkembangan pasar uang yang sehat harus diikuti ketersediaan referensi suku bunga yang jelas. 
 
Dirinya mencontohkan, ketika suku bunga repo tenor satu bulan berada di kisaran 4,7–4,9%, pelaku usaha membutuhkan acuan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menilai kewajaran harga kredit. 
 
“Benchmark rate sangat diperlukan sebagai acuan pricing, indikator pengambilan keputusan, dan valuasi mark-to-market. Tanpa referensi yang transparan, pasar tidak efisien dan konsumen tidak terlindungi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (7/11/2025). 
 
Selaras dengan praktik global, BI mendorong pergeseran dari acuan berbasis kuotasi seperti JIBOR menuju suku bunga berbasis transaksi nyata, sebagaimana dilakukan Amerika Serikat dengan SOFR atau Singapura dengan SORA. 
 
Untuk itu, BI menyiapkan roadmap reformasi suku bunga acuan. Mulai Januari 2026, JIBOR akan dihentikan dan digantikan oleh compounded IndONIA sebagai masa transisi hingga 2027, sebelum pasar sepenuhnya mengandalkan OIS sebagai acuan suku bunga forward looking pada 2028.
 
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Grup DPMA BI, Fitra Jusdiman juga menjelaskan, guna mempercepat ekosistem OIS, BI menerbitkan BI-FRN yang memiliki karakter bunga mengambang. Aset dengan bunga variabel ini diharapkan menciptakan kebutuhan lindung nilai di perbankan sehingga mendorong transaksi OIS. 
 
BI juga menyiapkan mekanisme matchmaking, di mana dealer utama menyampaikan bid-ask OIS kepada operator pasar untuk dipertemukan sehingga menghasilkan harga transaksi yang lebih representatif. 
 
“Hasil transaksi OIS ini nantinya akan menjadi referensi suku bunga yang mencerminkan ekspektasi pelaku terhadap kondisi pasar,” jelasnya.
 
Fitra menambahkan, benchmarking yang transparan sangat penting untuk berbagai produk keuangan, termasuk KPR, deposito, hingga obligasi. 
 
Dengan OIS sebagai acuan bersama, bank menetapkan suku bunga kredit secara lebih efisien dan dapat dibandingkan oleh masyarakat.
 
“Transparansi pricing akan menciptakan persaingan yang sehat. Nasabah bisa melihat apakah bunga yang ditawarkan bank wajar atau terlalu tinggi,” katanya.
 
Reformasi benchmark rate ini menjadi bagian dari implementasi Blueprint Pengembangan Pasar Uang 2030, khususnya pilar pricing yang memperkuat fondasi pasar uang Indonesia. 
 
Dalam jangka panjang, BI berharap pasar keuangan yang modern dan transparan dapat menjadi penopang utama pembiayaan ekonomi nasional. 
 
Selain memperkuat referensi harga, BI juga memperluas underlying repo ke obligasi korporasi tertentu guna mendorong berkembangnya pasar surat utang korporasi yang saat ini baru mencapai sekitar 2,1% terhadap PDB, jauh tertinggal dari Jepang, Korea, dan Singapura.
 
BI menilai ekosistem pasar uang Indonesia bergerak menuju standar internasional dan semakin mampu menyediakan pembiayaan yang efisien bagi pelaku ekonomi. 
 
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan pasar yang sehat, likuid, dan mampu mendukung ekspansi sektor riil. Transparansi benchmark rate adalah kunci untuk mencapai itu,” tegas Fitra. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa