Akurat

Harga Emas Pecah Rekor Lagi Imbas Tarif Resiprokal Trump

Hefriday | 3 April 2025, 11:28 WIB
Harga Emas Pecah Rekor Lagi Imbas Tarif Resiprokal Trump

AKURAT.CO Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi dalam sejarah, mendekati level USD3.200 per troy ons.

Pada perdagangan Rabu (2/4/2025), harga emas dunia naik 0,74% dan ditutup di angka USD3.133 per troy ons. Angka ini mengalahkan rekor sebelumnya di USD3.123,05 yang tercatat pada awal pekan.

Kenaikan ini terus berlanjut pada Kamis pagi, dimana harga emas kembali naik 0,83% ke level USD3.159 per troy ons.

Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (3/4/2025), salah satu faktor utama di balik lonjakan harga emas ini adalah kebijakan tarif global baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Langkah ini menimbulkan ketidakpastian ekonomi, yang membuat investor beralih ke emas sebagai aset safe haven.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, 3 April 2025: Turun Jadi Rp1.865.000 per Gram

"Selama beberapa dekade, negara kita telah dijarah, dirampok, diperkosa, dan dihancurkan oleh negara-negara dekat dan jauh, baik teman maupun lawan," ujar Trump dalam pidatonya di Gedung Putih setelah pasar Amerika Utara ditutup.

Trump juga menyatakan bahwa pendapatan dari tarif baru ini akan menghasilkan "triliunan dan triliunan dolar" untuk mengurangi pajak dan membayar utang nasional.

"Dengan tindakan hari ini, kita akhirnya akan mampu membuat Amerika hebat lagi, lebih hebat dari sebelumnya," tegasnya.

Investor global langsung bereaksi terhadap kebijakan Trump dengan meningkatkan permintaan emas.

Chief Investment Officer di Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli, menyebut bahwa pengumuman tarif ini menghancurkan optimisme pasar sebelumnya.

"Perjalanan roller coaster terus berlanjut. Awalnya, bocoran informasi tampak positif karena tarif dasar hanya 10%, tetapi kemudian diumumkan tarif yang jauh lebih tinggi, berkisar antara 24-49% di luar Uni Eropa dan Inggris. Hal ini memicu ketidakpastian yang lebih besar di pasar," kata Zaccarelli kepada Kitco News.

Menurutnya, meskipun ada kemungkinan negosiasi tarif ke depan, pasar saat ini bereaksi dengan cepat terhadap ketidakpastian tersebut.

"Untuk sekarang, para pedagang lebih memilih bertindak dulu dan bertanya kemudian," imbuhnya.

Selain faktor kebijakan tarif, kenaikan harga emas juga dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.

Indeks dolar turun ke 103,807 pada perdagangan kemarin, level terendah sejak 19 Maret lalu. Sementara itu, imbal hasil US Treasury 10 tahun anjlok ke 4,094%, yang merupakan titik terendah sejak Oktober 2024.

Pelemahan dolar AS membuat emas lebih murah bagi investor global, sehingga meningkatkan permintaan.

Sementara itu, melemahnya imbal hasil US Treasury menjadikan emas lebih menarik karena emas tidak menawarkan imbal hasil, sehingga investor cenderung beralih ke aset ini saat imbal hasil obligasi turun.

Dengan berbagai ketidakpastian ekonomi global, harga emas diprediksi masih berpotensi naik lebih tinggi.

Investor akan terus mencermati kebijakan tarif AS, pergerakan dolar, serta dinamika ekonomi global lainnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa