Prospek Bitcoin Diwarnai Volatilitas dan Tantangan Ekonomi Global

AKURAT.CO Bitcoin terus mencuri perhatian sebagai aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar. Namun, di balik optimisme yang tinggi, sejumlah tantangan masih membayangi pergerakan harga cryptocurrency ini.
Volatilitas tinggi, ketidakpastian ekonomi global, serta regulasi yang ketat menjadi faktor yang bisa menghambat kenaikan harga Bitcoin dalam jangka panjang.
Salah satu tantangan utama Bitcoin adalah volatilitasnya yang tinggi. Dalam satu tahun terakhir, harga Bitcoin telah mengalami kenaikan dan penurunan yang tajam.
Misalnya, setelah mencapai rekor tertinggi baru sebesar USD109.699 pada 20 Januari 2025, harga Bitcoin sempat mengalami koreksi yang cukup signifikan.
Dikutip dari data Pintu Market, Senin (3/2/2025), harga Bitcoin hari ini berada di Rp1,68 miliar dengan volume perdagangan harian mencapai Rp1.590 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 41,50% dibandingkan dengan hari sebelumnya, menandakan bahwa aktivitas pasar masih cukup fluktuatif.
Baca Juga: Kebijakan Tarif Trump Guncang Pasar Kripto, Bitcoin dan Etherium Paling Terdampak
Kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi investor jangka pendek yang mengandalkan stabilitas harga.
Selain volatilitas harga, tantangan lain yang dihadapi Bitcoin adalah regulasi yang terus berkembang di berbagai negara.
Beberapa pemerintah mulai memberlakukan aturan ketat terhadap penggunaan dan perdagangan cryptocurrency. Amerika Serikat, misalnya, telah mengusulkan pajak atas keuntungan crypto serta memperketat pengawasan terhadap transaksi digital.
Di sisi lain, beberapa negara seperti China bahkan melarang penggunaan Bitcoin sebagai alat pembayaran, yang berdampak pada likuiditas pasar.
Ketidakpastian regulasi ini membuat investor ragu untuk menanamkan modal besar dalam Bitcoin, karena adanya risiko pembatasan atau pelarangan di masa depan.
Bitcoin juga tidak terlepas dari pengaruh kondisi ekonomi global. Ketidakstabilan ekonomi, seperti inflasi tinggi dan resesi yang mengancam beberapa negara, dapat berdampak pada pergerakan harga Bitcoin.
Pada awal tahun 2024, banyak investor yang menjual Bitcoin mereka akibat kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Bitcoin sering disebut sebagai "emas digital," nilainya tetap dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi makro.
Selain itu, meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem keuangan juga disebut-sebut sebagai ancaman bagi Bitcoin.
Menurut Robert Kiyosaki, penulis buku "Rich Dad Poor Dad," AI bisa mengguncang pasar keuangan dan meningkatkan ketidakstabilan ekonomi, yang dapat berdampak pada harga Bitcoin di masa depan.
Meski beberapa analis optimis bahwa Bitcoin bisa menembus USD110.000 dalam waktu dekat, tantangan yang ada tidak bisa diabaikan. Jika harga Bitcoin tidak mampu bertahan di level support USD105.000, aset ini bisa mengalami koreksi lebih lanjut.
Sementara itu, jika regulasi semakin ketat dan ketidakpastian ekonomi global meningkat, investor mungkin akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi di Bitcoin.
Meskipun Bitcoin tetap menjadi aset favorit bagi banyak investor, fluktuasi harga, ketidakpastian regulasi, serta ancaman ekonomi global bisa menjadi faktor penghambat bagi pertumbuhan jangka panjangnya.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk selalu melakukan riset sebelum berinvestasi di aset crypto ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










