Apakah Petunjuk AI Bisa Melemahkan Kemampuan Berpikir Kritis?

AKURAT.CO Penggunaan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT kini semakin lazim dimanfaatkan untuk menyusun esai, menganalisis data, hingga memeriksa surat lamaran kerja. Teknologi ini dinilai mampu mempercepat pekerjaan dan mempermudah tugas-tugas.
Meski begitu, sejumlah pakar mengingatkan bahwa terlalu sering menyerahkan tugas kognitif kepada AI dapat membuat otak kurang terlatih. Kebiasaan ini dikhawatirkan melemahkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) terkait penggunaan ChatGPT saat menulis esai. Hasilnya menunjukkan aktivitas otak pengguna lebih rendah, lebih sulit mengingat, serta mengutip tulisan sendiri dibandingkan peserta yang tidak memakai AI.
Penelitian tersebut melibatkan 54 mahasiswa dari MIT dan universitas sekitar dengan pemantauan aktivitas otak menggunakan elektroensefalografi (EEG). Dalam studi ini, AI dimanfaatkan untuk merangkum soal, melacak sumber, memperbaiki tata bahasa, hingga membantu pengembangan ide.
Sebagian peserta menilai AI belum optimal dalam menghasilkan gagasan orisinal meski memudahkan proses penulisan. Hal ini menunjukkan peran AI masih lebih kuat sebagai alat bantu teknis daripada sumber pemikiran kreatif.
Temuan lain datang dari Universitas Carnegie Mellon dan Microsoft yang meneliti 319 pekerja kerah putih pengguna AI. Studi tersebut menemukan kepercayaan berlebih pada AI berkaitan dengan berkurangnya upaya berpikir kritis dan meningkatnya risiko ketergantungan jangka panjang.
"Sementara GenAI dapat meningkatkan efisiensi pekerja, itu dapat menghambat keterlibatan kritis dengan pekerjaan dan berpotensi menyebabkan ketergantungan jangka panjang," ujarnya, dikutip dari BBC, Minggu (21/12/2025).
Di Inggris, survei Oxford University Press (OUP) menunjukkan enam dari 10 siswa merasa penggunaan AI berdampak negatif pada keterampilan akademik. Namun, sembilan dari 10 responden juga mengaku AI membantu mengasah setidaknya satu kemampuan, seperti kreativitas atau revisi.
Temuan tersebut menegaskan bahwa pengaruh AI dalam pendidikan tidak sepenuhnya buruk maupun sepenuhnya positif. Dampaknya dinilai bergantung pada cara dan intensitas penggunaannya oleh siswa.
Sementara itu, Profesor Wayne Holmes dari University College London menilai bukti independen berskala besar terkait efektivitas dan keamanan AI di dunia pendidikan masih terbatas. Ia memperingatkan risiko 'atrofi kognitif', ketika hasil terlihat lebih baik tetapi pemahaman justru menurun.
"Hari ini tidak ada bukti independen dalam skala untuk efektivitas alat-alat ini dalam pendidikan, atau untuk keamanan mereka, atau bahkan untuk gagasan bahwa mereka memiliki dampak positif," katanya.
Sementara itu, OpenAI menegaskan ChatGPT sebaiknya berperan sebagai tutor, bukan pengganti kerja siswa. Dengan penggunaan yang tepat, AI dapat membantu memahami masalah kompleks selama pengguna tetap kritis dan memeriksa hasilnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 6Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 7Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara
- 10Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver






