7 Teknik Hacker Mencuri Data Pribadi, Cara Kerja & Cara Mencegahnya
Eko Krisyanto | 10 Oktober 2025, 19:11 WIB

AKURAT.CO Hacker terus mengembangkan cara untuk mencuri data pribadi. Mulai dari mencuri password lewat email palsu hingga memanen jutaan akun melalui kebocoran basis data membuat risiko pembobolan identitas dan kerugian finansial semakin nyata bagi pengguna individu maupun organisasi.
Hacker memanfaatkan kombinasi teknik teknis dan trik psikologis untuk mencuri data pribadi dengan cara yang semakin canggih.
Mereka membobol server untuk mengunduh kumpulan kredensial, mengirim email atau pesan palsu yang menipu korban agar memasukkan kata sandi di situs tiruan, serta memasang malware yang merekam ketukan tombol di perangkat korban.
Mereka juga memanfaatkan kebiasaan pengguna yang memakai kata sandi sama di banyak akun sehingga satu kebocoran bisa membuka akses ke berbagai layanan lainnya.
Dilansir dari Identity Guard, Langkah pencegahan seperti penggunaan manajer kata sandi dan aktivasi autentikasi dua faktor (2FA) sangat penting untuk menekan risiko serangan semacam ini.
Para pelaku kejahatan siber menargetkan siapapun yang aktif menggunakan layanan online, baik individu maupun karyawan perusahaan terutama ketika data mereka tersimpan di server penyedia layanan atau diakses melalui jaringan internet yang rentan.
Lingkungan digital yang terus terhubung menjadi ladang subur bagi para hacker untuk mengeksploitasi setiap celah keamanan yang belum ditangani dengan baik.
Kelemahan kecil seperti sistem yang belum diperbarui, jaringan publik tanpa enkripsi, atau penggunaan perangkat tanpa proteksi dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku untuk mencuri data sensitif tanpa disadari pengguna.
Serangan bisa datang kapan saja, mulai dari kebocoran data besar-besaran di perusahaan hingga pesan phishing yang dikirim setiap hari untuk menjebak korban secara individu.
Dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang ini, cara paling efektif adalah dengan membangun pertahanan berlapis seperti mengelola kata sandi secara aman, menerapkan autentikasi multi-faktor, memperbarui perangkat lunak secara rutin, serta membatasi akses internal pada sistem yang berisiko.
Langkah-langkah sederhana ini terbukti dapat memperkecil kemungkinan data pribadi jatuh ke tangan yang salah.
7 Teknik Hacker dalam Mencuri Data Pribadi yang Wajib Kamu Waspadai
1. Data Breach (Kebocoran Data)
Peretas menargetkan basis data perusahaan atau penyedia layanan untuk mencuri daftar besar informasi pengguna termasuk username, email, dan password yang disimpan atau dicuri melalui celah keamanan pada server.
Setelah data diambil, data akan diperdagangkan di dark web atau dimanfaatkan untuk serangan lanjutan seperti penipuan finansial dan credential stuffing.
Insiden kebocoran skala besar sering kali menghasilkan puluhan ribu hingga jutaan akun yang terpapar dalam sekali kejadian.
Cara Mencegahnya:
- Terapkan enkripsi data-at-rest dan enkripsi in-transit untuk basis data.
- Lakukan patching dan audit keamanan secara berkala pada server dan API.
- Gunakan layanan monitoring dark web untuk mendeteksi bila kredensial organisasi bocor.
- Terapkan prinsip least privilege (akses minimum) untuk akun dan layanan internal.
2. Phishing & Social Engineering
Phishing adalah teknik manipulasi yang memakai email, SMS, atau panggilan telepon palsu untuk menipu korban memberi kredensial atau mengunduh malware.
Phishing sering meniru merek atau institusi resmi dengan taktik urgensi atau ancaman agar korban cepat bereaksi.
Cara Mencegahnya:
- Verifikasi alamat pengirim sebelum klik link; arahkan kursor untuk lihat URL sebenarnya.
- Aktifkan filter anti-phishing di-email dan gunakan gateway email yang memeriksa tautan berbahaya.
- Latih pengguna/pegawai melalui simulasi phishing dan edukasi berkala.
- Jangan unduh lampiran atau masukkan kredensial pada halaman yang tampak mencurigakan.
3. Brute Force & Dictionary Attacks
Dalam brute force, bot otomatis mencoba kombinasi kata sandi hingga menemukan yang cocok. Dictionary attack menggunakan daftar kata sandi umum untuk menebak kredensial. Akun dengan password pendek, umum, atau tanpa pembatasan percobaan login rentan ditembus dalam waktu singkat.
Cara Mencegahnya:
- Terapkan rate limiting dan mekanisme lockout setelah percobaan login berulang.
- Gunakan password manager untuk membuat kata sandi unik dan kompleks (atau passkeys).
- Implementasikan kebijakan kata sandi yang realistis dan autentikator berbasis perangkat.
4. Malware, keyloggers & spyware
Malware yang diinstal melalui lampiran berbahaya, unduhan dari sumber tidak tepercaya, atau eksploitasi perangkat dapat merekam ketukan tombol (keylogger), menangkap sesi, atau mengambil screenshot akan memberi akses langsung ke kredensial dan data sensitif. Selain itu, beberapa malware mampu bergerak lateral di jaringan dan mencuri kredensial yang tersimpan.
Cara Mencegahnya
- Jangan instal aplikasi dari sumber tidak resmi; perbarui OS dan aplikasi secara rutin.
- Gunakan antivirus/anti-malware berlisensi dan solusi endpoint detection & response (EDR).
- Aktifkan passkeys atau autentikator sehingga input password langsung diminimalkan.
- Batasi instalasi perangkat lunak oleh pengguna biasa. Gunakan kebijakan whitelisting jika memungkinkan.
5. Credential Stuffing
Setelah pelaku memperoleh kumpulan username/password dari satu kebocoran, mereka menguji kombinasi tersebut di banyak layanan lain dan memanfaatkan kebiasaan reuse password. Karena banyak orang memakai kata sandi yang sama, credential stuffing sering berhasil dan cepat mengompromikan akun di layanan berbeda.
Cara Mencegahnya:
- Gunakan deteksi anomali login (login dari lokasi/ perangkat tak biasa).
- Aktifkan 2FA dan sarankan penggunaan passkeys agar akun terlindungi meski password bocor.
- Terapkan kebijakan dan alat untuk mendeteksi dan memblokir serangan otomatis (bot mitigation).
- Edukasi pengguna agar tidak memakai password yang sama pada banyak layanan.
6. Man-in-the-middle/Jaringan Wi-Fi publik yang tidak aman
Traffic yang lewat jaringan Wi-Fi publik yang tidak terenkripsi dapat disadap. Pelaku bisa mem-posisikan diri sebagai perantara dan mencegat kredensial atau cookie saat korban login pada layanan. Pengguna yang sering terhubung ke hotspot publik seperti kafe atau bandara berisiko tinggi kecuali menggunakan proteksi tambahan.
Cara Mencegahnya
- Hindari login ke akun penting lewat Wi-Fi publik. Gunakan paket data atau tethering bila memungkinkan.
- Gunakan VPN tepercaya untuk mengenkripsi trafik ketika terhubung ke jaringan publik.
- Pastikan situs memakai HTTPS dan perbarui perangkat jaringan (firmware router) secara berkala.
Baca Juga: 8 Tips Menjaga Keamanan Rekening, Anti Maling dan Hacker!
7. Unencrypted Password Sharing/Insider & Third-Party Breaches
Berbagi password melalui email, chat, atau catatan yang tidak terenkripsi membuka peluang bagi pihak ketiga (atau orang dalam yang tidak bertanggung jawab) untuk mengakses akun. Selain itu, vendor atau mitra yang kurang aman bisa menjadi pintu masuk bagi pelaku yang ingin menembus sistem lebih besar. Kasus kompromi pihak ketiga sering menyebabkan paparan data pengguna secara luas.
Cara Mencegahnya
- Hindari berbagi kredensial lewat email atau pesan. Pakai vault/secret manager perusahaan.
- Terapkan kontrak keamanan dan audit reguler untuk vendor/mitra.
- Batasi hak akses (role-based access control) dan lakukan rotasi kredensial secara berkala.
- Gunakan solusi SSO (Single Sign-On) dan manajemen identitas terpusat untuk kontrol yang lebih baik.
Dengan menerapkan lapisan perlindungan sederhana seperti passkeys atau manajer kata sandi, mengaktifkan 2FA, memperbarui perangkat, dan berhati-hati terhadap pesan mencurigakan, Anda bisa menutup banyak celah yang sering dimanfaatkan hacker. Bertindak sekarang lebih mudah daripada mengatasi kerugian setelah data dicuri.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









