Waspada! Social Engineering Jadi Senjata Utama Kejahatan Siber di Indonesia

AKURAT.CO Di tengah meningkatnya kasus kejahatan siber di Indonesia, istilah social engineering kian sering terdengar.
Teknik ini bukan sekadar serangan berbasis teknologi, melainkan memanfaatkan kelemahan psikologis manusia untuk mencuri data hingga menimbulkan kerugian besar.
Apa Itu Social Engineering?
Social engineering adalah bentuk kejahatan siber yang menggunakan manipulasi psikologis untuk mendorong korban membocorkan informasi sensitif atau melakukan tindakan berisiko.
Teknik ini mengeksploitasi sifat dasar manusia seperti rasa percaya, ketidaktahuan, atau kepanikan, yang dapat berujung pada pencurian identitas, penipuan finansial, hingga akses ilegal ke sistem.
Bentuk dan Modus Social Engineering
Beberapa metode social engineering yang paling umum digunakan antara lain:
Baca Juga: Rahasia Tokenomics: Panduan Wajib Sebelum Investasi Altcoin
-
Phishing
Mengirim email atau pesan palsu yang menyerupai institusi resmi untuk mencuri data sensitif seperti kata sandi atau nomor kartu kredit.
-
Spear Phishing
Versi phishing yang lebih tertarget, menyasar individu atau organisasi tertentu dengan data personal agar tampak lebih meyakinkan.
-
Pretexting
Pelaku menciptakan skenario atau identitas palsu guna memperoleh kepercayaan korban dan mengakses informasi penting.
-
Baiting
Memberikan umpan berupa hadiah atau file gratis yang sebenarnya mengandung malware.
-
Quid Pro Quo
Menawarkan bantuan atau imbalan palsu sebagai syarat pertukaran informasi.
-
Tailgating
Masuk ke area terbatas dengan mengikuti orang yang memiliki akses resmi.
-
Impersonation
Menyamar sebagai pihak berwenang, pegawai, atau pejabat untuk memperoleh akses atau data.
-
Dumpster Diving
Mengambil informasi dari dokumen atau barang buangan yang tidak diamankan.
-
Manipulasi Media Sosial
Memanfaatkan media sosial untuk membangun kedekatan dan menipu korban secara bertahap.
Cara Kerja Social Engineering
Serangan social engineering umumnya berlangsung melalui beberapa tahapan:
Baca Juga: Portofolio Kreatif Jadi Penentu Lolos Kerja, Ini Cara dan Platform Terbaiknya
-
Pengumpulan data korban
Pelaku mengumpulkan informasi pribadi dari media sosial, pekerjaan, atau kontak publik.
-
Membangun kedekatan
Interaksi dilakukan untuk menciptakan rasa percaya melalui komunikasi yang tampak wajar.
-
Eksploitasi psikologis
Pelaku memanfaatkan emosi seperti rasa takut, urgensi, atau otoritas palsu agar korban bertindak sesuai keinginan.
-
Menghilangkan jejak
Setelah tujuan tercapai, pelaku memutus kontak untuk menghindari pelacakan.
Prinsip Psikologis yang Dimanfaatkan
Pelaku social engineering kerap menggunakan prinsip persuasi berikut:
-
Liking: Korban lebih mudah percaya pada orang yang disukai.
-
Reciprocity: Memberi sesuatu agar korban merasa wajib membalas.
-
Social Proof: Mengklaim banyak orang lain telah melakukannya.
-
Consistency: Meminta komitmen kecil sebelum permintaan besar.
-
Authority: Mengatasnamakan otoritas untuk menekan korban.
-
Scarcity: Menciptakan kesan terbatas atau mendesak.
-
Unity: Memanfaatkan kesamaan identitas, seperti rekan kerja atau alumni.
Dampak Social Engineering
Baca Juga: Storytelling Jadi Senjata Ampuh Campaign Media Sosial, Ini 7 Strategi yang Wajib Dipakai
Serangan ini dapat menimbulkan berbagai dampak serius, antara lain:
-
Kerugian finansial akibat penipuan atau transfer ilegal
-
Pencurian identitas untuk transaksi atau pinjaman fiktif
-
Kerusakan reputasi individu maupun organisasi
-
Gangguan operasional dan penurunan produktivitas
-
Kebocoran data sensitif ke publik atau dark web
-
Penyebaran hoaks dan keresahan sosial
-
Pemicu serangan lanjutan seperti ransomware
Meningkatkan kesadaran dan literasi digital menjadi langkah krusial untuk menghadapi ancaman social engineering.
Dengan selalu waspada, memverifikasi informasi, serta berhati-hati dalam setiap aktivitas daring, individu maupun organisasi dapat meminimalkan risiko kejahatan siber yang semakin kompleks.
Laporan: Aqila Shafiqa Aryaputri/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










