Trump Luncurkan Sistem Baru untuk Akses Data Kesehatan Digital

AKURAT.CO Pemerintahan Donald Trump meluncurkan sistem baru yang membuat warga Amerika dapat membagikan data kesehatan secara digital melalui aplikasi dan teknologi swasta.
Ini bertujuan memudahkan akses catatan medis dan pemantauan kesehatan secara langsung.
Lebih dari 60 perusahaan, termasuk Google, Amazon, Apple dan CVS Health, terlibat dalam inisiatif ini. Fokus utamanya mencakup manajemen diabetes, kontrol berat badan, pemanfaatan AI untuk pasien, serta aplikasi dengan QR code untuk cek-in dan pelacakan obat.
"Selama beberapa dekade jaringan perawatan kesehatan Amerika telah terlambat untuk peningkatan teknologi tinggi," ujar Presiden Donald Trump, dikutip dari The Associated Press, Jumat (1/8/2025).
Ia menyebut sistem baru ini sebagai langkah besar menuju digitalisasi layanan kesehatan. Tujuannya adalah menciptakan layanan yang lebih efisien dan terjangkau.
Meski menjanjikan kemudahan, sistem ini memicu kekhawatiran akan privasi data medis yang sensitif. "Ada masalah etika dan hukum yang sangat besar," ujar Lawrence Gostin selaku profesor hukum kesehatan masyarakat dari Universitas Georgetown.
Pusat Layanan Medicare dan Medicaid (CMS) menegaskan bahwa pasien harus menyetujui sebelum data dibagikan. Sistem ini juga akan menghilangkan hambatan lama, seperti penggunaan faks dan mempercepat akses catatan medis.
Dr. Mehmet Oz, pimpinan CMS, menyebut sistem ini sebagai langkah maju yang memberi pasien kendali lebih atas data mereka. Mitra program seperti Noom dapat mengakses data medis untuk membuat rekomendasi berbasis AI secara personal.
CEO Cleveland Clinic, Dr. Tomislav Mihaljevic, menyambut baik program ini karena akan mempermudah pasien yang berobat lintas negara bagian. Ia menilai akses cepat terhadap data akan mempercepat diagnosis dan penanganan penyakit kronis seperti obesitas.
CMS juga berencana merekomendasikan berbagai aplikasi yang membantu pengelolaan penyakit kronis melalui situs Medicare.gov. Aplikasi tersebut juga bisa membantu memilih layanan dan asuransi kesehatan terbaik bagi pasien.
Namun, sejumlah pengamat privasi digital tetap meragukan keamanan data ini. "Skema ini adalah pintu terbuka untuk penggunaan lebih lanjut dan monetisasi informasi sensitif dan kesehatan pribadi," kata Jeffrey Chester dari Center for Digital Democracy.
Pemerintahan Trump pernah mencoba meluncurkan sistem catatan kesehatan elektronik pada 2018, namun gagal karena kurangnya dukungan dari perusahaan teknologi besar. Kini, dengan dukungan luas sektor swasta, program ini direncanakan mulai awal tahun depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








