Akurat

Puing Asteroid dari Misi NASA Tak Sesuai Prediksi, Bumi Terancam?

Petrus C. Vianney | 16 Juli 2025, 18:35 WIB
Puing Asteroid dari Misi NASA Tak Sesuai Prediksi, Bumi Terancam?

AKURAT.CO Studi terbaru menunjukkan puing-puing dari asteroid Dimorphos usai misi DART NASA pada 2022 tidak bergerak sesuai prediksi. Fragmen besar justru melaju lebih cepat dan tersebar dalam pola tak teratur.

Misi DART, yang dijalankan NASA pada 26 September 2022, bertujuan menabrakkan pesawat ke asteroid Dimorphos untuk mengubah jalurnya. Misi ini sukses menggeser orbit asteroid sekitar 30 menit dan mengubah bentuknya.

Namun, analisis gambar dari satelit LICIACube milik Badan Antariksa Eropa menemukan 104 batu besar bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. Batu-batu berukuran 0,7 hingga 11,8 kaki itu terlihat membentuk pola teratur, bukan tersebar acak.

Menurut Tony Farnham, astronom Universitas Maryland, batu-batu itu mendapat 'tendangan tambahan' yang membuat momentumnya tiga kali lebih besar dari perkiraan. Ini mengubah pemahaman fisika yang selama ini jadi dasar misi serupa.

Yang mengejutkan lagi, puing-puing itu membentuk dua kelompok besar dengan area kosong di antaranya. Peneliti menduga ada proses fisik yang belum diketahui yang menyebabkan pola tak biasa ini.

Baca Juga: Satelit Mati Milik NASA Kirim Sinyal Radio Aneh ke Bumi, Ini Penjelasannya

"Mereka berkerumun dalam dua kelompok yang cukup berbeda, dengan tidak adanya materi di tempat lain, yang berarti bahwa sesuatu yang tidak diketahui sedang bekerja di sini," ujar Farnham, dikutip dari Live Science, Rabu (16/7/2025).

Tim ilmuwan terus meneliti fenomena ini agar dapat mengambil keputusan tepat jika Bumi terancam asteroid di masa depan. Menurut astronom Jessica Sunshine, memahami detail semacam ini penting agar tidak meleset dalam 'permainan biliar kosmik'.

"Kita mungkin kehilangan kantong jika kita tidak mempertimbangkan semua variabel," jelasnya.

Sebelumnya, dampak misi DART juga memicu kekhawatiran. Beberapa batu besar diperkirakan bisa menghantam Mars dalam 6.000 tahun, sementara fragmen kecil lainnya mungkin menuju Bumi dalam 30 tahun tanpa menimbulkan ancaman serius.

Meski masih banyak ketidakpastian, metode penabrak kinetik tetap jadi pilihan paling logis untuk menghadapi ancaman asteroid. Namun, keterbatasan anggaran NASA dikhawatirkan bisa menghambat kemampuan mendeteksi asteroid berbahaya sejak dini.

ESA akan mengirimkan pesawat ruang angkasa Hera ke Dimorphos tahun depan untuk menyelidiki dampak misi DART lebih lanjut. Misi ini diharapkan memberikan gambaran lebih jelas tentang potensi dan risiko teknik perlindungan planet tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.