Ini Ancaman Sebenarnya di Balik Teknologi AI yang Telah Diprediksi Filsuf

Namun, ada ancaman eksistensial ketiga yang tampaknya diabaikan oleh Hinton dan rekan-rekannya di bidang AI. Berbeda dengan kekhawatiran yang mereka angkat, ancaman ketiga ini secara perlahan merusak keberadaan manusia tanpa mendapat perhatian media.
CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, baru-baru ini menyatakan perlunya wawasan filosofis baru untuk memahami implikasi kemajuan AI. Keputusan Hinton untuk pensiun dan mengejar "more philosophical work" sejalan dengan pernyataan ini, demikian pula pengakuan Nick Bostrom bahwa beberapa pertanyaan melampaui keahliannya.
Pelajaran dari filsafat eksistensial abad ke-20 menunjukkan bahwa kita tidak perlu menunggu para ahli AI mundur atau munculnya suara filosofis baru untuk menghadapi risiko eksistensial yang terkait dengan AI. Sebaliknya, kita harus terus mengingatkan diri untuk selalu bertanya bagaimana kita ingin dan tidak ingin menavigasi hidup kita sebelum mempercayakan AI untuk memberikan jawaban tersebut.
Dilansir oleh Forbes, ancaman eksistensial ketiga ini muncul ketika kita mempertimbangkan apa arti keberadaan sebagai manusia. Interpretasi dasar dari ancaman eksistensial adalah bahaya terhadap inti dari keberadaan suatu entitas.
Untuk memahami apakah umat manusia benar-benar berisiko, kita harus terlebih dahulu memahami hakikat keberadaan manusia, sebuah tugas yang banyak ahli AI kesulitan untuk mengartikulasikan.
Sejak Alan Turing menolak pertanyaan, "Can machines think?", para ahli AI secara konsisten gagal menjelaskan karakteristik dasar manusia seperti pemikiran, kesadaran, dan kreativitas. Mereka mengakui kesulitan dalam mendefinisikan konsep-konsep ini, tetapi mereka salah menggunakan ambiguitas ini sebagai alasan untuk mengabaikan pertanyaan penting tentang apa arti menjadi manusia.
Diskusi mereka tentang "human-level intelligence" justru memperumit dilema eksistensial ini. Filsuf Jerman Martin Heidegger memperingatkan bahwa interaksi kita dengan teknologi menempatkan kita dalam keadaan bahaya yang terus-menerus, yang mengancam hubungan kita tidak hanya dengan teknologi tetapi juga dengan realitas dan identitas kita sendiri.
Dalam kuliahnya tahun 1954, "The Question Concerning Technology," ia menekankan bahwa tanpa pemahaman yang lebih jelas tentang esensi teknologi, kita ditakdirkan untuk kehilangan arah.
Dalam sebuah percakapan dengan Neil Lawrence, seorang profesor mesin di Cambridge untuk tulisan berjudul "AI Professor Guide To Humanity From Tech," ia setuju bahwa wawasan Heidegger terbukti sangat relevan. Ia mencatat bahwa mereka yang bertanggung jawab atas implementasi teknologi mungkin kurang memiliki kecerdasan sosial yang diperlukan untuk menghadapi tantangan ini secara efektif.
Penghindaran membahas ancaman eksistensial ketiga ini oleh para ahli AI menimbulkan pertanyaan apakah fokus mereka pada pencapaian kecerdasan setara manusia justru mengalihkan perhatian dari pemeriksaan keberadaan dan evolusi manusia itu sendiri.
Berbeda dengan para ahli AI, filsafat eksistensial yang dibentuk oleh pemikir seperti Heidegger tidak mendapatkan perhatian dan pendanaan yang sama sejak pertengahan abad ke-20. Sementara sektor AI berkembang pesat, investasi dalam humaniora justru menurun drastis.
Ketimpangan ini mencerminkan tren masyarakat yang lebih memprioritaskan kemajuan kecerdasan buatan daripada pemahaman dan pengembangan sifat manusia. Meskipun filsuf eksistensial seperti Heidegger, Jean-Paul Sartre, dan Maurice Merleau-Ponty mungkin tidak menikmati dukungan finansial yang besar, kontribusi mereka menawarkan perspektif berharga untuk menghadapi risiko eksistensial yang ditimbulkan oleh AI.
Sartre, dalam "Being and Nothingness," membedakan kesadaran manusia, yang ia sebut sebagai "no-thingness" dengan konsep keberadaan, atau "thingness." Sementara berbagai ahli AI mengusulkan metode berbeda untuk mencapai kecerdasan seperti manusia, filsuf eksistensial menerima ambiguitas seputar keberadaan manusia.
Mereka melihat kurangnya definisi yang tepat sebagai aspek penting dalam memahami kemanusiaan. Para filsuf ini menyadari bahwa kualitas seperti kesadaran dan kreativitas bukan sekadar fungsi yang membedakan manusia dari mesin, melainkan berasal dari kemampuan unik kita untuk mempertanyakan keberadaan kita.
Berbeda dengan makhluk lain, manusia merenungkan kematian dan makna hidup mereka, yang mengarah pada pertanyaan lebih dalam tentang tujuan dan hubungan kita. Bagi filsuf eksistensial, AI tidak menjadi ancaman eksistensial hanya karena potensi untuk memusnahkan umat manusia.
Bahaya sebenarnya terletak pada kemampuan AI untuk memberikan jawaban lebih cepat daripada manusia dapat merumuskan pertanyaan yang diperlukan untuk merenungkan keberadaan mereka. Ketika manusia berhenti mempertanyakan keberadaan mereka, mereka berisiko kehilangan kemanusiaannya.
Sementara filsuf eksistensial menekankan perlunya menangani dimensi eksistensial dari ancaman ini, para ahli AI sering menghindari pertanyaan tersebut dan lebih fokus pada solusi teknis dan regulasi. Inilah sebabnya diskusi tentang AI yang bertanggung jawab dan regulasi mendominasi percakapan, karena bidang ini membutuhkan keahlian teknis di mana para ahli AI sangat dibutuhkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









