Akurat

Kurs Rupiah di Google Tampil Janggal: Pakar Keamanan Siber Soroti Kemungkinan Penyebabnya

Ahada Ramadhana | 1 Februari 2025, 23:32 WIB
Kurs Rupiah di Google Tampil Janggal: Pakar Keamanan Siber Soroti Kemungkinan Penyebabnya

AKURAT.CO Warganet Indonesia dikejutkan dengan informasi kurs dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah (IDR) yang ditampilkan di Google.

Dalam pencarian Google, 1 USD tercatat setara dengan Rp 8.170,65, jauh dari nilai tukar sebenarnya yang berada di kisaran Rp16.304,69, berdasarkan data dari situs xe.com pada pukul 20.49 WIB.

Kesalahan ini menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan banyak netizen berspekulasi bahwa Google mungkin mengambil data kurs dari tahun 2009 karena adanya angka "09" dalam timestamp kurs.

Namun, setelah ditelusuri, timestamp tersebut sebenarnya menunjukkan waktu update terakhir oleh Google, yaitu 1 Februari 2025 pukul 09.17 UTC atau 16.17 WIB.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: Apa penyebab kurs rupiah yang ditampilkan Google menjadi tidak akurat?

Menanggapi hal ini, Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menjelaskan, ada beberapa kemungkinan penyebab kurs yang salah di Google, di antaranya:

Baca Juga: Nusron Wahid Bongkar Alasan di Balik Pemecatan Pegawai Kementerian ATR/BPN

1. Kesalahan Teknis atau Bug dalam Sistem Google

Google mengandalkan algoritma yang menarik data dari berbagai sumber finansial secara otomatis.

Jika terjadi gangguan teknis atau bug dalam sistem tersebut, maka data yang ditampilkan bisa salah atau tidak diperbarui dengan benar.

"Google bukan penyedia data finansial primer, melainkan mengambil data dari berbagai sumber eksternal. Jika ada gangguan dalam sistem mereka, bisa saja informasi yang ditampilkan tidak akurat," jelas Pratama, Sabtu (1/2/2025).

2. Perbedaan Sumber Data

Google mengumpulkan data dari berbagai penyedia kurs valuta asing, termasuk lembaga keuangan, penyedia data ekonomi, dan pasar forex.

Jika terjadi ketidaksesuaian dalam pembaruan data antar sumber, maka nilai tukar yang ditampilkan Google bisa berbeda dari yang ada di situs resmi seperti Bank Indonesia atau xe.com.

Baca Juga: Dugaan Pelanggaran di Balik Kebakaran Glodok Plaza, DPRD DKI Desak Investigasi Diskotek Golden Crown Tiyara

3. Kesalahan Input Data (Human Error)

Dalam sistem berbasis data, kesalahan manusia (human error) dalam memasukkan angka dapat menyebabkan kesalahan besar dalam informasi yang ditampilkan.

Jika angka yang dimasukkan salah dan sistem tidak memiliki mekanisme validasi yang ketat, maka kurs yang ditampilkan bisa sangat jauh dari kenyataan.

4. Kemungkinan Serangan Siber atau Manipulasi Data

Walaupun jarang terjadi, manipulasi sistem akibat peretasan (hacking) tetap menjadi kemungkinan.

Jika ada pihak yang dengan sengaja mengubah data kurs di Google, hal ini bisa menyebabkan disinformasi yang berdampak besar.

"Dalam skenario ekstrem, manipulasi data kurs ini bisa digunakan sebagai bagian dari strategi spekulasi atau disinformasi untuk mengacaukan pasar," tambah Pratama.

Baca Juga: Prediksi Nilai Rata-Rata Rapor SNBP 2025 UNPAD untuk Semua Jurusan

Ketergantungan publik terhadap Google sebagai sumber informasi membuat kesalahan kurs ini bukan sekadar isu teknis biasa.

Banyak pelaku bisnis, investor, hingga wisatawan menggunakan Google sebagai acuan dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Jika kurs yang ditampilkan tidak akurat, maka:

- Pebisnis yang bergantung pada nilai tukar dapat salah dalam menetapkan harga ekspor/impor.
- Wisatawan atau pekerja migran bisa salah dalam menghitung nilai tukar sebelum menukar mata uang.
- Investor yang bertransaksi di pasar valuta asing dapat mengalami kerugian akibat informasi yang salah.

"Google sudah menjadi rujukan utama bagi masyarakat dunia, sehingga mereka harus lebih bertanggung jawab dalam memastikan data yang ditampilkan akurat dan segera diperbaiki jika ada kesalahan," tegas Pratama.

Untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan keputusan finansial, Pratama menyarankan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan Google sebagai satu-satunya referensi kurs mata uang.

Sebagai gantinya, disarankan untuk mengecek kurs rupiah dari sumber resmi dan terpercaya, seperti:

Baca Juga: Rupiah Terbang ke Rp8.170, Pengamat: Aksi Terencana Menggiring Opini

1. Bank Indonesia (https://www.bi.go.id)
2. Bloomberg (https://www.bloomberg.com)
3. Reuters (https://www.reuters.com)
4. OANDA (https://www.oanda.com)
5. XE.com (https://www.xe.com)

Pratama menegaskan, Google perlu memiliki mekanisme validasi yang lebih ketat untuk menghindari kesalahan informasi finansial seperti ini di masa depan.

"Ketika kesalahan kurs sudah terdeteksi dan dilaporkan oleh banyak pengguna, Google harus segera memperbaikinya. Jika tidak, ini bisa dianggap sebagai kelalaian yang berdampak luas," katanya.

Lebih jauh, jika kesalahan kurs ini berlangsung lama, maka Google berpotensi dianggap menyebarkan informasi menyesatkan, yang bisa berdampak pada stabilitas ekonomi dan kepercayaan publik terhadap platform mereka.

Kesalahan kurs rupiah yang ditampilkan Google pada 1 Februari 2025 menimbulkan kegaduhan di kalangan pengguna internet di Indonesia.

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya, mulai dari kesalahan teknis, perbedaan sumber data, human error, hingga potensi manipulasi.

Baca Juga: Pecinta Harley Siap-siap! Indonesia Harley Fest 2025 Bakal Digelar di Bali

Demi mendapatkan informasi yang lebih akurat, masyarakat disarankan untuk mengecek kurs dari sumber resmi seperti Bank Indonesia atau situs keuangan terpercaya lainnya.

Sementara itu, Google harus segera memperbaiki kesalahan ini agar tidak menimbulkan kebingungan dan dampak finansial yang lebih besar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.