Fenomena Teknologi AI: Kawan atau Lawan?

AKURAT.CO - Dalam rangka program Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyelenggarakan webinar mengenai penguatan keterampilan digital masyarakat Indonesia bernama #MakinCakapDigital 2024 untuk segmen komunitas di wilayah Jawa Tengah dengan "Waspada Terhadap Penyalahgunaan Teknologi AI" pada Selasa (19/3/2024).
Kali ini hadir pembicara-pembicara program kegiatan Literasi Digital #MakinCakapDigital di tahun 2024 yang ahli di bidangnya untuk berbagai bidang antara lain Dosen Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang Masruhan Mufid, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Udayana Ni Made Ras Amanda G., dan Staf Pengajar Departemen Ilmu Komunikasi UGM Novi Kurnia.
Adapun komunitas yang ikut serta dalam webinar Selasa (19/3/2024) adalah Sobomaos Solo Raya dan Forum Anak Boyolali dari Jawa Tengah. Pada era digital, individu yang cakap bermedia digital dinilai mampu mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras dan lunak dalam lanskap digital. Termasuk teknologi seperti AI (Artificial Intelligence) atau disebut juga Kecerdasan Buatan yang menjadi fenomena saat ini.
"AI cabang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan teknologi yang dapat melakukan tugas-tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia. Tujuan utama dari AI adalah membuat mesin-mesin komputer dapat melakukan tugas-tugas yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia," kata Masruhan.
Cara kerja AI, meniru kemampuan kognitif manusia seperti berpikir, merencanakan, memecahkan masalah, belajar, dan bahkan bersosialisasi. Teknologi AI terdiri dari berbagai pendekatan, seperti Machine Learning, Natural Language Processing, Computer Vision, Robotics, dan masih banyak lagi.
Contoh penggunaan AI ada pada aplikasi navigasi, pengenalan wajah, pembayaran elektronik, algoritma pencarian, streaming media, dan masih banyak lagi yang saat ini sadar atau tidak sadar digunakan oleh masyarakat Indonesia pada kehidupan sehari-hari.
"AI ini memberi dampak positif dan negatif. Dampak positifnya dapat mengotomatisasi dan efisiensi operasional, peningkatan produktivitas, asisten pribadi dan pemrosesan bahasa alami, serta pengembangan teknologi baru," jelas Masruhan.
Sementara itu, dampak negatif AI membuat kurangnya personalisasi, bias dan diskriminasi, pengangguran massal, ketergantungan pada teknologi, dan mengancam privasi serta keamanan data.
Selain itu, AI juga membuat fenomena copy paste atau menjiplak lebih marak terjadi, membuat hilangnya keterampilan intelektual, hilangnya kreativitas, dan plagiarisme yang terhubung dengan hak cipta.
Oleh karena itu, Amanda mengatakan seseorang butuh etika untuk menyikapi fenomena AI, khususnya dampak negatif dan positif AI untuk kehidupan sehari-hari. "Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas, sesuai dengan kebutuhan, dan selalu edit dan revisi output AI untuk memastikan kualitas,"kata Amanda.
Novi menambahkan, selain etika, cara mencegah penyalahgunaan AI dapat melalui kendali, transparansi, riset dan publikasi, literasi digital, dan regulasi. "Tidak ada yang aman 100 persen di dunia digital tapi kita bisa meminimalisir resiko," kata Novi.
Upaya untuk menyikapi penyalahgunaan AI, menurut Novi, dapat dimulai dari diri sendiri dengan belajar dan beradaptasi, melakukan inovasi, menguasai AI, kreatif memaksimalkan AI, menjadikan AI sebagai teman bukan lawan, dan antisipasi dampak negatif dari AI.
"Penting bagi kita untuk mengembangkan keterampilan kognitif dan kreativitas kita dengan mengembangkan kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara mandiri. Kita juga perlu diberikan pemahaman tentang etika dan hak cipta dalam penggunaan informasi dari sumber luar," pungkas Masruhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









