Tidur Seharian Apakah Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Ulama Paling Lengkap

AKURAT.CO Bulan Ramadhan identik dengan perubahan ritme aktivitas. Sebagian orang justru mengisi siang hari dengan lebih banyak tidur untuk “menghemat energi”. Lalu muncul pertanyaan: jika seseorang tidur seharian penuh saat berpuasa, apakah puasanya batal? Dan bagaimana dengan pahalanya?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan membedakan antara sahnya puasa secara fikih dan kualitas ibadah secara spiritual.
Tidur Tidak Termasuk Pembatal Puasa
Secara hukum fikih, puasa sah apabila seseorang berniat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Allah SWT berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ
“Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Dalam daftar pembatal puasa yang disepakati ulama—seperti makan, minum, dan hubungan suami-istri—tidur tidak termasuk di dalamnya. Karena itu, jika seseorang tidur dari pagi hingga sore tanpa melakukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah.
Mayoritas ulama menyatakan bahwa selama seseorang sudah berniat puasa di malam hari dan tidak melakukan hal yang membatalkan, maka puasanya tetap valid meskipun ia lebih banyak tidur.
Baca Juga: Ronaldo Ikut Berpuasa di Arab Saudi, Alasannya Bikin Haru
Namun, Bagaimana dengan Pahalanya?
Meskipun tidak membatalkan, tidur seharian dapat memengaruhi kualitas pahala. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi ibadah aktif yang membentuk ketakwaan. Allah SWT menegaskan tujuan puasa:
يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Jika seluruh waktu siang dihabiskan untuk tidur tanpa ada upaya memperbanyak ibadah, maka seseorang kehilangan peluang pahala yang besar. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan sedekah, dan bulan peningkatan kualitas spiritual.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Puasa adalah perisai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Perisai ini berfungsi optimal jika disertai kesadaran dan pengendalian diri, bukan sekadar tidur untuk mempercepat waktu berbuka.
Perbedaan Pendapat tentang Tidur Sepanjang Hari
Sebagian ulama membahas kasus ekstrem: jika seseorang tidur terus-menerus sejak sebelum Subuh hingga setelah Maghrib tanpa sadar sama sekali. Dalam mazhab Syafi’i, jika seseorang tidak sadar (misalnya pingsan) sepanjang hari penuh, maka puasanya tidak sah. Namun tidur berbeda dengan pingsan. Orang tidur tetap dalam keadaan hidup normal dan dapat terbangun sewaktu-waktu.
Karena itu, tidur sepanjang hari tidak membatalkan puasa, selama ia masih dalam keadaan sadar (tidak pingsan total) dan telah berniat.
Tidur Bernilai Ibadah?
Ada ungkapan populer bahwa “tidurnya orang puasa adalah ibadah.” Walau maknanya memberi motivasi, para ulama menjelaskan bahwa tidur bernilai ibadah jika diniatkan untuk menjaga stamina agar kuat beribadah. Bukan tidur untuk bermalas-malasan dan menghindari kewajiban.
Jika tidur menyebabkan lalai dari sholat wajib, maka itu jelas berdosa dan merusak nilai puasa.
Baca Juga: Jadwal Buka Puasa Hari Ini di Bandung dan Sekitarnya, 24 Februari 2026 Lengkap dengan Waktu Maghrib
Kesimpulan
Tidur seharian tidak membatalkan puasa secara hukum, selama telah berniat dan tidak melakukan pembatal puasa. Namun dari sisi pahala, tidur berlebihan dapat mengurangi kualitas ibadah dan menyia-nyiakan kesempatan meraih ganjaran besar di bulan Ramadhan. Idealnya, waktu puasa diisi dengan ibadah, produktivitas, dan amal kebaikan.
QnA Seputar Tidur dan Puasa
Apakah tidur dari pagi sampai sore membatalkan puasa?
Tidak membatalkan, selama sudah berniat dan tidak melakukan pembatal puasa.
Apakah pahalanya tetap penuh?
Sah, tetapi bisa berkurang kualitasnya jika seluruh waktu dihabiskan tanpa ibadah.
Bagaimana jika sampai tertinggal sholat karena tidur?
Itu berdosa dan harus segera mengganti sholat yang terlewat.
Apakah boleh tidur untuk menjaga stamina puasa?
Boleh, bahkan bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk memperkuat diri dalam ketaatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










