Perbedaan antara Tahun Baru Hijriah dan Tahun Baru Masehi dalam Islam

AKURAT.CO Pergantian tahun sering dipahami sekadar sebagai perubahan angka kalender. Namun dalam Islam, waktu bukanlah konsep netral tanpa makna. Ia memiliki dimensi teologis, historis, dan spiritual.
Karena itu, pembahasan tentang perbedaan antara Tahun Baru Hijriah dan Tahun Baru Masehi dalam Islam menjadi penting agar umat tidak terjebak pada sekadar rutinitas seremonial, tetapi mampu memahami makna di balik sistem penanggalan yang digunakan.
Tahun Baru Hijriah berakar langsung dari sejarah dan nilai dasar Islam. Penanggalan Hijriah ditetapkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun.
Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi transformasi peradaban, dari penindasan menuju kebebasan beragama, dari minoritas tertekan menuju masyarakat berdaulat.
Allah menegaskan pentingnya hijrah sebagai simbol kesungguhan iman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.
(QS. Al-Baqarah: 218)
Baca Juga: Hukum Adu Virtual Gift dalam Perlombaan, Apakah Termasuk Judi dalam Islam?
Karena itu, Tahun Baru Hijriah memiliki makna spiritual yang kuat. Ia mengingatkan umat Islam pada nilai pengorbanan, perubahan diri, dan komitmen terhadap ajaran Allah. Setiap pergantian tahun Hijriah seharusnya menjadi momentum muhasabah, memperbarui niat, dan memperkuat orientasi hidup menuju ridha Allah.
Dari sisi sistem, kalender Hijriah bersifat lunar, berbasis peredaran bulan. Allah berfirman:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, itu adalah penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji.
(QS. Al-Baqarah: 189)
Ayat ini menunjukkan bahwa kalender Hijriah bukan sekadar alat administrasi, tetapi bagian integral dari ibadah. Penentuan puasa Ramadan, Idulfitri, Iduladha, dan haji semuanya bergantung pada sistem Hijriah.
Berbeda dengan itu, Tahun Baru Masehi bersumber dari tradisi penanggalan Romawi yang kemudian dikaitkan dengan kelahiran Nabi Isa عليه السلام. Kalender Masehi bersifat solar, berbasis peredaran matahari, dan digunakan secara global untuk kepentingan administratif, ekonomi, dan sosial.
Dalam perspektif Islam, penggunaan kalender Masehi dibolehkan sebagai sarana muamalah dan kemudahan hidup, selama tidak disertai pengagungan religius atau ritual keagamaan yang bertentangan dengan akidah.
Islam sendiri mengakui realitas perbedaan sistem waktu. Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ
Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda kebesaran Kami.
(QS. Al-Isra: 12)
Ayat ini menunjukkan bahwa sistem penanggalan pada dasarnya adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang bisa dimanfaatkan manusia sesuai kebutuhannya.
Namun, secara nilai, Tahun Baru Masehi tidak memiliki muatan teologis khusus dalam Islam. Ia tidak menjadi penanda ibadah dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa fundamental dalam sejarah Islam.
Karena itu, Islam tidak menganjurkan perayaan khusus atas Tahun Baru Masehi, terlebih jika diisi dengan hura-hura, pemborosan, atau perbuatan maksiat.
Perbedaan mendasar lainnya terletak pada orientasi makna. Tahun Baru Hijriah mengajak umat untuk berpikir ke dalam, melakukan refleksi iman, dan menata ulang arah hidup.
Sementara Tahun Baru Masehi dalam praktik sosial modern lebih sering dipahami sebagai momen selebrasi eksternal, pesta, dan hiburan. Islam memandang perbedaan ini secara kritis, bukan untuk menolak realitas sosial, tetapi untuk menjaga nilai dan identitas keimanan.
Allah mengingatkan agar umat Islam tidak larut dalam tradisi yang melalaikan:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.
(QS. Al-Hasyr: 19)
Baca Juga: UKM Menwa STAI Nurul Iman Ikuti Diksarmil di Yon Intai Tempur Kostrad Cikarang
Ayat ini relevan sebagai peringatan agar pergantian waktu, apa pun sistemnya, tidak menjauhkan manusia dari kesadaran spiritual.
Dengan demikian, perbedaan antara Tahun Baru Hijriah dan Tahun Baru Masehi dalam Islam tidak terletak pada boleh atau tidaknya menggunakan kalender, melainkan pada makna, orientasi, dan nilai yang dikandungnya.
Tahun Baru Hijriah adalah momen reflektif yang sarat pesan iman dan sejarah Islam, sementara Tahun Baru Masehi bersifat administratif dan sosial tanpa nilai ibadah khusus.
Sikap ideal seorang Muslim adalah memanfaatkan kalender Masehi untuk urusan duniawi secara proporsional, sembari menjadikan kalender Hijriah sebagai penanda spiritual utama. Dengan cara ini, umat Islam dapat hidup adaptif di dunia modern tanpa kehilangan arah, identitas, dan kedalaman makna beragama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









