Akurat

5 Bentuk Penghormatan Imam Syafi’i kepada Gurunya, Nomor Perrtama Bikin Takjub!

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Oktober 2025, 19:31 WIB
5 Bentuk Penghormatan Imam Syafi’i kepada Gurunya, Nomor Perrtama Bikin Takjub!

AKURAT.CO Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, hubungan antara murid dan guru bukan sekadar hubungan akademik, tetapi juga spiritual dan moral.

Salah satu teladan paling agung dalam hal ini adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, pendiri mazhab Syafi’i yang hingga kini menjadi rujukan mayoritas umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

Sikap tawadhu’ (rendah hati) dan penghormatan beliau kepada para gurunya menjadi fondasi bagi etika pendidikan Islam yang penuh adab dan keberkahan.

Imam Syafi’i tumbuh dalam lingkungan ilmu sejak kecil. Ia berguru kepada banyak ulama besar, seperti Imam Malik bin Anas di Madinah, Muslim bin Khalid az-Zanji di Makkah, Sufyan bin ‘Uyainah, dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani di Irak.

Dalam setiap proses belajar, beliau menunjukkan bentuk penghormatan yang begitu mendalam kepada guru-gurunya, hingga menjadi teladan bagi generasi murid sepanjang zaman.

Berikut lima bentuk penghormatan Imam Syafi’i kepada gurunya yang patut diteladani, dan salah satunya jarang diketahui orang.

Pertama, tidak membuka kitab di hadapan guru tanpa izin. Imam Syafi’i dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dan hafalan yang kuat. Namun, dalam majelis ilmu, beliau tetap menjaga tata krama.

Dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i karya al-Baihaqi disebutkan, Imam Syafi’i tidak berani membuka lembaran kitab atau berbicara kecuali setelah mendapatkan isyarat atau izin dari gurunya. Ini menunjukkan adab seorang murid yang tidak hanya fokus pada isi ilmu, tetapi juga pada etika dalam menuntutnya.

Baca Juga: Perbedaan Feodalisme dan Ta’zim Murid kepada Kiai dalam Pesantren

Kedua, memuliakan guru melebihi penghormatan kepada orang tua. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku membuka lembaran di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan, karena aku takut suara lembaran itu mengganggunya.”

Ungkapan ini bukan sekadar simbol kelembutan, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual bahwa keberkahan ilmu datang dari keridhaan guru. Imam Syafi’i memahami bahwa guru adalah perantara yang mengantarkan seseorang kepada cahaya ilmu, sebagaimana orang tua menjadi perantara dalam kehidupan jasmani.

Ketiga, tidak berjalan di depan guru. Banyak orang tidak mengetahui bahwa Imam Syafi’i memiliki kebiasaan unik ketika bersama gurunya: beliau tidak pernah berjalan di depan sang guru, bahkan jika itu di tempat umum.

Ini diceritakan oleh murid-murid beliau, bahwa dalam perjalanan bersama Imam Malik, Imam Syafi’i selalu berjalan di belakang dengan kepala tertunduk, seolah sedang menjaga agar langkahnya tidak melampaui keberkahan ilmu yang beliau hormati.

Inilah bentuk kerendahan hati yang jarang diketahui banyak orang, tetapi memiliki makna mendalam tentang tata krama murid kepada guru.

Keempat, mendoakan guru setiap kali menyebut nama mereka. Dalam setiap majelis ilmu, Imam Syafi’i senantiasa menyebut nama-nama gurunya dengan penuh doa dan penghormatan. Beliau pernah berkata, “Barang siapa yang memuliakan gurunya, maka Allah akan memuliakannya di dunia dan akhirat.”

Sikap ini menunjukkan kesadaran beliau bahwa ilmu tidak hanya diperoleh melalui kecerdasan, tetapi juga keberkahan spiritual yang datang dari hubungan batin antara murid dan guru.

Kelima, menolak duduk di tempat yang lebih tinggi dari gurunya. Dalam tradisi majelis keilmuan, posisi duduk menunjukkan adab dan hierarki moral. Imam Syafi’i selalu menolak duduk di tempat yang sejajar atau lebih tinggi dari gurunya.

Beliau lebih memilih duduk di tempat yang rendah, bahkan di tanah, sebagai simbol kerendahan hati dan pengakuan atas kedudukan ilmu yang dimiliki sang guru. Hal ini memperlihatkan bahwa bagi Imam Syafi’i, ilmu tidak bisa dipisahkan dari adab.

Nilai-nilai yang ditunjukkan Imam Syafi’i ini sangat sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam surah al-Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Ayat ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap ilmu dan orang yang mengajarkannya adalah bagian dari keimanan itu sendiri. Dalam konteks pendidikan Islam, adab kepada guru bukan sekadar formalitas sosial, tetapi manifestasi spiritual dari rasa syukur atas nikmat ilmu.

Tradisi penghormatan seperti yang dicontohkan Imam Syafi’i juga masih terpelihara di pesantren hingga hari ini. Santri yang mencium tangan kiai, tidak duduk lebih tinggi darinya, atau bahkan menundukkan pandangan ketika berbicara, semuanya berakar dari etika yang sama: adab adalah kunci keberkahan ilmu.

Baca Juga: 5 Nilai Pendidikan Profesi Guru yang Disebut dalam Al-Qur’an

Dalam dunia modern yang serba cepat dan cenderung menomorsatukan kecerdasan intelektual, kisah Imam Syafi’i mengingatkan bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan ruhnya. Belajar bukan sekadar mengisi pikiran, tetapi juga membersihkan hati dari kesombongan. Dan penghormatan kepada guru adalah jembatan menuju keberkahan itu.

Maka, dari lima bentuk penghormatan Imam Syafi’i kepada gurunya, kita belajar bahwa ilmu sejati lahir dari hati yang bersih, penuh adab, dan rendah hati di hadapan mereka yang menjadi perantara cahaya ilmu.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.