Akurat

Hormat dan Patuh pada Guru Sangat Berdampak pada Hormatnya Anak pada Orang Tuanya

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Oktober 2025, 19:47 WIB
Hormat dan Patuh pada Guru Sangat Berdampak pada Hormatnya Anak pada Orang Tuanya

AKURAT.CO Dalam pendidikan Islam, adab menempati posisi yang lebih tinggi daripada sekadar penguasaan ilmu. Salah satu pilar utama dari adab itu adalah sikap hormat dan patuh kepada guru.

Menariknya, dalam banyak penelitian dan pengalaman empiris di lingkungan pesantren maupun sekolah berbasis nilai-nilai Islam, ditemukan bahwa anak yang terbiasa menghormati gurunya juga cenderung memiliki sikap hormat yang tinggi kepada orang tuanya.

Ada keterkaitan batin yang kuat antara penghormatan kepada guru dan penghormatan kepada orang tua, karena keduanya berakar pada nilai moral yang sama: pengakuan terhadap otoritas, kasih sayang, dan sumber kebaikan.

Dalam perspektif Islam, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, tetapi pewaris tugas kenabian. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Tirmidzi).

Karena itu, guru memiliki posisi spiritual yang mulia—mereka menjadi wasilah (perantara) bagi manusia untuk mengenal Allah dan kebenaran.

Sedangkan orang tua adalah sebab lahirnya kehidupan dan pengasuhan pertama yang menanamkan nilai kasih sayang. Maka, menghormati guru sesungguhnya merupakan ekstensi dari menghormati orang tua.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam surah al-Isra’ ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Baca Juga: Cara Memahami Tradisi Pesantren di Jawa Perspektif Clifford Geertz, agar Tidak Salah Paham

Ayat ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada orang tua merupakan bagian dari perintah ketuhanan yang langsung. Namun dalam tradisi Islam, terutama dalam dunia pendidikan klasik, adab kepada guru selalu ditempatkan berdekatan dengan perintah berbakti kepada orang tua.

Al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menjelaskan bahwa murid wajib memuliakan gurunya sebagaimana ia memuliakan kedua orang tuanya, bahkan dalam konteks tertentu, ketaatan kepada guru dalam perkara ilmu lebih diutamakan, sebab guru yang membimbingnya menuju keselamatan akhirat.

Keterkaitan ini membentuk pola pendidikan emosional dan spiritual yang dalam. Seorang anak yang sejak dini dididik untuk menghargai otoritas moral gurunya akan belajar bagaimana menundukkan egonya, bersabar, dan taat pada petunjuk.

Nilai-nilai ini sama persis dengan yang dibutuhkan untuk menghormati orang tua di rumah. Anak yang terbiasa menyapa gurunya dengan sopan, mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, atau meminta izin sebelum bertindak, pada dasarnya sedang melatih dirinya untuk beradab kepada otoritas lain dalam hidupnya — yaitu orang tua.

Sebaliknya, krisis adab terhadap guru sering menjadi cerminan krisis penghormatan terhadap orang tua. Fenomena anak-anak modern yang berani membantah atau memperlakukan gurunya secara tidak sopan, pada dasarnya berakar dari lemahnya nilai penghormatan yang seharusnya juga ditumbuhkan di rumah.

Inilah yang membuat lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren, menempatkan penghormatan terhadap guru sebagai bagian inti dari kurikulum moral.

Di pesantren, santri belajar bahwa mendengarkan nasihat guru, bersabar terhadap teguran, dan menjaga sopan santun bukan sekadar etika sosial, melainkan latihan rohani yang akan membentuk karakternya di masa depan.

Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan luar biasa dalam menghormati orang yang lebih berilmu. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda: “Bukan dari golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak menempatkan ulama pada posisinya.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada guru dan orang tua merupakan bagian dari sistem moral Islam yang saling terkait: menghargai sumber kebaikan, baik dalam wujud kasih sayang orang tua maupun ilmu pengetahuan dari guru.

Secara psikologis, ada penjelasan logis di balik hubungan ini. Anak yang diajarkan untuk menghormati guru sedang menginternalisasi nilai respek terhadap figur otoritas yang mengatur kehidupannya. Ia belajar disiplin, kesabaran, dan tanggung jawab melalui hubungan dengan guru.

Nilai-nilai itu kemudian terbawa ke rumah, membentuk pola perilaku yang lebih sopan dan penuh empati kepada orang tua. Maka, pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam hubungan antar generasi di rumah.

Baca Juga: 5 Bentuk Penghormatan Imam Syafi’i kepada Gurunya, Nomor Perrtama Bikin Takjub!

Di pesantren, misalnya, banyak kiai yang menanamkan prinsip bahwa keberkahan hidup dimulai dari adab. Seorang santri yang menundukkan pandangan di depan gurunya, mencium tangan sebelum belajar, atau menerima hukuman dengan sabar bukanlah bentuk ketertindasan, melainkan latihan batin untuk menaklukkan ego.

Setelah kembali ke rumah, santri yang demikian cenderung lebih lembut dan hormat kepada ayah-ibunya. Itulah sebabnya, keluarga yang memiliki anak berlatih adab di pesantren sering merasa bahwa anak mereka menjadi lebih sopan dan berbakti.

Hubungan antara penghormatan kepada guru dan orang tua sebenarnya bersifat dua arah. Guru yang baik akan selalu menasihati muridnya untuk berbakti kepada orang tua. Sebaliknya, orang tua yang memahami nilai pendidikan Islam akan mendukung anaknya untuk menghormati guru.

Dalam sistem nilai Islam, tidak ada jarak antara rumah dan sekolah dalam urusan moral: keduanya membentuk satu ekosistem adab yang menumbuhkan manusia berkarakter.

Dengan demikian, hormat dan patuh kepada guru bukan hanya menunjukkan kesalehan intelektual, tetapi juga menjadi fondasi kesalehan sosial dan keluarga. Anak yang terbiasa menghormati guru akan tumbuh menjadi pribadi yang tahu diri, mampu menempatkan orang lain pada posisinya, dan memahami pentingnya kasih sayang dalam relasi manusia.

Sebaliknya, kehilangan rasa hormat kepada guru berarti kehilangan arah dalam menghormati orang tua, karena akar keduanya bersumber dari nilai yang sama: tawadhu’ dan pengakuan terhadap kasih sayang yang menumbuhkan.

Dalam dunia yang semakin menyanjung kebebasan individu dan mengikis otoritas moral, pelajaran ini menjadi semakin penting. Adab kepada guru bukan hanya warisan masa lalu, tetapi fondasi peradaban masa depan.

Sebab dari sikap hormat itulah tumbuh generasi yang mampu menghargai orang tua, menjaga hubungan sosial, dan menjadikan ilmu sebagai cahaya, bukan sekadar alat.

Ketika anak menghormati gurunya, sejatinya ia sedang belajar bagaimana menghormati kehidupan itu sendiri — termasuk orang tua yang menjadi awal dari seluruh kasih dan kebaikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.