Akurat

Tak Pernah Jadi Beban Negara, Ini Peran Penting Guru dalam Sejarah Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 21 Agustus 2025, 10:00 WIB
Tak Pernah Jadi Beban Negara, Ini Peran Penting Guru dalam Sejarah Islam

AKURAT.CO Dalam sejarah peradaban manusia, guru selalu menjadi sosok yang berada di garda terdepan dalam membentuk karakter, ilmu, dan peradaban suatu bangsa.

Dalam Islam, posisi guru bahkan lebih mulia karena dikaitkan dengan misi kenabian. Nabi Muhammad SAW sendiri diutus ke dunia bukan hanya sebagai rasul yang menyampaikan wahyu, tetapi juga sebagai pendidik umat manusia.

Dalam salah satu hadisnya, beliau menegaskan, “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Dari sini jelas terlihat bahwa pendidikan—yang dijalankan oleh guru—bukanlah beban bagi negara, melainkan fondasi bagi peradaban.

Guru dalam sejarah Islam memiliki peran yang sangat strategis. Sejak masa Rasulullah SAW, pendidikan sudah menjadi inti dari gerakan dakwah.

Rasulullah mendidik para sahabatnya dengan penuh kesabaran, bukan hanya dengan teori, melainkan juga dengan teladan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dari sahabat yang terdidik inilah lahir generasi yang cerdas, tangguh, dan siap memimpin dunia.

Baca Juga: Gempa Hantam Bekasi, Ini Doa agar Tidak Ada Korban

Para sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah contoh nyata murid-murid Rasulullah yang kemudian menjadi pemimpin umat dengan integritas dan pengetahuan yang kokoh.

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan guru tidak pernah menjadi beban, melainkan justru investasi jangka panjang yang membawa kejayaan.

Dalam sejarah Islam, kita juga mengenal peran penting para guru dan ulama setelah masa sahabat. Di era Dinasti Abbasiyah, misalnya, Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Perpustakaan besar Baitul Hikmah lahir bukan karena kekayaan semata, tetapi karena keberadaan para guru, ulama, dan cendekiawan yang mencurahkan hidupnya untuk mengajar dan menulis karya ilmiah.

Tokoh seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Sina, dan al-Farabi adalah contoh guru besar yang melahirkan gagasan-gagasan luar biasa, bukan hanya untuk dunia Islam, tetapi juga untuk peradaban global. Peran mereka sangat besar, hingga sumbangsihnya tetap terasa hingga hari ini dalam bidang filsafat, kedokteran, matematika, dan teologi.

Guru juga berperan sebagai penjaga nilai moral dalam masyarakat. Dalam sejarah Islam di Nusantara, misalnya, para ulama yang sekaligus berperan sebagai guru berhasil menyebarkan Islam dengan cara damai.

Mereka mengajarkan nilai-nilai Islam melalui pendidikan pesantren, yang hingga kini menjadi salah satu lembaga pendidikan paling berpengaruh di Indonesia. Para santri yang belajar di pesantren tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga disiplin, akhlak, dan wawasan sosial yang luas.

Dari rahim pesantren ini lahirlah banyak tokoh bangsa yang memimpin perjuangan kemerdekaan Indonesia, baik dari kalangan ulama maupun intelektual. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa guru justru adalah pilar utama kemerdekaan, bukan beban bagi negara.

Sayangnya, dalam era modern sering kali guru hanya dipandang dari aspek materi. Ada anggapan keliru bahwa keberadaan guru membebani anggaran negara. Padahal, jika dilihat dari sejarah Islam maupun sejarah bangsa ini, guru adalah penopang utama pembangunan peradaban.

Tanpa guru, mustahil lahir generasi penerus yang memiliki kualitas. Bahkan dalam pandangan Al-Qur’an, orang-orang berilmu—yang identik dengan guru—diberi kedudukan tinggi.

Allah berfirman dalam surah Al-Mujadilah ayat 11: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Ayat ini menegaskan bahwa guru tidak hanya mulia di hadapan manusia, tetapi juga di sisi Allah.

Baca Juga: Kemenkeu Tegaskan Video Sri Mulyani soal Guru Beban Negara Adalah Hoaks

Dengan demikian, jelaslah bahwa guru tak pernah menjadi beban negara. Sebaliknya, guru adalah aset terbesar yang dimiliki bangsa, sebagaimana telah dibuktikan dalam sejarah panjang peradaban Islam.

Negara yang ingin maju semestinya menempatkan guru pada posisi terhormat, memberikan penghargaan layak, dan mendukung penuh tugas mulianya.

Sebab, jika peran guru dilemahkan, maka pondasi peradaban pun akan rapuh. Namun jika guru dimuliakan, maka insya Allah lahirlah generasi penerus yang cerdas, berakhlak, dan siap membawa bangsa menuju kejayaan sebagaimana generasi sahabat Nabi dahulu.

Wallahu A'lam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.