Akurat

5 Tips Mediasi agar Sukses dan Membuahkan Hasil dalam Perspektif Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 14 Oktober 2025, 06:30 WIB
5 Tips Mediasi agar Sukses dan Membuahkan Hasil dalam Perspektif Islam

AKURAT.CO Dalam kehidupan sosial, konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari. Baik dalam urusan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat, perbedaan pendapat seringkali menimbulkan ketegangan. Islam tidak menolak kenyataan itu, namun menawarkan solusi damai melalui mediasi (ash-shulh).

Dalam Islam, mediasi bukan hanya alat sosial untuk menyelesaikan sengketa, tetapi juga bentuk ibadah karena tujuannya adalah menghadirkan kedamaian dan keadilan.

Agar mediasi berjalan efektif dan menghasilkan kesepakatan yang diridhai Allah, terdapat beberapa prinsip dan tips penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, niat yang tulus karena Allah. Setiap proses mediasi harus dilandasi niat yang murni untuk memperbaiki hubungan, bukan mencari keuntungan pribadi atau membela salah satu pihak.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan niat yang lurus, mediator akan bersikap objektif, dan para pihak akan terbuka untuk berdamai.

Baca Juga: Apa Itu Mediasi dan Urgensinya dalam Perspektif Islam?

Kedua, bersikap adil dan netral. Seorang mediator dalam Islam wajib menjaga keadilan dan tidak berpihak kepada salah satu pihak. Al-Qur’an menegaskan dalam Surah An-Nisa ayat 135:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.”

Ayat ini menjadi fondasi moral bagi setiap mediator agar tidak condong karena tekanan, hubungan, atau kepentingan duniawi.

Ketiga, gunakan pendekatan hikmah dan kelembutan. Mediasi akan gagal jika disertai emosi dan sikap memaksa. Islam menganjurkan penyampaian nasihat dengan cara yang lembut dan penuh kebijaksanaan sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 125:


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
Pendekatan yang lembut menciptakan suasana saling menghormati dan membuka jalan bagi hati yang tertutup oleh ego.

Keempat, kedepankan prinsip win-win solution. Islam mengajarkan bahwa perdamaian harus memberi manfaat bagi semua pihak tanpa menzalimi satu sama lain.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 224 disebutkan, “Dan janganlah kamu jadikan (nama) Allah sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa, dan mendamaikan manusia.” Artinya, setiap kesepakatan harus menumbuhkan kebaikan bersama dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai syariat.

Kelima, tutup mediasi dengan doa dan komitmen moral. Setelah kesepakatan dicapai, para pihak hendaknya berdoa bersama agar perdamaian yang lahir bukan hanya formalitas, tetapi juga membawa ketenangan batin. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mendamaikan manusia dan membenci perpecahan.

Baca Juga: 5 Tips Bijak Memanfaatkan Momen Harga Emas Antam Logam Mulia dalam Islam

Dengan menerapkan lima prinsip ini, mediasi bukan sekadar proses negosiasi, melainkan sarana spiritual untuk menegakkan nilai ukhuwah, keadilan, dan kasih sayang.

Dalam pandangan Islam, keberhasilan mediasi tidak hanya diukur dari kesepakatan yang dicapai, tetapi juga dari seberapa besar kedamaian dan rahmat Allah hadir dalam hati para pihak yang berdamai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.