Akurat

Fenomena 5 Agustus sebagai Hari Terpendek, Ini 5 Orang yang Merugi karena Waktu dalam Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 5 Agustus 2025, 07:45 WIB
Fenomena 5 Agustus sebagai Hari Terpendek, Ini 5 Orang yang Merugi karena Waktu dalam Islam

AKURAT.CO Tanggal 5 Agustus 2025 dicatat sebagai salah satu hari terpendek dalam sejarah pencatatan waktu modern. Percepatan rotasi bumi membuat hari itu lebih cepat sekitar 1,25 milidetik dari durasi normal 24 jam.

Meski secara teknis perbedaannya hampir tak terasa, fenomena ini memicu refleksi spiritual yang mendalam. Dalam Islam, waktu bukan hanya dimensi fisik, melainkan anugerah sakral yang menentukan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.

Melalui ayat dan hadis, Islam menggambarkan bahwa waktu adalah salah satu nikmat terbesar, sekaligus salah satu ujian paling berat. Maka pertanyaan pentingnya adalah: siapa saja yang disebut oleh Islam sebagai orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu?

Berikut ini adalah lima tipe orang yang disebut dalam ajaran Islam sebagai "orang-orang yang merugi karena waktu":

1. Orang yang Menunda Taubat

Waktu adalah ruang kesempatan untuk memperbaiki diri. Orang yang terus-menerus menunda taubat padahal sadar akan dosa-dosanya, disebut sebagai orang yang merugi. Dalam Surah Al-Hadid ayat 16, Allah memperingatkan:

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?"

Fenomena percepatan waktu menjadi isyarat bahwa kesempatan taubat bisa semakin sempit. Jika hari saja bisa dipangkas sepersekian milidetik, bagaimana kita menjamin bahwa esok masih tersedia waktu untuk berubah?

Baca Juga: 5 Agustus 2025 Jadi Hari Terpendek, Ini Penjelasan Fenomenanya

2. Orang yang Lalai dalam Ibadah Wajib

Waktu dalam Islam ditandai secara ketat oleh ibadah. Shalat, misalnya, dibatasi oleh waktu-waktu tertentu. Orang yang sengaja melalaikan atau menunda-nunda shalat hingga keluar dari waktunya telah kehilangan momen suci yang tak tergantikan.

Rasulullah SAW bersabda:
"Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka beruntunglah ia. Jika buruk, maka rugilah ia." (HR. Tirmidzi)

Mereka yang menyia-nyiakan waktu shalat bukan hanya kehilangan pahala, tetapi kehilangan jalinan spiritual yang menopang seluruh aspek kehidupan.

3. Orang yang Sibuk dengan Hal Tak Berguna

Islam sangat menekankan efisiensi waktu. Bahkan kesibukan yang tidak produktif secara spiritual dianggap sebagai bentuk kerugian. Dalam Surah Al-Mu’minun ayat 3, Allah menyebutkan salah satu ciri orang beriman adalah:

"Dan mereka yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna."

Scrolling media sosial tanpa arah, menghabiskan waktu dalam ghibah, atau mengejar kesenangan tanpa nilai — semua itu adalah pemborosan waktu yang dalam timbangan akhirat bisa sangat mahal.

4. Orang yang Tidak Menjadi Lebih Baik dari Hari Sebelumnya

Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Barang siapa yang harinya sekarang tidak lebih baik dari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi." (HR. Al-Hakim)

Prinsip ini mengajarkan bahwa waktu bukan hanya untuk "dilewati", tetapi untuk ditingkatkan. Setiap hari harus menjadi upgrade spiritual dan moral. Maka, orang yang stagnan — apalagi mundur — dalam iman dan amal, tergolong dalam golongan yang merugi meski ia sehat dan punya banyak waktu luang.

5. Orang yang Menyia-nyiakan Masa Muda

Usia muda adalah waktu emas dalam hidup manusia. Dalam hadis Nabi disebutkan bahwa di akhirat, seseorang akan ditanya empat hal, dan dua di antaranya menyangkut waktu: “tentang usianya untuk apa ia habiskan, dan tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi)

Masa muda adalah momen dengan energi, peluang, dan potensi terbaik. Orang yang menggunakannya hanya untuk foya-foya atau kesia-siaan akan merugi dua kali lipat. Sebab mereka menyia-nyiakan waktu ketika kondisi mereka sedang optimal.

Refleksi dari Hari Terpendek

Kita mungkin tidak bisa merasakan secara fisik perubahan hari yang lebih pendek satu milidetik. Namun dalam kaca mata iman, itu cukup menjadi pengingat bahwa waktu terus bergerak — cepat atau lambat — dan kita tidak pernah bisa memutarnya kembali.

Surah Al-‘Asr menyimpulkan esensi ini secara sangat tegas:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran."

Dengan menyadari siapa saja yang disebut "merugi karena waktu", kita bisa lebih waspada. Jangan tunggu waktu habis, apalagi menunggu dunia memberi sinyal bahaya besar. Bisa jadi, milidetik yang kita abaikan hari ini adalah bagian dari hisab yang menentukan esok kita di akhirat.

Baca Juga: 30 Ide Lomba 17 Agustus Paling Seru dan Antimainstream, Cek di Sini!

Fenomena 5 Agustus sebagai hari terpendek seharusnya tidak hanya membuat kita terpukau secara sains, tapi juga gelisah secara iman. Ia adalah alarm halus dari langit bahwa waktu tak akan menunggu siapa pun.

Maka, sebelum hari-hari semakin pendek — secara teknis maupun spiritual — pastikan kita bukan bagian dari lima orang yang disebut Islam sebagai yang paling merugi karena waktu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.