Keistimewaan Bulan Safar dalam Al-Qur'an dan Hadis

AKURAT.CO Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah yang selama ini kerap diselimuti oleh berbagai pandangan miring. Banyak masyarakat, terutama di kawasan Asia Tenggara, masih meyakini bahwa bulan ini merupakan bulan sial, penuh bala, atau waktu yang tidak baik untuk memulai sesuatu.
Pandangan ini—meski sudah banyak diluruskan oleh para ulama—tetap melekat dalam budaya masyarakat, bahkan mengakar menjadi keyakinan turun-temurun. Namun, bagaimana sebenarnya posisi bulan Safar dalam pandangan Islam?
Apakah benar bulan ini memang membawa kesialan? Ataukah sebaliknya, ada keistimewaan tertentu yang terkandung di dalamnya sebagaimana bulan-bulan lainnya dalam kalender hijriyah?
Untuk menjawab itu, kita perlu merujuk langsung pada Al-Qur'an dan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Dengan pendekatan ilmiah dan narasi yang mendalam, artikel ini akan menggali bagaimana posisi bulan Safar dalam perspektif wahyu dan sunnah yang otoritatif.
Bulan-bulan dalam Al-Qur’an: Tidak Ada yang Buruk
Al-Qur’an dengan sangat jelas menyebutkan jumlah bulan dalam setahun dan menetapkannya sebagai ciptaan Allah yang memiliki fungsi dan nilai yang seimbang.
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh bulan adalah ciptaan Allah, termasuk bulan Safar. Tidak ada satu pun yang disebut sebagai bulan sial atau bulan yang membawa kesialan. Bahkan dalam ayat ini, Allah menyebut bahwa dari dua belas bulan, ada empat yang dimuliakan (disebut sebagai asyhur hurum)—namun tidak satu pun bulan disebut sebagai tercela atau patut dihindari.
Baca Juga: Konflik Thailand-Kamboja Memanas: Apa Dampaknya Bagi Indonesia?
Pelurusan Nabi terhadap Mitos Bulan Safar
Dalam berbagai hadis, Nabi Muhammad SAW sangat tegas meluruskan keyakinan jahiliah yang menyandarkan bala atau kesialan kepada waktu-waktu tertentu. Salah satunya adalah bulan Safar.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ»
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (merasa sial karena sesuatu), tidak ada (keyakinan) hama, dan tidak ada (kesialan karena) bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merupakan tamparan telak terhadap kepercayaan yang menganggap bulan Safar adalah bulan sial. Nabi menyebut langsung kata "ṣafar" sebagai bagian dari keyakinan yang harus ditinggalkan.
Dalam penjelasan para ulama, disebutkan bahwa masyarakat Arab jahiliah dahulu percaya bahwa pada bulan Safar, bala dan kesialan diturunkan secara acak, sehingga mereka takut menikah, berdagang, atau memulai aktivitas penting di bulan tersebut.
Rasulullah SAW, melalui hadis ini, ingin memutus kepercayaan tersebut dan membebaskan umat Islam dari kungkungan mitos. Beliau menanamkan keyakinan bahwa takdir baik dan buruk semata-mata adalah ketetapan Allah, bukan karena waktu tertentu.
Safar Bukan Bulan Sial, Justru Waktu Dakwah
Dalam sirah Nabawiyyah, kita mendapati bahwa bulan Safar tidak dihindari oleh Nabi dan para sahabatnya. Bahkan, pada bulan ini, Rasulullah SAW tetap melakukan kegiatan penting seperti berdakwah, mengutus delegasi, dan berperang jika memang dibutuhkan.
Contoh yang mencolok adalah diutusnya para sahabat untuk menyampaikan dakwah Islam ke berbagai kabilah dan wilayah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa peristiwa Bi’tsatu al-Murshilīn (pengutusan para dai) ke Najd, Bani ‘Āmir, dan suku-suku lainnya terjadi pada bulan Safar.
Tidak hanya itu, pada bulan Safar tahun ke-4 Hijriyah, terjadi peristiwa bersejarah bernama Peristiwa Ar-Raji’, di mana sekelompok sahabat Nabi diutus untuk mengajarkan Islam dan akhirnya gugur sebagai syuhada. Peristiwa ini menunjukkan bahwa bulan Safar adalah bulan perjuangan, bukan bulan kesialan.
Menimbang Tradisi, Menolak Takhayyul
Di Indonesia, masih berkembang mitos bahwa bulan Safar adalah waktu turunnya bala, sehingga perlu “dibersihkan” melalui tradisi seperti “mandi Safar” atau “tolak bala Safar.” Dalam konteks budaya, tradisi ini sering dibungkus dengan kegiatan keagamaan. Namun, secara substansial, jika niatnya meyakini bahwa Safar itu memang mengandung kesialan, maka praktik tersebut perlu diluruskan.
Islam mengajarkan agar umatnya bersikap kritis terhadap takhayul dan khurafat. Keyakinan bahwa bulan tertentu membawa nasib buruk adalah bentuk syirik kecil (syirik khafi) karena menisbahkan kekuatan kepada sesuatu selain Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ عَنْ حَاجَتِهِ فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barang siapa yang tidak jadi melaksanakan keperluannya karena merasa sial (thiyarah), maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Makna Positif Bulan Safar: Momentum Edukasi dan Pembaruan
Bulan Safar seharusnya dijadikan momentum untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya meninggalkan keyakinan jahiliah dan takhayul. Umat Islam perlu memahami bahwa waktu adalah ciptaan Allah, yang bisa digunakan untuk hal-hal positif. Jika ada kejadian buruk di bulan Safar, itu bukan karena bulannya, tetapi karena takdir Allah dan mungkin kelalaian manusia sendiri.
Maka, daripada terjebak dalam mitos, umat Islam bisa menjadikan bulan Safar sebagai waktu untuk memulai hal baik: memulai usaha, menikah, hijrah, atau belajar hal baru. Justru dengan mengisi bulan ini dengan aktivitas yang bernilai, kita sedang meruntuhkan dinding-dinding mitos yang telah lama membelenggu.
Baca Juga: 5 Mitos Seputar Bulan Safar, Nomor 3 Salah Kaprah!
Meluruskan yang Bengkok
Keistimewaan bulan Safar dalam Islam bukan terletak pada mitos atau anggapan negatif, tetapi justru pada pelurusan konsep waktu sebagai ciptaan Allah yang netral dan penuh potensi kebaikan. Al-Qur’an tidak membedakan Safar dari bulan lainnya, dan hadis Nabi SAW secara eksplisit membantah anggapan kesialan terhadap bulan ini.
Dengan membebaskan diri dari keyakinan lama yang tidak berdasar wahyu, umat Islam diajak untuk mengisi setiap waktu, termasuk bulan Safar, dengan produktivitas, ketakwaan, dan semangat pembaruan. Bulan Safar bukan bulan sial, melainkan peluang emas untuk membuktikan bahwa iman lebih kuat dari mitos.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









