Mengenal Madin, Madrasah Tempat Anak-anak Mengaji, Mengenal 'Alif-Ba-Ta-Tsa'

AKURAT.CO Dalam kesibukan zaman yang terus melaju cepat, masih banyak sudut-sudut desa di Indonesia yang setiap sore dipenuhi suara anak-anak melantunkan huruf-huruf hijaiyah.
Tempat mereka belajar itu disebut madrasah diniyah, atau yang lebih akrab disingkat sebagai madin.
Madin bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga ruang kultural yang membentuk karakter religius masyarakat muslim Indonesia sejak usia dini.
Secara sederhana, madin adalah lembaga pendidikan Islam nonformal yang mengajarkan dasar-dasar ajaran Islam kepada anak-anak usia sekolah.
Fokusnya bukan pada mata pelajaran umum, melainkan pada pelajaran agama seperti membaca Al-Qur’an, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, hingga hafalan doa-doa harian.
Pelajaran dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah, seperti alif, ba, ta, tsa—sebuah tahapan fundamental yang menjadi gerbang anak-anak menuju pemahaman keislaman yang lebih luas.
Baca Juga: Guru Madin di Demak Diminta Rp 25 Juta Usai Tampar Murid, Ini Kronologinya
Secara historis, madin muncul sebagai bagian dari sistem pendidikan tradisional pesantren. Berbeda dengan sekolah formal, madin tidak memiliki sistem ijazah atau ujian nasional.
Namun, keberadaannya sangat vital. Ia menjadi pelengkap dari pendidikan formal dan menjadi benteng awal pembentukan akhlak dan tradisi keagamaan anak-anak muslim.
Dalam banyak komunitas, madin menjadi tempat anak-anak belajar sebelum atau sesudah sekolah umum.
Sistem belajarnya sederhana. Anak-anak duduk bersila beralaskan tikar atau karpet, kitab kuning atau buku Iqra di tangan, sementara guru duduk di depan mereka sambil membimbing satu per satu.
Tidak ada fasilitas mewah, tidak ada teknologi canggih, tetapi yang hadir adalah kehangatan, kesabaran, dan ketulusan.
Sosiolog Islam Azyumardi Azra dalam beberapa tulisannya pernah menyebut bahwa sistem pendidikan Islam tradisional, termasuk madrasah diniyah, berperan penting dalam membangun “Islam santun” di Indonesia.
Di sinilah nilai-nilai kesederhanaan, kedisiplinan, penghormatan terhadap guru, dan kebiasaan beribadah secara teratur mulai ditanamkan.
Meski begitu, tantangan madin tidak sedikit. Minimnya insentif untuk para guru, kurangnya fasilitas, serta kurangnya perhatian dari kebijakan pendidikan nasional membuat madin harus bertahan dengan segala keterbatasannya.
Banyak guru madin yang hanya menerima honor puluhan hingga ratusan ribu rupiah per bulan. Namun, pengabdian mereka tetap berjalan. Bukan karena upah, tetapi karena niat lillahi ta‘ala.
Di sisi lain, madin juga berperan dalam menjaga warisan literasi Islam klasik. Kitab-kitab seperti Safinatun Najah, Tijan ad-Daruri, hingga Ta‘limul Muta‘allim masih diajarkan di banyak madin. Ini menjadi jembatan antara generasi muda dengan tradisi keilmuan Islam yang telah berusia ratusan tahun.
Anak-anak yang belajar di madin biasanya diajari tahapan-tahapan dasar membaca Al-Qur’an. Dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah seperti alif, ba, ta, tsa.
Proses ini tidak sekadar menghafal, tetapi juga melatih pelafalan dan penghayatan. Inilah tahap awal dari sebuah perjalanan spiritual yang panjang. Sebab, mengenal huruf-huruf Al-Qur’an bukan sekadar latihan lidah, tetapi juga latihan jiwa.
Kini, beberapa daerah telah mulai mengembangkan sistem pelaporan dan manajemen madin secara digital, namun esensinya tetap sama: madin adalah rumah pertama bagi banyak anak muslim mengenal Allah, mengenal Rasulullah, dan memahami dasar-dasar hidup sebagai seorang muslim.
Madin tidak hanya menghasilkan anak-anak yang bisa membaca Al-Qur’an, tetapi juga membentuk pribadi yang tahu adab, mengenal etika sosial, dan terbiasa dengan semangat kebersamaan.
Dalam konteks pendidikan karakter, madin bisa dikatakan sebagai salah satu fondasi yang sangat penting dan tidak tergantikan, terutama di masyarakat pedesaan.
Ke depan, madin memerlukan perhatian lebih, tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari masyarakat luas. Memberikan dukungan kepada madin bukan hanya investasi pendidikan, tetapi juga investasi peradaban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









